Selasa, 04/09/2012 07:48 WIB

Q n A: Dewi Lestari

Oleh: Wening Gitomartoyo
Share :   
image
Dewi Lestari (Foto: Andre Norman / Trinity)
Jakarta - Bulan Agustus lalu, film Perahu Kertas resmi berlayar di bioskop-bioskop Indonesia, diangkat dari novel Dewi “Dee” Lestari yang terbit pertama kali pada tahun 2009 dan sudah dicetak ulang sebanyak 12 kali hingga tahun ini. Hanung Bramantyo duduk sebagai sutradara, mengarahkan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sebagai dua karakter utamanya. Selain menulis skenario, Dee juga menulis lagu-lagu untuk soundtrack film ini, yang dibawakan antara lain oleh Maudy Ayunda dan trio yang melambungkan namanya sejak 1995, Rida Sita Dewi (RSD). RSD sempat reuni pada tahun 2008, pertama kalinya sejak Dee keluar di tahun 2003, dan kini ‘bersatu’ kembali lewat sebuah lagu yang, menurut Dee, sudah terpikirkan saat ia menulis adegan terakhir Perahu Kertas.

Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan ‘mengasingkan diri’ selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya?
Untuk skenario, saya tidak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, juga baca skenario yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya. Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisan, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario harus mengakomodasi keinginan tiga produser. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam ‘memindahkan’ karakter-karakter novel ke dalam film?
Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh “baru”, tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerja Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud).

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel. Bagaimana berkompromi dengan hal ini?
Itu saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario sejak awal kerja sama. Kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul pondasi ceritanya, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. He-he.

Komentar Dee untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini?
Saat pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut), ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis diundur, jadwal Hanung kembali memungkinkan. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Rida Sita Dewi terlibat dalam soundtrack Perahu Kertas. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun pisah?
Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu, belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun ‘96, judulnya “Langit Amat Indah”. Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi feel lagu itu kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls. Saya iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut. Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman delapan tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?
Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu “Perahu Kertas”. Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci, antara lain seperti “perahu kertas”, “surat cinta’, “radar”. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film. Saya menciptakan lima lagu, yaitu empat lagu baru (termasuk “Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena slot baru diketahui ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, “Langit Amat Indah” (RSD). Sisanya: “Tahu Diri” oleh Maudy Ayunda, “Dua Manusia” oleh Dendy Mikes, “A New World” oleh Nadya Fathira. Di luar lagu saya, ada Triangle Band (“How Could You”) dan Adrian Martadinata (“Behind The Star”).

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Sabtu, 20 Desember 2014 09:45 WIB

Rahasia MLTR Eksis 25 Tahun Bermusik

Rahasia MLTR Eksis 25 Tahun Bermusik
Bukan perkara mudah menjaga sebuah grup musik tetap solid untuk waktu yang lama. Tapi Michael Learns To Rock (MLTR)..
 
Jumat, 19/12/2014 16:44 WIB

Ini Harga Tiket Konser Taeyang di Jakarta

Setelah mengumumkan jadwal konser Taeyang di Jakarta, kini promotor Synergism Entertainment telah merilis ...
 
 

Incoming

Jumat, 12/12/2014 20:41 WIB

Incoming: TARING, Hardcore Tempur Bandung

Taring terdiri dari empat personel yaitu Gebeg (drum), Ferry (bass), Angga (gitar) dan Hardy (vokal). Saat ditanya mengapa..

Music Biz

Rabu, 17/12/2014 19:05 WIB

Wahai Musisi Indonesia, Perkenalkan, Zimbalam

Zimbalam selaku penyedia jasa distribusi musik digital telah merilis produk khusus untuk pasar musik Indonesia via situs..

Q & A

Selasa, 18/11/2014 18:12 WIB

Q&A: Tonstartssbandht

Album Smiley Smile dari The Beach Boys boleh saja disambut dengan kebingungan publik saat pertama kali dirilis pada September..