Senin, 07/04/2014 11:53 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Live Review: Backstreet Boys

4 April 2014, O2 Stadium Greenwich, London, Inggris

Merayakan dekade kedua, boyband terlaris sepanjang masa menjadi dewasa dan mematahkan stigma lama
Oleh: Teguh Wicaksono
Share :   
image
Backstreet Boys dalam tur A World Like This, London (Foto: Teguh Wicaksono)
Dua puluh tahun lalu, jauh sebelum Miley Cyrus twerking atau Justin Bieber menjadi badung, dunia pop pernah terguncang hebat. Penyebabnya bukan sesuatu yang kontroversial, namun kombinasi dari wajah rupawan, suara merdu, pin-up majalah remaja dan model rambut belah tengah. Ramuan tersebut menghasilkan fenomena boyband di dekade '90-an menjadi tak terelakkan.

Di antara seabreg boyband yang menyeruak di layar kaca dan di dinding kamar para pemudi '90-an, Backstreet Boys (BSB) duduk di tahta tertinggi, mendapatkan lampu sorot terbesar dan mendulang puja-puji yang cukup signifikan. Dua dekade kemudian, diwarnai sedikit keriput dan paras yang lebih “matang”, Backstreet Boys merayakan eksistensi mereka dengan menggelar tur bertajuk A World Like This.

Tur raksasa ini menyambangi lebih dari 120 negara di tiga benua, dan berlangsung dari Mei 2013 hingga Juni 2014. Tur ini juga menjadi spesial karena ini tur pertama sejak Kevin Richardson bergabung kembali dengan BSB pada 2012.

Sebelum hidangan utama, konser dibuka dengan penampilan girlband tuan rumah, All Saints. Karena tersohor dalam rentang waktu yang sama dengan BSB, Spice Girls versi cool ini mampu menyedot perhatian hampir seluruh penonton. Saat "Never Ever" dan "Pure Shore" berkumandang, penonton menggila dan bernyanyi bersama.

Pertanyaan yang selalu muncul sesaat sebelum menonton band atau grup “tua” adalah: apakah mereka sebagus dulu? Tentunya pertanyaan ini muncul di benak saya sesaat sebelum BSB naik panggung. Apalagi bagi boyband, penampilan fisik dan stamina sangat penting. Dan dua hal itulah yang biasanya aus dimakan usia.

Untungnya, pertanyaan itu terjawab dengan cepat ketika BSB muncul di atas panggung dan menyanyikan lagu pembuka mereka, "The Call", dengan prima. Salah satu hal yang patut diberi kredit lebih adalah bagaimana BSB memposisikan diri di hadapan penonton. Sulit rasanya untuk tetap berpijak di kejayaan masa lalu, namun di waktu yang sama memperkenalkan karya baru. Berbekal setlist yang disusun dengan cermat, nampaknya mereka bisa meracik penampilan menjadi berimbang, antara lagu anyar dan hits nostalgia.

Kuantitas lagu-lagu lama seperti “I Want It That Way”, “Backstreet's Back”, “As Long As You Love Me” dan “I'll Never Break Your Heart” berbanding lurus dengan lagu-lagu dari album baru yang bertajuk selaras dengan nama tur mereka, A World Like This.

Hal lain yang berbekas di kepala adalah pendekatan BSB yang lebih personal. Di setiap sesi lowong di mana mereka harus berganti kostum atau menyiapkan perlengkapan untuk lagu selanjutnya, salah satu dari personel maju ke tengah penonton dan berdialog dengan santai dengan penonton. Mereka bercerita tentang perasaan sepanjang tur, kisah-kisah lucu dan menyapa penonton dengan hangat. Upaya ini menimbulkan kesan yang jauh lebih dewasa dan manusiawi. Nampaknya mereka sadar citra boyband yang “tak tersentuh” dan “sempurna” sudah usang.

Cetak biru boyband era '90-an adalah kumpulan pria tampan dengan campuran berbagai kepribadian. Ada si cool yang bersuara rendah, si lincah yang jago dansa, si funky yang eksentrik dan tentunya si tampan idola wanita. Dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya, BSB punya kombinasi yang terbilang sempurna, dan hal itu masih terlihat bahkan dua puluh tahun semenjak mereka mulai berkarier.

Namun dari semua gimmick yang ditawarkan malam itu, yang menyita perhatian saya paling besar adalah ketika Backstreet Boys benar-benar bermain alat musik. Mereka meninggalkan koreografi lincah dan memegang instrumen, seperti layaknya sebuah band. Pada set awal, di lagu "Incomplete" Nick bermain gitar dan Kevin bermain keyboard. Saya sempat ragu dan mengira mereka hanya berpura-pura, tapi setelah diteliti lebih jauh, ternyata benar mereka memainkannya.

Setelah belasan lagu dan gemuruh teriakan tanpa henti, tak terduga masing-masing personel mengambil instrumen dan tampil sebagai sebuah grup musik. Selain Kevin dan Nick seperti disebutkan di atas, AJ bermain cajon, Howie memegang bass, dan Brian bermain gitar. Dengan format band, mereka memainkan beberapa lagu, termasuk lagu lama “Madeline” dan “Quit Playing Games With My Heart”. Mereka mematahkan stigma tua yang mengatakan boyband tak cakap bermain musik, hanya bisa berdansa.

Di antara badai sambutan histeris yang memantul-mantul di O2 Stadium London saya memicingkan mata, mencoba menyisir rupa para penonton. Melegakan untuk menyaksikan generasi '90-an yang kini ada di rentang umur akhir 20-an bersahut-sahutan dan meniru koreografi BSB dengan saksama. Konser ini seperti tiket emas bagi mereka (juga saya) untuk menjadi remaja dan mengenang pubertas tanpa harus merasa bersalah, selama kurang lebih 120 menit.
(RS/RS)

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Kamis, 31 Juli 2014 17:10 WIB

Siap Sambut Debut Red Velvet?

Siap Sambut Debut Red Velvet?
Red Velvet sepertinya sudah tak sabar untuk unjuk gigi di panggung musik KPop. Girlband baru SM Entertainment itu akan..
 
Jumat, 25/07/2014 22:08 WIB

Gitar Hingga Sedan Milik Elvis Presley Akan Dilelang

Sebuah gitar Martin D-28, sedan Cadillac Seville 1976 serta naskah pribadi film pertama Elvis Presley, Love .....
 
 

Incoming

Rabu, 16/07/2014 19:30 WIB

Incoming: RABU: Duo Folk Mistik Pengantar Nuansa Bergidik

Orang-orang menyebut musik mereka mistis dan misterius. Ditambah dengan menggunakan foto taburan kembang ziarah sebagai sampul..

Music Biz

Rabu, 18/06/2014 19:59 WIB

YouTube Akan Hapus Video-video Musik Label Independen?

Situs berbagi video, YouTube dikabarkan akan menghapus video-video musisi yang berasal dari label independen menyusul sengketa..

Q & A

Senin, 21/07/2014 18:10 WIB

Exclusive Q&A: Anton Newcombe (The Brian Jonestown Massacre)

“Keep music evil,” itulah semboyan yang lantang diserukan oleh Anton Newcombe selaku aktor intelektual grup..