reviews
Live
Java Jazz / Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, 10 Desember 2009

Oleh : Soleh Solihun

Tidak, ini bukan festival jazz yang kondang itu, tapi band bentukan Indra Lesmana di tahun 1991, yang sekarang dibangkitkan kembali dan me-rilis album baru berjudul Joy Joy Joy. Posisi terbaru me-reka adalah: Indra Lesmana (kibord), AS Mates (bas), Gi-lang Ramadhan (drum), Dewa Budjana (gitar), dan Donny Suhendra (gitar). Pukul se-tengah sembilan malam, pertunjukan dimulai. Java Jazz langsung membawakan tiga lagu: “Drama”, “Exit Permit” dan “Lembah” tanpa basa-basi. Beres tiga lagu, Indra Lesmana jadi juru bicara dan jadi satu-satunya personel yang berbicara di sepanjang konser. Maklum, kawan-kawannya yang lain terkenal pendiam. Hanya Gilang yang sesekali menimpali Indra.
“Gilang yang paling sulit dapet exit permit buat latihan,” kata Indra Lesmana sambil terkekeh dan memandang ke arah Gilang. Tapi kalimat itu buru-buru diralatnya, “Awalnya sih sulit, tapi lama-lama bisa kok. Mungkin setelah Shahnaz [Haque, istri Gilang] lihat bahwa ini serius, dia pun mengizinkan.”
Para penonton tertawa, walau tak membuat ruangan bising. Semua lagunya instrumental. Musik dibiarkan berbicara dengan sendirinya. Sementara kata-kata tak keluar, tata cahaya panggung membantu dari sisi visual. Ini akhirnya membantu menambah daya tarik panggung. Setidaknya, jika bosan dengan musiknya, penonton bisa menikmati visual panggung, atau menunggu sesi Indra bicara dan terhibur dengan kata-katanya. Indra adalah kunci. Musik mereka yang rumit dibuat cair oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Artinya, tak hanya jari-jari Indra Lesmana yang lincah, tapi juga mulutnya.
Para penonton di Graha Bakti Budaya duduk rapi di kursi dalam ruangan dingin. Sepertinya musik jazz paling pas dinikmati dengan cara se-perti itu (jika ada penonton yang bosan dengan musiknya, bisa duduk santai dalam ruang-an yang nyaman, bahkan bisa tidur dengan nyaman jika keluar ruangan adalah pilihan terak-hir). Pertunjukan malam itu dibagi dalam dua kelas: kursi bawah (Rp 150 ribu) dan kursi balkon (Rp 100 ribu). Konser itu juga menandai secara resmi beredarnya album Joy Joy Joy di pasaran. Perusahaan rekaman Inline Music yang bekerjasama dengan Demajors merilis album ini. Sampulnya dihiasi oleh lukisan karya pelukis dari Yogyakarta, Erica Hestu Wahyuni. Album Joy Joy Joy berisi dua CD yang dibagi menjadi: satu CD berisi rekaman lagu-lagu baru, satu CD berisi kumpulan lagu-lagu lama mereka. Malam itu Java Jazz juga membawakan lagu-lagu baru dan lagu-lagu lama dengan total sepuluh lagu dalam waktu lebih dari satu jam pertunjukan.
Yang patut diacungi jempol dari konser ini adalah betapa Pos Entertainment, penyelenggara event, bisa membuat pihak sponsor memperhatikan faktor estetika panggung. Berbeda dengan sebagian besar event yang disponsori rokok, panggung di konser Java Jazz tak terganggu oleh logo sponsor. Dengan cerdiknya, logo itu diselipkan dalam gambar yang ditampilkan di belakang. Itu pun tak terlalu mencolok, sehingga membuat perhatian penonton masih terpusat pada para personel Java Jazz.

Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   

Mailling List

Join Our Millist by Subscribe Now!


Powered by yahoo.com