Jumat, 15/06/2012 13:53 WIB

Q n A: Dougy Mandagi

Telah merilis album kedua pada 18 Mei 2012 lalu
Oleh: Reno Nismara
Share :   
image
The Temper Trap (Foto: David Black)
Jakarta - Mewawancarai Dougy Mandagi adalah hal yang berbeda jika dibanding mewawancarai personel band mancanegara lainnya. Bagaimana tidak, vokalis dan penulis lirik grup asal Australia, The Temper Trap, tersebut adalah pria Manado yang menghabiskan masa kecilnya di Indonesia sebelum menetap di Melbourne, Australia.

“Terserah saja enaknya bagaimana,” begitu jawab Mandagi ketika ditanya Rolling Stone jika ia lebih memilih diwawancara dengan bahasa Inggris atau Indonesia.

The Temper Trap sendiri telah merilis album studio kedua mereka pada 18 Mei 2012 lalu dengan tajuk The Temper Trap. Album dengan produser Tony Hoffer itu, sebelumnya bertanggung jawab atas produksi pada album Beck, Supergrass, Phoenix, hingga The Kooks, menampilkan ragam bunyi synthesizer sehingga terpancar warna dekade ’80-an yang kental.

Lirik beraura patah hati tersebar pada album ini, namun Mandagi enggan menganggap The Temper Trap sebagai album patah hati. Wajar saja, terdapat pula lagu yang mengambil tema kerusuhan London pada tahun lalu dengan judul “London’s Burning”.

Namun “Need Your Love” yang bertindak sebagai lagu pembuka pada The Temper Trap telah dipilih sebagai single perdana sekitar sepuluh hari sebelum album dirilis.

Walau begitu, Mandagi tak hanya berbicara soal album baru bandnya. Kepada Rolling Stone, ia juga membeberkan kedekatan keluarganya dengan Triawan Munaf, keyboardist Giant Step yang juga merupakan ayah dari Sherina Munaf.

Berikut adalah hasil wawancara Rolling Stone dengan Dougy Mandagi, yang dilakukan lewat sambungan telepon.

Ada banyak sekali unsur synthesizer pada album kedua The Temper Trap. Awal mulanya seperti apa sampai kalian memutuskan demikian?
Waktu The Temper Trap mulai garap album ini, kami beli dua jenis synthesizer sekaligus, yaitu Nord dan Moog. Secara natural, kami pun melibatkan kedua alat itu saat menulis materi-materi baru. Kebetulan produser untuk album ini, Tony Hoffer, punya banyak koleksi synthesizer antik dari dekade ’60-an dan ’80-an. Dan dia memang benar-benar gemar main synthesizer, jadi setiap ada kesempatan pasti dicoba untuk lagu-lagu kami.

Apa hal pertama yang mendorong kalian untuk beli Nord dan Moog?
Nggak tahu juga sih, mungkin karena terinspirasi oleh band-band lain yang kami temui saat tur album perdana yang berjalan selama satu tahun.

Lagu “Sweet Disposition” meraih sukses luar biasa, pernah merasa bosan dengan lagu itu?
[Tertawa] Yang pasti kalau gue lagi diam di rumah, gue nggak pernah dengar lagu itu. Tapi reaksi penonton saat kami membawakan lagu tersebut nggak pernah membosankan.

The Temper Trap pernah bilang kalau kalian enggan dicap sebagai band one hit wonder, apakah itu salah satu alasan kalian bereksperimen dengan unsur musik dari dekade ’80-an?

Nggak juga, tapi kami memang pernah bilang kalau nggak mau menjadi band yang sukses dengan satu lagu saja. Mudah-mudahan pada album ini The Temper Trap memiliki banyak koleksi lagu bagus daripada hanya satu lagu yang menonjol.

Menurut Anda pribadi, apakah ada cara lain dalam menjadi segar selain meminjam warna musik retro yang bisa dibilang terlupakan?
Mau nggak mau, akan ada pancaran nostalgia jika Anda menggunakan synthesizer yang sudah tua dan hal tersebut akan mengingatkan pendengar ke era saat suara khas dari synthesizer tersebut berjaya. Tantangannya adalah bagaimana kami menggabungkan unsur retro itu dengan unsur lain yang dimiliki The Temper Trap; bagaimana memanfaatkan nuansa nostalgia dan di saat yang sama terdengar baru. Nggak hanya sekadar terdengar sama dengan lagu-lagu yang ada di dekade ’80-an.

The Temper Trap menunjuk Tony Hoffer sebagai produser, apakah ada acuan album yang diproduseri Hoffer yang membuat kalian memilih dirinya?
Kami semua sangat menyukai album terbaru M83, Hurry Up, We’re Dreaming, dan di album itu Hoffer adalah orang yang menjadi peramu rekamnya. Selain itu, gue suka album-album Beck, malah Hoffer adalah mantan gitaris di band pengiring Beck.

