Jumat, 25/05/2012 16:53 WIB

Q and A: Sheila On 7

Dijumpai sebelum menggelar konser 16th Anniversary Concert di Yogyakarta.
Oleh: Fakhri Zakaria
Share :   
image
Sheila On 7 (Foto: Ludmila Gaffar)
Yogyakarta - Salah satu unit pop terbaik di Indonesia, Sheila On 7, pada Jumat pekan lalu menggelar konser 16th Anniversary Concert di kota kelahirannya, Yogyakarta. Disela-sela persiapan konser yang disaksikan sekitar 4500 orang tersebut, Rolling Stone menemui secara terpisah Achdiyat Duta Modjo (vokal), Eross Chandra (gitar), dan Brian Kresnoputro (drums).

Minus bassis Adam M. Subarkah yang tengah melakukan sound check, band yang mencetak hat-trick penjualan diatas satu juta keping untuk tiga album pertamanya itu menuturkan potret musik pop Indonesia hari ini, definisi ideal tentang pop easy listening, juga bagaimana menjaga mood lagu dan kesolidan selama 16 tahun berkarya.

Apa makna 16 tahun untuk Sheila On 7 ?

Eross: Buat kami 16 tahun itu bersyukur yang kami alamin bukan cuma enak aja tapi pelajaran buat kami jadi dewasa. Berpikir lebih serius untuk jadi seorang manusia. Pada intinya 16 tahun di Sheila On 7 membikin kami jadi orang yang berguna di keluarga.

Apakah saat dulu membentuk Sheila On 7 tahun 1996 terpikir langkah kalian akan sampai sejauh ini?

Eross: Sebenarnya kami nggak nyangka angkanya sudah nyampe ke-16. Keliatannya kami baru kemaren. Kemaren aku ngambil salah satu CD album ketiga yang menurut aku belum terlalu lama. Pas aku lagi di toilet duduk pegang CD-nya iseng-iseng aku baca. Wah, gila album ketiga aja udah sepuluh tahun yang lalu. Kami dulu memang berangkat dari suka main musik. Sama kayak anak-anak sekarang. Tapi orientasi sekarang orang main musik bisa aku bilang ada dua. Karena cari duit dan karena suka. Sampai hari ini kami suka pekerjaan ini. Kami dari awal nggak mikirin apa bisa sukses ataukah tetap begitu-begitu aja. Yang jelas dulu aku ngomong ke anak-anak waktu kami mau ngasih demo yang pertama, “Kalo ini gagal nanti kita akan coba yang kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai kita merasa tidak enjoy,”. Dan ternyata. pertama langsung dibukakan jalannya ya Alhamdulillah. Perjuangan kami dimudahkan. Sangat dimudahkan.

Duta: Nggak (tertawa). Tapi kami band yang punya cita-cita tinggi. Sebelum Sheila On 7 belum jadi aku punya panutan, punya contoh. Aku melihat band-band senior. Sekarang ternyata Sheila On 7 di fase itu. Banyak band-band muda tanya ke Sheila On 7. Artinya kami ada di track yang bener

Kehadiran Sheila On 7 mampu mengubah industri musik Indonesia, terutama di ranah musik pop. Menurut Anda apa faktor yang membuat Sheila On 7 mampu melakukan itu ?

Eross: Kalo aku bilang ada kaitannya sama timing. Pas banget dan sangat mencuri perhatian. Jadi kami sangat dimudahkan. Kami pernah punya momen yang bagus sekali jadi sekarang tinggal maintenance. Selain itu juga kerja keras anak-anak nggak bisa dipungkiri. Saya masih inget banget dulu awal-awal karir ke Jakarta naik VW Combi-nya Duta. Bannya pecah kami tidur di jalan. Di Jakarta nggak bisa makan. Itu udah kami alami semua. Dan saya inget banget kami nggak pernah mengeluhkan itu. Kalo sekarang sih ya pasti sudah mengeluh, sudah berantem (tertawa)

Duta: Sebagai pemain band aku sendiri senang sama lagunya Sheila On 7. Dibilang narsis mungkin bisa. Tapi aku percaya diri dan optimis ketika lagu kami ramai diputar di Jogja dan ternyata sampai Jakarta ada label yang mau. Tapi ada juga faktor luck. Tahun 1999 idola-idola musik yang ada lagi pada berantakan. Slank lagi kacau, Dewa vakum, GIGI tinggal Budjana sama Armand. Kalau aku bilang momennya pas dan materinya juga bagus.

