Ini cerita tentang tiga sahabat: Ikal, Arai, dan Jimbron. Film sekuel Laskar Pelangi ini lebih banyak menceritakan masa SMA mereka. Anak-anak dari SMA Negeri Manggar, Belitong, itu punya mimpi yang besar walaupun latar belakang ekonomi yang pas-pasan. Adalah Pak Balia (Nugie) yang memberi mereka inspirasi untuk punya mimpi tinggi: kuliah di Prancis, sekalian menjelajahi Eropa dan Afrika ( saya rasa bahkan anak yang besar di perkotaan dengan kondisi ekonomi yang lebih baik pun tak banyak yang punya mimpi se-perti itu). Di tengah-tengah perjuangan meraih mimpi, mereka dihadapkan pada kondisi yang sulit, antara lain guru yang super galak (Landung Simatupang), serta ayah Ikal (Mathias Muchus) yang kehilangan pekerjaannya. Diban-ding Laskar Pelangi, film ini lebih menghibur. Karakter novelnya yang mengandung lebih banyak fragmen kejadian juga terasa di sini. Ini membuat film ini punya banyak kejutan: di satu bagian Anda akan dibuat tertawa, di bagian lain Anda akan dibuat terdiam dan berkaca-kaca. Sang Pemimpi juga bercerita soal masuknya nilai-nilai dalam kehidupan remaja. Arai, Ikal, Jimbron belajar mengaji, tapi mereka juga menggemari film Lone Ranger dan tergoda menonton bioskop meskipun mereka diwanti-wanti bahwa menonton bioskop itu haram hukumnya. Ajaran agama yang mereka dapat harus dibenturkan pada ujian sesungguhnya di kehidupan nyata: bisakah mereka kuat menghadapi godaan itu? (tak sedikit dari kita di kehidupan nyata yang kemudian menyerah pada manisnya godaan dunia). Meskipun film ini terasa lebih ringan jika dibandingkan Laskar Pelangi, tapi problem yang di-ceritakan di sini sepertinya akan lebih mudah mengena di kehidupan banyak orang. Se-tiap orang pasti punya mimpi, dan film ini mengingatkan (tanpa terkesan menggurui, meskipun banyak dialognya yang berpotensi menjadi slogan terselubung) sekali lagi pada kita, bahwa meraih mimpi itu tak selalu mudah. Dan bahwa pepatah ‘di mana ada kemauan di situ ada jalan’ masih bolehlah kita yakini.

RSS