Seberapa penting peran Hoffer dalam hasil akhir album The Temper Trap?
Keuntungan kerja dengan Hoffer adalah fakta bahwa ia bukanlah produser saja, tapi juga seorang musisi. Jadi dia bisa bekerja dari dua sudut pandang sekaligus, yaitu sebagai produser dan juga musisi.

Apakah harapan Anda terhadap peran Hoffer sebagai produser terpenuhi?

Terus terang gue nggak ada harapan apa-apa. Ada sih sedikit, tapi yang wajar-wajar saja, nggak terlalu berharap. Namun Hoffer benar-benar ahli dalam bidangnya, terlihat sekali kalau ia ingin membuat sound tertentu, kerjanya cepat, dan idenya banyak. Kalau soal memenuhi semua harapan yang gue miliki, harapan gue banyak, jadi mungkin nggak terpenuhi semuanya. Nah, kalau ditanya jika harapan-harapan tersebut bisa dipenuhi gue juga nggak tahu. Tetapi sebagai orang kreatif, terkadang kita harus memiliki batasan kepuasan.

Ada warna patah hati dalam lirik-lirik yang Anda buat untuk album ini.

[Tertawa] Iya, tiga tahun yang lalu, saat tur album perdana, gue putus sama pacar gue. Sebenarnya sudah lama ya, tapi entah kenapa saat gue menulis lirik untuk album kedua hal pertama yang terpikir adalah soal hubungan itu. Jadi lagu-lagu awal yang liriknya gue buat untuk album kedua bertema patah hati.

Ada juga lagu berjudul “London’s Burning” yang berkisah soal kerusuhan di London, Inggris tahun lalu. Ketika itu, Anda sedang berada di mana?
Gue dan personel The Temper Trap lain sedang di rumah. Kerusuhan itu terjadi di Hackney dan rumah kami ada di daerah tersebut, jadi bisa dibilang kami ada di pusat kerusuhan tersebut.

Yang paling Anda ingat dari kerusuhan itu?

Perasaan takut. Pukul setengah empat pagi ketika jalanan sudah sepi dan semua bar serta toko sudah tutup tiba-tiba dengar suara sirene polisi dan helikoper. Kira-kira dua jam kemudian, sudah mulai rusuh; orang-orang lari di jalan, bakar ini bakar itu. Samalah, Indonesia kan juga sudah pernah mengalami.

Ada kabar yang mengatakan bahwa keluarga Anda dekat dengan Triawan Munaf dan dia adalah salah satu orang pertama yang mendengar album The Temper Trap.

[Tertawa] Keluarga saya memang dekat dengan dia, tapi nggak tahu kalau menjadi orang pertama yang mendengar album The Temper Trap. Nyokap gue yang sahabat dengan dia, mungkin dikasih.

Sudah pernah dengar lagu-lagu band yang diperkuat Triawan, Giant Step?

Belum pernah [tertawa].

Ada band Indonesia yang masih Anda dengar lagu-lagunya?
Terus terang gue nggak dengar band-band baru dari Indonesia, paling yang lama-lama, seperti Slank dan Dewa19. Gue nggak mengikuti band-band baru di sana, pasti sudah sangat banyak.

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 16 April 2014 21:36 WIB

Windura Yakin Bisa Pikat Hati Fans Yovie and Nuno

Windura Yakin Bisa Pikat Hati Fans Yovie and Nuno
Hadirnya wajah baru, membuat Yovie and Nuno punya gaya baru dan beda. Sosok Windura hadir menggantikan posisi Dudi..
 
Rabu, 16/04/2014 21:00 WIB

Tersisa Tiga Orang, Kara Gelar Jumpa Penggemar di Korea dan Jepang

Dengan tiga anggota tersisa, Park Gyuri, Han Seung Yeon dan Goo Hara, Kara akan menggelar jumpa penggemar .....
 

Incoming

Senin, 07/04/2014 12:41 WIB

Incoming: Matajiwa: Duo Folk Aneh Beramunisi Eksplorasi

“Itu semacam perumpamaan untuk definisi brengsek, tapi kalau brengsek kan masih bisa dipakai dalam hal yang positif. Nah,..

Music Biz

Rabu, 13/11/2013 11:48 WIB

Memangnya Ada Musik Indonesia?

“Memangnya ada musik Indonesia? Memangnya ada kebudayaan Indonesia?” ujar etnomusikolog Rizaldi Siagian ketika saya..

Q & A

Selasa, 01/04/2014 16:37 WIB

Q&A: Rick Ross

Obrolan tentang ganja, wanita, album barunya yang 'klasik' dan rencana evakuasi jika Miami tenggelam.