Senin, 04/06/2012 17:11 WIB

Q and A: James Morrison

Ditemui sehari sesudah konser mininya di Singapura, James Morrison terlihat santai.
Oleh: Syanne Susita
Share :   
image
James Morrison (Sumber: Facebook Page)
Singapura - Berbeda dengan mood album-album James Morrison yang galau dan sendu, kepribadian penyanyi 27 tahun ini sangat periang dan agak cerewet untuk ukuran seorang cowok yang mengaku pendiam.

James juga cukup terbuka untuk membicarakan berbagai topik, seperti soal musik pop yang menurutnya sudah tidak nyambung lagi dengan dirinya, juga tentang anak perempuannya, Elsie (3 tahun).

Dalam album ini, Anda mengajak Jesse J berduet dalam lagu “Up”. Ada yang mengejutkan saat berkolaborasi dengannya?
Saya terkejut melihat kemampuannya bernyanyi. Ia kuat menyanyi seharian saat berlatih di studio. Dia sangat mengekspresikan dirinya. Sementara saya cenderung diam saja. Saya bisa dibilang tipikal orang yang pendiam dan lebih suka menyendiri. Tapi saya akui ia humoris.

Mengapa dia dipilih sebagai pasangan duet dalam “Up”?
Alasan pertama adalah karena tak ada lagi penyanyi wanita yang sedang menanjak saat itu. Tapi, kemudian saya suka dengan vokalnya, sangat mengagumkan, terutama saat menyanyi secara spontan. Saya benar-benar kagum.

Menurut saya, “Up” memang lagu yang paling “menendang” dalam album ini.
Lagu ini tentang hubungan saya dengan ayah saya. Tak pernah terpikir untuk menjadikannya sebagai duet. Baru di akhir rekaman, saya merasa ada yang kurang. Penyanyi latar saya menyarankan untuk mendengar versi duetnya. Ternyata terasa lebih bagus.

Anda menyebutkan soal ayah. Sepertinya masalah dalam keluarga membuat jeda album ini dengan album sebelumnya begitu lama?
Album ini justru seperti kanal penyaluran seluruh emosi saat menghadapi masalah dalam keluarga. Di awal penggarapan, saya berniat mengubah musik saya untuk lebih up-tempo. Itu sebabnya munculnya “Slave To The Music.” Namun kemudian ayah saya meninggal. Saya berkabung selama dua bulan, sama sekali tidak mau menyentuh musik. Tapi, setelah itu saya kembali masuk studio untuk mengaktifkan kembali pikiran saya. Ketika masuk studio, secara mengalir saja, saya menulis pe-rasaan-perasaan sedih itu.

Jadi itu sebabnya album ini diberi judul “The Awakening”?
Betul sekali. Saya seperti terbangun dari mimpi buruk. Seperti saya harus bangun dan mengumpulkan semua resolusi. Dalam album ini tersimpan semua catatan saya mengenai perasaan saya saat menjalani masa sedih dan bagaimana saya menghadapinya.

Cara merepresentasikan musik Anda di panggung sangat berbeda, seperti moonwalk Michael Jackson.
[Tertawa] Saya harus mempresentasikan musik saya dengan gaya dan apa yang saya rasakan pada saat di atas panggung. Saat saya menyanyi di atas panggung juga merupakan satu pelepasan emosi. Jadi, saya tidak mau itu menjadi sesuatu yang muram tapi lebih baik menjadi sebuah perayaan di mana saya bisa bagikan juga pada penonton.

Selain Michael Jackson, Anda mengaku sebagai penggemar Stevie Wonder. Apa yang sangat menginspirasi Anda?

Banyak hal, seperti penggunaan kord-kord dalam melodi. Tapi yang paling utama adalah kemampuannya menyanyi. Ia bisa menyanyikan berbagai macam aliran musik dan membuatnya menjadi ciri khasnya. Ada beberapa lagunya di tahun ‘80-an yang sangat buruk tapi musik dia secara keseluruhan selalu bagus. Suaranya bisa ke mana saja dan ketika bernyanyi, secara spontan ia berimprovisasi, selalu serasi dengan melodi lagu.

Apa pendapat Anda tentang musik pop sekarang di mana citra menjadi sangat penting, terutama dengan kemunculan Lady Gaga?
Terus terang, saya merasa seperti orang asing, penyanyi yang berada di garis tepi. Tapi saya suka musik yang memang relevan dengan apa yang terjadi sekarang. Bagaimana menikmati musik secara emosional. Saya selalu terhibur dengan penyanyi yang menyanyi dari hatinya. Itu sebabnya saya memilih menjauh dari hal ini. Saya menikmati “Poker Face”-nya Lady Gaga. Anak perempuan saya senang bergoyang dengan lagu itu. Dari bintang-bintang pop itu, mungkin hanya musik Rihanna yang bisa saya tahan untuk dengar seharian karena karakter vokalnya unik dan ada cengkok reggae yang saya suka. Dan, Jesse J tentunya.

Kebahagian tersendiri melihat anak Anda menari seperti Lady Gaga.
Ia selalu ikut menyanyi dan menari setiap kali saya memegang gitar. Ia selalu bilang, “Jika saya sudah besar, saya ingin seperti dirimu. Menyanyi di depan banyak orang.”

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 26 Nopember 2014 10:57 WIB

Album Baru Fall Out Boy Rilis Januari 2015

Album Baru Fall Out Boy Rilis Januari 2015
Setelah merilis single paling baru berjudul 'Centuries', Fall Out Boy langsung melanjutkan dengan lagu baru lainnya...
 
Selasa, 25/11/2014 18:33 WIB

Film Silat 'Pendekar Tongkat Emas' Tayang di Bioskop Mulai 18 Desember Mendatang

Memakan waktu dua tahun mulai dari riset hingga penyelesaian pasca-produksi, film silat berjudul Pendekar ...
 
 

Incoming

Rabu, 05/11/2014 21:26 WIB

Incoming: Aljabar, Unjuk Gigi Unit Hip Hop Jazz Semarang

Kancah hiphop Semarang barangkali terbilang miskin rilisan, begitu pula jazz. Kehadiran Aljabar berada pada dua kanal yang..

Music Biz

Senin, 24/11/2014 19:58 WIB

CEO Mundur, Masa Depan Vevo Terancam

Vevo dikabarkan tengah bermasalah. Rencana mereka untuk menjual perusahaan dengan harga 1 miliar AS gagal walaupun Yahoo,..

Q & A

Selasa, 18/11/2014 18:12 WIB

Q&A: Tonstartssbandht

Album Smiley Smile dari The Beach Boys boleh saja disambut dengan kebingungan publik saat pertama kali dirilis pada September..