Selasa, 28/02/2012 14:10 WIB

Music Biz: Akhirnya, Ledakan Konser di Indonesia

Oleh: Wendi Putranto
Share :   
image
Ribuan penonton saat konser Maroon 5 di Istora Senayan 27 April 2011 (Foto: Soleh Solihun)
Jakarta -

Verdi, 35 tahun, kaget bukan kepalang saat mendengar berita dari situs RollingStone.co.id bahwa artis pujaan yang ia gandrungi sejak masa SMA puluhan tahun lalu hingga kini ia memiliki seorang putri yang masihbayi ternyata akan berkonser di Indonesia untuk pertama kalinya.

”Apa benar Morrissey akan datang ke Jakarta? Siapa promotornya? Berapa harga tiketnya? Kalau bisa jangan mahal-mahal dong, gue sudah punya anak nih, mesti beli susu bayi,” ujar Verdi sangat antusias saat menghubungi kantor majalah ini beberapa waktu lalu.

Ia mengaku belakangan jarang datang ke konser artis-artis internasional idolanya yang semakin gencar digelar di Jakarta. Alasannya sederhana saja, perbandingan antara gaji dengan kebutuhan rumah tangga membuat semuanya tidak masuk akal jika harus dituruti. ”Gue hanya bisa sedih menyaksikan beritanya di televisi setiap pagi. Band-band yang sebenarnya sudah puluhan tahun gue tunggu sekarang semuanya mendadak konser di Jakarta. Nggak mungkin ditonton semuanya. Sekarang nggak boleh egois, bisa gawat, bisa bubar rumah tangga,” imbuhnya dalam nada sedih tapi masih berusaha bercanda.

Zaman Verdi tumbuh remaja dan melewati masa-masa puber bersama musik-musik dari Morrissey, Napalm Death, Iron Maiden, Megadeth, Helloween, Sick of It All, menyaksikan semua konser artis tersebut adalah sebuah keniscayaan. Mengacu kepada Srimulat, itu adalah hil yang mustahal. Apa yang ia alami ini menjadi representasi jutaan anak muda era Orde Baru yang memang tidak seberuntung para penggemar band-band cadas
tersebut di negaranya.

Kerusuhan di luar stadion saat konser Metallica digelar oleh promotor AIRO pada 10 April 1993 silam yang membumihanguskan kawasan Lebak Bulus dan Pondok Indah akhirnya sukses merenggut mimpi para penggemar musik metal di Indonesia. Akhirnya sangat lama juga Indonesia absen dikunjungi band-band bertegangan tinggi. Di luar konser Bon Jovi pada 1995 atau Jakarta Pop Alternative Festival yang digelar Java Musikindo pada awal 1996 dan menampilkan Foo Fighters, Beastie Boys, Sonic Youth, hanya ada konser Green Day digelar di JHCC sepanjang 1996. Lalu Mr. Big sempat tampil di Bengkel Night Park, Jakarta, untuk kedua kalinya pada tahun 1997, tepat hanya beberapa bulan sebelum terjadinya krisis moneter berkepanjangan di Asia, termasuk di Indonesia.

Baru pada Juli 2001, Original Productions berani menggelar konser band pelopor speed thrash metal milik Dave Mustaine, Megadeth. Itu pun setelah digeser dari Jakarta hingga ribuan kilometer ke ujung Sumatera Utara, Medan, karena saat itu di ibukota terjadi pelengseran Presiden Abdurrahman Wahid oleh DPR RI.

Hanya berselang setahun sebelumnya segelintir anak-anak muda di Bandung secara diam-diam dan terbebas dari intaian imigrasi sudah mulai bergerilya dengan menggelar konser band metalcore asal Seattle, Washington, Himsa, di Buqiet Cafe. Mungkin konser ini tercatat sebagai yang pertama digelar promotor independen di Indonesia. Bahkan seusai konser Megadeth yang dilanjutkan dengan Scorpions di Bandung, tak banyak artis-artis internasional yang berkunjung ke Indonesia. Pascatragedi 9/11 di New York dan bom Bali 1, banyak artis asal Amerika Serikat yang menghindari tur konser di Indonesia karena adanya travel warning dari kedutaan AS.

Paceklik konser internasional pun berlanjut hinggga akhirnya Nepathya yang saat itu dikomandani oleh promotor senior Rini Noor di tahun 2004 menggelar konser Linkin Park di Pantai Karnaval, Ancol, yang dihadiri sekitar 30.000 orang penonton.

Baru pada 16 April 2005 sejarah dicatat oleh promotor independen Mipro yang berhasil memanggungkan pionir grindcore asal Inggris, Napalm Death, di Pantai Festival, Ancol, yang saat itu disaksikan lebih dari 7.000 penonton. Setelah konser yang terbilang sukses tersebut, bahkan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang karier Napalm Death sendiri, keran konser di Indonesia mulai terbuka lebar-lebar.

Promotor-promotor baru mulai bermunculan bak cendawan di musim hujan. Soundshine Events, Berlian Entertain-ment, Ismaya Live, Marygops Studio, Mahaka Entertainment, Big Daddy Live Concerts, Mediaworks, Showmaxx, 3 Oceans Live, Blade Indonesia, Indika Productions, Mahkota Promotions, Variant Entertainment, StarD Pro, Maqnet Entertainment, Show Nation, FM Live, NuBuzz, hingga BlackRock Entertainment.

Selanjutnya baca edisi 83

(RS/RS)


Hasil Rating Pembaca:  icon_star_officon_star_officon_star_officon_star_officon_star_off
Form Rating

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Kamis, 31 Juli 2014 10:00 WIB

'MINE' Jadi Lagu Paling Laris Petra Sihombing di iTunes

'MINE' Jadi Lagu Paling Laris Petra Sihombing di iTunes
Solois Petra Sihombing merupakan salah satu penyanyi muda berbakat yang ada di industri musik Tanah Air Indonesia...
 
Jumat, 25/07/2014 22:08 WIB

Gitar Hingga Sedan Milik Elvis Presley Akan Dilelang

Sebuah gitar Martin D-28, sedan Cadillac Seville 1976 serta naskah pribadi film pertama Elvis Presley, Love .....
 
 

Incoming

Rabu, 16/07/2014 19:30 WIB

Incoming: RABU: Duo Folk Mistik Pengantar Nuansa Bergidik

Orang-orang menyebut musik mereka mistis dan misterius. Ditambah dengan menggunakan foto taburan kembang ziarah sebagai sampul..

Music Biz

Rabu, 18/06/2014 19:59 WIB

YouTube Akan Hapus Video-video Musik Label Independen?

Situs berbagi video, YouTube dikabarkan akan menghapus video-video musisi yang berasal dari label independen menyusul sengketa..

Q & A

Senin, 21/07/2014 18:10 WIB

Exclusive Q&A: Anton Newcombe (The Brian Jonestown Massacre)

“Keep music evil,” itulah semboyan yang lantang diserukan oleh Anton Newcombe selaku aktor intelektual grup..