Thursday Riot, yang merupakan sebuah showcase regular band-band indie lokal yang biasanya menunjukkan riuhnya di Parc, bar cult anak muda Jakarta yang telah tutup sejak empat tahun yang lalu, mungkin adalah salah satu acara musik yang bernafas paling panjang. Acara di bar yang tutup kemudian dilanjutkan menjadi sebuah acara radio, dan kemudian menjadi acara off air yang sukses menjaring penonton selama tiga tahun berturut-turut.
Untuk merayakan hari jadi mengudaranya acara tersebut pada hari Sabtu, 12 Desember lalu, Radio Prambors menggelar acara off-air Riot 3 Tahun Meng-udara: RITROMETRO, di Taman Ria Senayan, Jakarta. Sama seperti tahun lalu yang berhasil mendatangkan ribuan penonton, deretan band tahun ini tak hanya menampilkan penampilan biasa. Gimmick yang membuat acara tahun ini berbeda adalah adanya kewajiban para pengisi acara untuk menyelipkan satu buah hit klasik milik artis-artis Indonesia dekade ’90-an yang dibawakan dengan versi masing-masing.
Pembuka acara yang tampil ketika penonton belum lagi ramai adalah The Barbaras, sebuah band internal kru Radio Prambors Jakarta. Tampil sebagai pemanas dengan semangat 200 persen. Menyusul kemudian adalah penampilan band alumnus LA Lights Indiefest, Morning Blue. Pawang hujan acara sempat makan gaji buta karena acara tersendat akibat guyuran hujan namun Morning Blue tetap tampil prima dan all-out, terutama sewaktu single mereka, “I Don’t Care.” dibawakan. Selain nomor-nomor sendiri, Morning Blue juga meng-cover salah satu hit band indie Bandung lawas Kubik, “M.A.T.E.L.”
Berikutnya, saatnya berjoget ketika band ska ibukota, The Authentics, menggoyang panggung dengan irama ska/swing yang memikat. Kabar terakhir, band ini sedang menggodok materi di studio rekaman dan akan segera merilis album perdana mereka. Sudah bisa dipastikan mereka akan menjadi pembicaraan di khalayak musik. Vokalis Dawny yang merupakan mantan vokalis band ska veteran Jun Fan Gung Foo kini berbeda citra. Dengan tato sekujur tubuh dan gaya mode yang slick, The Authentics merupakan band pemanja mata dan telinga. Mereka sempat membawakan lagu Oppie Andaresta yang berjudul “Andai”. Pada titik ini penonton pun mulai tidak mengacuhkan gerimis dan pelan-pelan mulai merapat ke bibir panggung.
Usai The Authentics, giliran That’s Rockefeller yang tampil. Band rock psikedelik yang belakangan jarang terlihat ini meng-cover hit klasik “Anomali” milik band pionir indie pop ibu kota, Rumahsakit, dan dilanjut dengan band screamo Sweet As Revenge yang membawakan single milik Flowers yang legendaris, “Tolong Bu Dokter”. Such a blast from the past.
Selanjutnya giliran Speak Up tampil membawakan “Salam Untuk Dia” dari Voodoo selain tentunya lagu-lagu milik mere-ka sendiri. Setelah itu ada penampilan gerombolan pop punk Bandung, Rocket Rockers, yang membawakan “Enough” milik Pure Saturday. Usai Rocket Rockers selesai tampil, acara dihentikan demi jeda maghrib. Panggung kembali hidup dengan penampilan dari Santamonica yang juga membawakan satu nomor dari idola mereka, Massive Attack.
Menyusul Santamonica adalah penampilan dari Amazing in Bed yang membawakan hit le-gendaris rapper old school lokal, Iwa K, “Bebas”. Setelah itu ada The Banery yang membawakan lagu Singiku, “Kebebasan,” dan Friends of Mine yang mem-bawakan hit pertama Netral, “Walah.”
Tiga band yang menjadi penutup acara adalah Killing Me Inside, Koil dan Shaggydog. Rombongan poni lempar dan celana ketat afficionados menggetarkan panggung ketika band screamo Killing Me Inside malam itu meng-cover “Bento” dari Swami. Yang terbilang beda sendiri di acara itu adalah Koil yang membawakan hit milik boyband All 4 One “I Swear”. Otong, vokalis Koil, menyanyikan lagu tersebut tanpa iringan musik dan sambil membawa contekan lirik di atas panggung. Absurd!
Headliner Riot on Air malam itu adalah band ska terbesar Indonesia asal Yogyakarta, Shaggydog, yang meng-cover Slank, “Begitu Saja”, serta tentunya nomor-nomor ceria berdansa seperti “Kembali Berdansa” dan “Honey” yang merupakan single terbaru mereka dari album Bersinar. Skankin’ to the max!

RSS