Saat kemunculannya, Sheila on 7 sudah mempunya cetak biru lewat pop easy-listening dengan aransemen simpel dan lirik yang lugas. Saat itu tak sedikit yang meremehkan Anda. Saya ingat musisi Tamam Hussein pernah membedah lagu Anda dan menemukan partitur-partitur lagu yang berantakan. Bagaimana anda menanggapi tanggapan-tanggapan itu?

Eross: Nggak masalah. Tidak semua orang mengerti yang jadi pemikiran orang jenius pada awalnya karena dia tidak nyampe (tertawa). Kadang sesuatu yang simpel bisa lebih agung dan long lasting daripada sesuatu yang rumit. Musik itu kan kaitanya dengan imajinasi. Orang-orang seperti itu yang imajinasinya nggak nyampe. Toh kami bisa bertahan selama ini karena secara kualitas setiap hari kami semakin bagus. Beda dengan musisi yang nggak mau belajar dan cuma memanfaatkan momen. Ada bakal buah yang masih hijau yang orang bisa tau ini bibit yang bagus ini yang nggak bagus. Itu harus dibedakan. Kalo yang nggak bagus ya udah disitu aja.

Lalu bagaimana Sheila On 7 melihat perkembangan musik pop Indonesia dewasa ini?

Eross: Nah itu. Sekarang banyak bibit yang jelek, yang nggak kemana-mana (tertawa). Gila deh. Nggak bisa disalahkan juga, karena budaya single, budaya sangat instan. Beberapa dari mereka mulai main musik buat cari duit. Itu udah salah banget. Bikin single yang reff-nya catchy, dijual di RBT, dapat uang tapi habis itu nggak tau mau apa. Beda sama awal-awal SO7. Kami memang orang yang mencintai musik.

Duta: Justru sekarang pop yang bahkan dibilang mainstream jaman Sheila On 7 dulu aja udah susah. Pergeserannya sudah jauh sekali kayak sekarang ada boyband lalu sempat dulu lagu Melayu. Kami sih pengen ada regenerasi. Apa yang kami mainin ada yang nerusin.

Lebih buruk?

Eross: Ya, lebih buruk lah. Rekaman dipermudah. Orang nggak bisa nyanyi, nggak bisa main gitar, nggak bisa ngedrum, nggak bisa jaga tempo, bisa aja take. Kalo dulu kan bener-bener belajar, bener-bener (memperhatikan) tempo. Sebenernya jadi musisi sekarang lebih susah. Jangan sampai terperosok sebagai musisi musiman. Musisi yang hanya dibantu sama alat yang nggak punya skill mumpuni. Bukan skillful tapi musik kamu harus bisa dipertanggungjawabkan. Itu yang sekarang tidak terpikirkan karena teknologi semakin berkembang. Kalo aku bilang generasi sekarang adalah generasi skip. Nggak perlu belajar dari bawah, langsung ke atas. Semuanya serba instan. Nggak suka satu album cuma suka dua lagu download aja udah. Itu namanya generasi skip.

Lalu bagaimana definisi pop easy listening yang ideal dari kacamata Sheila On 7?

Eross: Pop yang simpe itu tidak sesimpel sebenernya. Ada roots dan pakem yang harus dipelajari. Jadi yang kamu sampikan ke orang bisa berisi. Roots-nya jelas. Oke main musik Melayu. Menurutku musik Melayu itu bagus. Bule aja nggak bisa. Tapi musik Melayu yang gimana? Ya musik Melayu yang kamu harus bener-bener belajar basic-nya. Jangan kamu main di area itu-itu aja. Yang liriknya dibuat asal-asalan. Semakin asal semakin gampang dikenal.

Bagaimana Sheila On 7 menjaga mood lagu-lagunya mengingat saat ini semua sudah masuk kepala tiga, berkeluarga dan punya anak? Sementara dulu saat kali pertama muncul anda semua masih muda.

