Konser 2,5 jam, 30 lagu yang sangat memikat dari band punk rock terbesar di dunia saat ini.
“It`s something unpredictable, but in the end it`s right. I hope you had the time of your life…”
Ketika Billie Joe sendirian dengan gitar akustiknya menyanyikan nomor balada “Good Riddance” sebagai encore, puluhan ribu penonton yang memadati Singapore Indoor Stadium sepertinya setuju 100%. Konser Green Day Kamis malam itu adalah salah satu momen orgasmik terbaik dalam hidup mereka masing-masing, setidaknya hingga malam itu.
Sebelumnya, selama lebih kurang dua setengah jam, Billie Joe, Mike Dirnt, Tre Cool menghajar penonton Singapura dengan sebuah paket tontonan memikat yang super-komplet. Gabungan antara parade hits, cover songs, ledakan, gimmick cerdas, interaksi yang tulus, tata cahaya menawan, dua kali encore hingga sederetan rayuan gombal (“Singapore, louder than America!”).
Sebuah sajian yang niscaya membuat Anda paham mengapa akhirnya Green Day secara aklamasi terpilih sebagai band punk rock terbesar di dunia saat ini (untuk sepanjang masa tetap The Clash, Ramones, Sex Pistols).
Total sebanyak 30 lagu mereka mainkan malam itu, termasuk beberapa cover pendek dari Black Sabbath (“Iron Man”, “Paranoid”), AC/DC (“Highway To Hell”) dan Billie Joe medley meracau Elvis Presley (“Love Me Tender”), Rolling Stones (“Satisfaction”) hingga The Beatles (“Hey Jude”).
Stereotip penonton konser Singapura yang terkenal pasif dan dingin bagai robot, seperti dibilang seorang perempuan punk rock keren saat bertemu di jalan menuju venue, pupus sudah. Green Day sesaat berhasil menyulap mereka menjadi makhluk-makhluk yang ekspresif (terlepas dari banyaknya juga penonton Indonesia). Atau minimal mereka mampu bersikap begitu ketika Green Day berada di sekitar mereka.
Membuka konser dengan rentetan sepuluh lagu yang diambil dari dua album terakhir (21st Century Breakdown dan American Idiot) jelas bukan pilihan yang populer karena sangat riskan penggemar lama seperti teralienasi dan terjebak dalam konser yang membosankan. Namun hebatnya ini tidak terjadi sama sekali di konser Green Day. Seperti tagline Hard Rock Café: Green Day loves all, serves all!
Sejak nomor “21st Century Breakdown” (sempat terjadi insiden di tengah lagu, mendadak Billie Joe menghentikan konser karena barikade besi di bibir panggung jebol) hingga balada “Boulevard of Broken Dreams” terlihat Green Day bagai menyiram ratusan jerigen bensin ke ribuan penonton. Sontak saja mereka yang awalnya duduk anteng-tertib di tribun sebagian langsung berdiri dan menghambur ke pagar, pihak keamanan pun sempat kewalahan menghalau mereka kembali ke tempat duduk. Namun sayangnya di babak pertama ini sistem tata suara masih belum maksimal, suara bas Mike Dirnt hampir tidak terdengar.
Sedikitnya lima orang penggemar menjadi lucky bastards malam itu karena direkrut Billie Joe ke atas panggung, entah untuk bernyanyi, berdansa, bermain atau menjadi rockstar dalam lima menit. Dan semuanya terkesan simbolik, penggemar yang naik ke atas panggung terdiri dari multi-ras: Melayu berambut hijau, India bersorban pink hingga remaja perempuan Cina. Green Day sepertinya paham konteks lokal Singapura dan mampu mengubahnya menjadi sebuah gimmick yang menarik sekaligus simpatik.
Sinyalemen penggemar lama segera dimanjakan hadir bersamaan dengan berubahnya backdrop raksasa logo Green Day kembali ke era Dookie. “Burnout” menjadi nomor pilihan di babak kedua ini. Penonton pun histeris. Maju sedikit ke era Nimrod dengan “Hitchin` a Ride” yang sempat hit di tahun 1997, Billie Joe melepas gitarnya di belakang panggung dan kembali dengan senjata air. Ia tarik seorang penggemar ke atas panggung untuk menembakkannya ke arah penonton sementara ia sendiri memegang tongkat ajaib peluncur tisu gulung. Seperti berkata, “Hey, kalian basah, kini sambut tisunya.”
Setelah “membasahi” penonton, ia pun membagi-bagikan kaos dengan bazooka uniknya yang sanggup melontarkan kaos dari panggung hingga tribun paling belakang stadion. Atraksi ini spontan menguncang decak kagum para penonton. Namun salah satu gimmick simpatik dan menjadi highlight adalah saat Billie menarik penggemar berwajah Melayu berambut hijau ke atas panggung dan memintanya menjadi vokalis untuk lagu “Welcome to Paradise”, dengan Green Day sebagai band pengiring!
Sekilas anak ini tampak meragukan dan ribuan penonton siap mencemoohnya namun hanya perlu satu anggukan penyemangat dari Billie Joe maka semua hal pun beres, termasuk rasa percaya diri anak tersebut. Ia sukses bernyanyi tanpa cela dan melompat-lompat layaknya rockstar di atas panggung.
Anak ini bahkan turun panggung dengan elegan, diiringi marching drum Tre Cool dan seruan penyemangat dari penonton satu stadion, ia melakukan aksi stage dive yang sukses. Usai konser, seorang teman sempat melihat anak ini sibuk melayani permintaan foto dari para penonton yang kagum dengan aksinya tadi.
“It`s something unpredictable, but in the end it`s right. I hope you had the time of your life…”

RSS