Jumat, 19/10/2012 18:04 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_half icon_star_off

Movie Review: Frankenweenie

Martin Short, Catherine O'Hara, Martin Landau, Winona Ryder. Sutradara: Tim Burton.

Memajang kematangan Tim Burton dalam menyutradarai film animasi.
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
Setidaknya ada dua pencapaian yang diraih sineas eksentrik penyuka tema gothic, Tim Burton, lewat Frankenweenie selaku film animasi penuhnya yang ketiga setelah The Night Before Christmas dan Corpse Bride (sebagai catatan, James and the Giant Peach memuat segmen live action).

Kedua pencapaian tersebut datang secara keroyokan, yaitu fakta bahwa Frankenweenie merupakan film panjang format hitam putih pertama dan juga film animasi bergaya stop-motion pertama yang diputar di IMAX 3D. Namun ada satu lagi pencapaian krusial yang membuat film ini jadi lebih sedap disaksikan, yaitu kematangan Tim Burton dalam menggarap film animasi; Burton pasti setuju betul dengan orang yang pertama kali bilang kalau pengalaman adalah pelajaran paling berharga. Frankenweenie bahkan terasa lebih atraktif dibanding film-film live action-nya belakangan ini.

Frankenweenie sendiri bercerita soal seorang anak cerdas bernama Victor Frankenstein (Charlie Tahan), yang tinggal bersama kedua orang tuanya, Edward Frankenstein (Martin Short, yang juga mengisi suara dua karakter lain) dan Susan Frankenstein, dan lebih memilih untuk berinovasi di loteng rumahnya dan atau bermain dengan anjing peliharaannya yang bernama Sparky dibanding bersosialisasi. Hubungan Victor dan Sparky sangat dekat, mereka hanya terpisah saat Victor menuntut ilmu di sekolahnya. Hingga suatu saat, Sparky meninggal tertabrak mobil.

Mencoba menghibur anaknya, orang tua Victor pun berkata: “Jika bisa, kami pasti akan menghidupkannya kembali.” Bak mantra, Frankenweenie langsung mengandung nuansa gothic yang meningkat dibanding sebelumnya setelah ucapan tersebut dilontarkan. Tanpa pernah dibayangkan oleh kedua orang tuanya, Victor benar-benar mencoba menghidupkan Sparky kembali setelah mendapat teori soal halilintar di sekolahnya dari guru eksentrik bernama Mr. Rzykruski (Martin Landau); dan berhasil.

Pilihan Burton untuk membuat sebuah film hitam putih lengkap dengan segala unsur persembahan terhadap gaya pembuatan film masa lampau, terutama film Frankenstein rilisan tahun 1931 garapan James Whale, terbukti tepat sasaran dan menambah keunikan tersendiri bagi Frankenweenie. Mungkin kadar kedisiplinan dan artistik tinggi itulah yang membuat Burton berani untuk mencampuradukkan berbagai formula horor klasik ke film ini, terutama pada babak klimaks yang tidak akan seru jika diceritakan dalam sebuah ulasan.

Frankenweenie memang bukan karya terbaik Burton, tapi sudah pasti merupakan salah satu karyanya yang paling menyenangkan dalam beberapa tahun belakangan; mengingat nihilnya jiwa yang ada di remake kisah Alice in Wonderland dan Dark Shadows yang memiliki konsep seksi namun gagal dalam praktik.
(RS/RS)

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Sabtu, 25 April 2015 09:04 WIB

Maroon 5 Konser (Lagi) di Indonesia 23 September

Maroon 5 Konser (Lagi) di Indonesia 23 September
Dua kali mencicipi panggung Indonesia dirasa belum cukup untuk grup band Maroon 5. Mereka akan kembali manggung di..
 
Kamis, 23/04/2015 21:22 WIB

Burgerkill dan Jasad Akan Gempur Festival Bloodstock Open Air, Inggris

Bandung kembali mengukuhkan namanya sebagai gudang musisi cadas kelas wahid di Indonesia. Dua eksponen ...
 
 

Incoming

Kamis, 05/03/2015 13:32 WIB

Incoming: Gerram, Amarah dari Selatan Sumatera

Darah sedang mengalir dua kali lebih cepat.
Untuk pertama kalinya sejak resmi dibentuk empat tahun silam, Gerram sedang..

Music Biz

Senin, 20/04/2015 19:25 WIB

Penjualan Vinil Masih Meningkat Pada 2015

Tahun lalu, terjadi peningkatan penjualan vinil dengan kenaikan dari 6,1 juta unit terjual pada 2013 dan 9,2 juta unit pada..

Q & A

Senin, 20/04/2015 19:02 WIB

Q&A: Ron 'Bumblefoot' Thal

Seorang gitaris rock asal Amerika Serikat, Ron "Bumblefoot" Thal, pada Kamis (16/4) lalu baru saja berkunjung ke Indonesia. Pada..