Eross: Itu yang masih saya pelajari sampai sekarang (tertawa). Dari 1999 sampai sekarang pasti ada perasaan, taste yang berbeda. Itu tidak bisa dipaksakan. Dan aku juga nggak mau maksain bikin lagu yang kayak jaman dulu lagi. Selain aku nggak mau juga aku gak bisa. Waktunya udah lewat. Aku harus bertahan dengan cara yang baru, nggak tau gimana caranya. Kalo dulu saya bikin lagu kayak storyteller. Keseharian yang saya alami, cerita teman nonton TV, baca buku. Sekarang beda. Saya pulang ketemu anak saya daripada main, ke bioskop. Faktor regenerasi fans juga. Ada yang suka kami bawain lagu-lagu lama, sementara fans yang baru kenal Sheila On 7 diem aja. Begitu juga sebaliknya.

Duta: Nah itu yang susah. Easy listening sebenernya cap aja. Kami nggak sampai untuk mengkotak-kotakkan apa yang kami bikin. Kami berpikir lirik ini jujur. Itu yang dialami. Nggak ada dilebih-lebihin, make-up story semacamnya. Lirik kami pasti terus berkembang. Yang pasti lirik gak sok puitis tapi maknaya luas. Kami nggak memaksakan seperti puisi. Sebenarnya banyak kata-kata yang dipakai sehari-hari. Pokoknya yang kami bikin ya sesuai hati nurani dan hasilnya orang yang ngikuti Sheila On 7 senang juga.

Tapi lagu "Generasi Patah Hati" di album Pejantan Tangguh seperti menunjukkan bahwa Sheila On 7 sudah berhadapan dengan fase yang berbeda ya?


Eross: Waktu lagu itu dibikin aku belum married. Duta yang udah married dan anak-anak kru juga mulai menikah. Mereka bercerita ternyata punya keluarga itu punya tanggung jawab. Seorang laki-laki setelah menikah mereka pasti punya visi berbeda. Dan itu aku rasain. Atmosfernya di S07 udah mulai berubah. Kita nggak semuanya bujang lagi. Disitu aku dapet kata-katanya, ”Ku bekerja siang dan malam…”. Kita tur siang dan malam di perjalanan buat anak dan istri bahagia.

Saya amati mood-nya lalu kembali lagi di album Menentukan Arah?

Eross: Aku nggak mau bohong bahwa aku bisa aja bikin sesuatu yang rumit yang aku suka. Tapi sekarang Sheila On 7 di industri. Kalo Sheila On 7 rodanya nggak berhasil muter akan banyak roda lain yang nggak akan muter dan akhirnya menyengsarakan banyak orang. Kami harus pintar, bisa dikatakan, manipulasi juga. Kamu dapat ide dari sesuatu yang berat. Bagaimana caranya kamu menerjemahkan ke dalam sesuatu yang ringan? Yang orang suka. Orang berpikiran ini lagu simpel sekali, cuma dapetinnya nggak simpel. Dari sesuatu yang lebih kompleks. Contohnya Sheila Gank (julukan penggemar Sheila On 7) . Mereka sangat ingin sekali diwakili di lagunya Sheila On 7. Bisa dikatakan salah satu faktor kami main musik ya Sheila Gank. Mereka kayak tone control. Wah, ini berlebihan mas aku terlalu berat. Itu harus kita pikirkan.

Masih ada keinginan untuk membuat album eksperimental seperti Pejantan Tangguh lagi?

Eross: Pasti akan ada waktu kami buat balik ke era Pejantan Tangguh. Tinggal tunggu mood-nya

Dengan kondisi industri musik yang serba tidak pasti, bagaimana Sheila On 7 menjadikan fanbase Sheila Gank sebagai faktor penyokong eksistensi Sheila On 7?


Brian: Sebenernya nggak pernah ada niatan kami set secara sengaja jadi fans kami. Justru disaat banyak orang nanya Sheila On 7 kemana, orang-orang ini yang dengan lantang ngomong saya Sheila Gank. Mereka berkumpul, bikin organisasi, ada ketuanya. Dari situ mereka sounding ke kami. Sebenernya agak kaget juga. Cuma kami percaya hal yang dibuat-buat nggak bertahan lama. Nah momen (konser ulang tahun ke-16 Sheila On 7) ini bisa dibilang Lebaran-nya Sheila Gank. Semua datang kesini, kumpul, kenalan, bikin kegiatan segala macem. Apapun aktivitas S07 dari manggung, di studio bikin album, mereka duluan yang kami sounding. Jadi mereka punya privilege ngerasa deket sama kami. Dari situ kami yakin Insya Allah akan lebih langgeng.

Faktor kecintaan pada musik serta dukungan fans. Inikah resep Sheila On 7 menjaga kesolidan hingga usia ke-16?

