Rabu, 26/10/2011 10:34 WIB
Soundwaves: Adhitia Sofyan: Dari Musik Gratis Sampai Tur ke Jepang

Adhitia Sofyan (Foto: Dok. Adhitia Sofyan)
Walaupun saya bekerja di bidang creative communication, hobi dan cinta utama saya adalah musik dan gitar. Lantas mengapa saya tidak bermusik serius saja sejak dulu? Saya sudah coba, namun tidak berhasil. Tahun 1996, saya gagal masuk Berklee College of Music di Boston karena pengetahuan musik dasar saya yang kurang. Bahkan setelah menyelesaikan kuliah di bidang graphic design dan multimedia di Sydney tahun 1999, saya pulang ke Solo untuk merekam demo album projek solo. Di tengah usaha menitipkan kaset demo ini ke radio-radio di Solo dan sekitarnya, serta manggung-manggung kecil bersama band pendukung, saya mendapat panggilan kerja sebagai graphic designer di sebuah biro iklan di Jakarta. Buat saya kala itu, selesailah cita-cita bermusik, kiranya musik hanya ditakdirkan sebagai hobi sampingan. Hidup saya akan saya jalankan di bidang yang sesuai dengan pendidikan saya: desain komunikasi.
Delapan tahun saya berkecimpung di dunia kreatif komunikasi, iklan dan seputarnya. Ini sudah menjadi jalan hidup yang normal bagi saya, oleh sebab itu juga, bagi-bagi musik di Internet adalah hal yang sangat normal bagi saya. Saya tidak berpikir untuk bagi-bagi musik gratis, saya lakukan begitu saja secara otomatis. Rencana serius di musik sudah saya coba dua kali delapan tahun lalu dan tidak berhasil. Dunia periklanan adalah kehidupan saya, I had everything I need, so free music for all, nothing to lose.
Namun apa yang saya dapat dalam tiga tahun bagi-bagi lagu gratis? Lagu ”Adelaide Sky” masuk dalam album kompulasi Prambors Nubuzz 1.1, Lagu itu juga menjadi soundtrack sebuah film, dan menghasilkan undangan gig di kota-kota besar Indonesia, bergabung dengan salah satu label independen terkemuka Demajors, dua kali manggung di Esplanade Theater, Singapura, dua penghargaan dari ICEMA (Indonesian Cutting Edge Music Award), diundang tampil di acara musik bergengsi Harmoni SCTV bersama Andi Rianto, satu lagi lagu saya ”City of Flowers” menjadi soundtrack film, lagu ”Adelaide Sky” masuk dalam kompilasi Mercedes Benz Mixed Tape, dua album saya dirilis di Jepang, tur 10 hari di Kobe, Fukuoka, Kamakura dan Tokyo di depan warga Jepang di sana. And everything in between.
Saya diundang tampil di Jepang oleh sebuah record store/label independen di Kobe setelah mereka menemukan saya di Internet. Awalnya dari permintaan 20 keping album Quiet Down untuk dijual di sana, lalu bertambah menjadi 30 keping, lalu 300 keping, 400 keping, hingga akhirnya mereka ingin mencetak sendiri kedua album saya ke dalam edisi Jepang untuk dijual di sana. Sambutan pendengar di Jepang terhadap musik saya, di luar dugaan, sangat bagus. Saya juga masih terbengong-bengong mengapa bisa begitu. Saya pun diundang tampil di Jepang oleh Disquess Dessinee, label saya di Jepang, pada pertengahan September 2011 selama 10 hari.
Nampaknya kali ini Tuhan serius dengan rencana bermusik saya. Dia hanya menyimpannya hingga waktu yang tepat, jadi saya tidak gagal bermusik. Baru-baru ini mantan CEO Apple, Steve Jobs, meninggal dunia. Berbagai cerita, perjalanan hidup dan kutipan-kutipan Steve Jobs bermunculan di dunia maya. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah, “You can not connect the dots looking forward, you can only connect the dots looking backwards.”
Dengan gagal masuk Berklee, saya merasa diberi tahu bahwa tidak harus selalu sekolah kalau mau bermusik, dan lagipula saya tidak begitu suka mempelajari musik, saya lebih suka memainkannya. Demo proyek solo yang saya buat selesai kuliah di Sydney tidak berhasil karena waktu itu saya belum dewasa bermusik, masih berubah-ubah. Saya seperti disuruh menunggu sampai saat yang tepat hingga memiliki identitas musik yang konsisten dan matang. Pengalaman bekerja di periklanan cukup memberi saya bekal dalam bermusik dari segi marketing komunikasi sampai mendesain sampul album. Dengan bagi-bagi musik di Internet, kita mempermudah orang di seluruh dunia untuk bertemu dengan musik kita, mungkin seseorang di Jepang? Mungkin orang ini bekerja di sebuah label musik? Mungkin mereka bisa mengundang kita tampil di sana?
Saat ini saya serius bermusik, bertemu kembali dengan cinta lama saya. Saya juga masih aktif bekerja di perusahaan yang dikelola bersama istri, dua-duanya saya jalankan sebagai bentuk kontribusi hidup yang bisa saya lakukan. “Jadi, Mas, kenapa sih lagu-lagunya dibagi-bagikan gratis di Internet?” Saya senyum-senyum saja.
(RS/RS)
Hasil Rating Pembaca:
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:




Sending your message





