Minggu, 05/02/2012 13:02 WIB
Kelelawar Malam, Bangkit Dari Kubur

Kelelawar Malam (Foto: Ludmila Gaffar)
Berbicara di ranah lokal, awal tahun ‘70-an juga akrab dengan beberapa aksi shock rock seperti AKA, dengan vokalis almarhum Ucok AKA dikenal terobsesi akan gaya Alice Cooper, de-ngan melibatkan tiang gantungan maupun peti mati di atas panggung. Atau Rawa Rontek dari Banten yang sedikit lebih ekstrem dengan memperkenalkan konsep pertunjukan rock digabung dengan aksi tradisional debus.
Jeda lama pun terjadi di scene musik lokal. Setelah tiga puluh tahun kemudian, baru ada sebuah band punk rock asal ibukota bernama Kelelawar Malam yang merilis karya berkualitas dengan tema horor yang mengedepankan nafas lokal yang pekat.
Band yang terbentuk tahun 2008 ini memiliki anggota yang menggunakan nama panggung sesuai tema band. Vokalis/gitaris Sayiba von Mencekam merupakan pendiri band ini, sebenarnya memiliki nama asli Sayiba Rahmat Bajumi. Pria ini sembari bercanda dijuluki sebagai ‘Ahmad Dhani’-nya Kelelawar Malam oleh teman-teman bandnya. Kepada Rolling Stone, band ini mengaku bahwa istilah ‘mencekam’ merupakan favorit para personel Kelelawar Malam. Sempat menjadi bahan rebutan namun sudah terlanjur diambil oleh Sayiba, hingga vokalis/bassist Unggul “Deta” Triwidetya harus puas dengan ‘Deta Beringas’, lead guitarist Muhammad Fahri memilih ‘Fahri al-Maut’, dan drummer Rangga (Apin) Adi Saputro dipilihkan nama ‘Apin Kiamat’. Julukan terakhir dipilih karena, menurut teman bandnya, kelakuan Apin mencerminkan akhir zaman.
Punk rock menjadi musik pilihan Kelelawar Malam. Ini juga disebabkan oleh kecintaan mereka terhadap The Misfits, yang membuat mereka bertemu dan mendirikan Kelelawar Malam di awal kemunculannya. “Tadinya gue punya band bernama Kelelawar Hitam yang memainkan heavy metal ala Motorhead dan Iron Maiden,” kenang Deta dan Fahri. Setelah bertemu dengan Sayiba, nama kemudian berubah.
Karakter Sayiba, terutama dari sisi vokal yang sangat menyerupai Iwan Fals, merupakan ciri yang membuat Kelelawar Malam memikat. “Gue memang sadar suara gue mirip Iwan Fals. Dulu gue memang punya band bawain lagu Iwan Fals juga sih,” ujar Sayiba mengaku.
Album pertama mereka yang berjudul sama dirilis akhir tahun 2010, merupakan tribut dan juga pameran obsesi mereka terhadap horor lokal. Mereka sukses melakukannya dengan serius namun santai. Memberikan efek kejut yang mampu membuat bergidik lewat amunisi musik yang mentah, dingin, misterius, namun tetap melodius. Di debut mereka, Sayiba bersilat bahasa memuncratkan lirik-lirik tajam: “...Kuangkat tubuh kakumu dari lubangmu/Paku besar kutusuk di pucuk kepala/Guntur menggelegar keras penuh amarah/Seperti menolak apa yang akan terjadi..” (“Malam Jumat Kliwon”).
“Lagu ini terinspirasi dari film kuntilanak yang diperankan Suzanna,” tukas Sayiba. Namun bukan hanya Suzanna yang jadi tokoh sentral. Dihembuskan pula tema berbeda pada nomor lain seperti “MalamTerkutuk” yang menceritakan proses pembakaran tukang sihir, atau “Bangkit dari Kubur” yang bercerita tentang pocong, serta “Palu Keadilan” bercerita tentang zombie yang hidup kembali.
Juaranya adalah penghormatan terhadap tema horor ini bukan berhenti hanya di lirik lagu dan musik yang berkualitas. Mereka rela memberikan upaya lebih untuk tampil berkonsep saat live. Orang yang sengaja didandani seperti kuntilanak muncul di antara penonton. Personel band membakar kemenyan sebelum tampil, melempar melati ke penonton, wajah disimbah darah buatan, serta yang paling sering menghias panggung Kelelawar Malam adalah beberapa onggok pocong yang kerap bertengger jadi pengawal panggung mereka.
“Mereka ini budaknya Apin. Anak-anak yang satu kompleks dengan Apin di kompleks DKI daerah Joglo,” kata Deta setengah bercanda. “Kami ingin memanusiakan pocong,” kata Deta melanjutkan.
Memanusiakan pocong (juga memocongkan anak kompleks) memang sudah jadi tanggung jawab Deta di Kelelawar Malam. Dari mulai pocong, kuntilanak, dan segala estetika artwork dipegang penuh kendalinya oleh Deta, dan ia andal melakukannya. Asumsi kami kemampuan tersebut dimilikinya sebagai lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Fahri juga lulusan seni rupa ITB, namun kemampuannya lebih difokuskan untuk bermain gitar dengan apik dan memperkaya musik Kelelawar Malam. Sedang Sayiba bertugas dalam hal konsep lirik dan lagu. “Kelelawar Malam itu terpaksa jadi solid,” tegas Sayiba bercanda. “Nggak ada yang bisa dipecat di band ini, kalau gue keluar, yang bikin lirik siapa? Kalau Deta keluar, nggak ada yang bikin visual. Kalau Fahri keluar, nggak ada yang bisa main gitar jago. Kalau Apin keluar, kita nggak punya budak yang mau disuruh-suruh jadi setan,” lanjut Sayiba.
Selanjutnya baca edisi 82
(RS/RS)
Hasil Rating Pembaca:
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:



Sending your message