Brian: Sebenernya Sheila On 7 bukan contoh band yang awet karena ada pergantian personel. Tapi kami berusaha memperbaiki hubungan personal, hubungan dengan SG. Buat orang angka 16 udah lama banget tapi buat kami ngerasa belum banyak yang kami capai. Poin yang kami pegang, kami melakukan sesuatu yang kami suka dan cintai.

Termasuk tetap suka merilis album fisik dan tidak terjebak arus jualan single dan RBT?

Brian: Jelas kalau itu. Buat Sheila On 7 kami masih berpikir patokan musisi ya album. Sampai detik ini kalau kami seneng sama band ya kami beli albumnya. Disitu kami bisa lihat totalitas musisi itu. Kalo cuma satu dua lagu nggak cukup mewakili. kami nggak bisa pegang cover-nya. Ada hal yang lebih.

Duta: Sekali lagi kalo RBT cuma buat appetizer aku setuju. Untuk main course aku nggak setuju. Tetap CD.

Termasuk juga lebih suka menetap di Yogya?

Brian: Nggak lah, lihat aja udah pusing (tertawa).

Eross: Lupa mau pindah ke Jakarta (tertawa). kami berangkat saat masih 18-19 tahun, masih teenager. Kalo di Indonesia 18-19 tahun hidup sama orang tua nggak aneh. Kebetulan dulu ibuku sama aku ngontrak. Jadi begitu sukses aku buat rumah untuk ibuku dan aku di Jogja dong. Habis itu malah keterusan dan keenakan. Selama 16 tahun ini bolak balik nggak masalah. Nek mulih (kalau pulang, -pen) ya ke Jogja.

Tapi Sheila On 7 jadi jarang tampil di acara musik pagi ?
Eross: Ya, itu kami terima nggak masalah (tertawa)

Ada pesan untuk band-band yang akan memulai karier bermusik ?

Eross: Pasti ada band yang lebih keren dari Sheila On7. Yang belum keliatan. Pokoknya tetep percaya musik bagus akan tetap dihargai. Jangan melecehkan musik kalian sendiri. Aku tahu band-band sekarang yang ngetop beberapa dari mereka tidak memainkan musik yang mereka mau. Dan itu buatku memalukan sekali. Kalian, orang-orang yang masih percaya musik kalian dan melakukan apa yang kalian suka tidak mengikuti pasar, saya sangat menghargai itu. Kita sebagai musisi yang dikasih talent kalau sekali kami mengeluarkan produk yang tidak bertanggung jawab, yang seadanya, yang seenaknya, dimana sumbangsih kalian sebagai manusia?.

Duta: Kecintaan kamu sama musik akan dilihat saat kamu enak dan nggak enak tetap main musik. Main band sebetulnya nggak seenak yang dilihat. Nggak ada yang enak terus.. Kalo mau liat enaknya doang nggak akan berumur panjang. Pasti band karbitan.

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:  icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Sabtu, 25 Oktober 2014 17:16 WIB

Siap Saksikan Serunya Soundsfair Hari Kedua?

Siap Saksikan Serunya Soundsfair Hari Kedua?
Setelah sukses menampilkan sederet musisi di hari pertama, Soundsfair 2014 kembali digelar hari ini. Tak kalah menarik,..
 
Jumat, 24/10/2014 18:18 WIB

Tiket Konser 2PM di Jakarta Resmi Dijual Mulai Besok

2PM akan kembali menggelar konser di Jakarta pada 5 Desember mendatang di Istora Senayan Jakarta. Ini .....
 

Incoming

Rabu, 03/09/2014 11:55 WIB

Incoming: Gilbert Pohan: Penyanyi, Pencipta Lagu, Pendatang Baru, Pekerja Keras

Gilbert Pohan, penyanyi dan pencipta lagu pendatang baru yang berada di bawah naungan Musik Bagus Indonesia selaku platform..

Music Biz

Kamis, 14/08/2014 19:30 WIB

Jumat Akan Jadi Hari Rilis Musik Global

Setidaknya mulai setahun dari sekarang – sekitar Juli tahun depan – sebuah peraturan yang mengatur hari perilisan..

Q & A

Rabu, 01/10/2014 18:32 WIB

Q&A: Jack Antonoff (fun.,Bleachers)

"Saya sedang mencerna kenyataan bahwa saya yang membuat album ini,” kata Jack Antonoff. “Pada awalnya, ini terasa..