Jumat, 30/09/2011 10:39 WIB
Soundwaves: Melanie Subono: Seni Adalah Obat Saya

Melanie Subono (Foto: Dok. Melanie Subono)
"Kok lama menghilang sih? Harus konsisten dong, berkarya nonstop, jangan setengah-setengah."
"Power suara lo kurang ya belakangan ini. Gimana mau ngerock"
"Gerak cepat dong, karier itu dibatasi sama umur, makin tua akan makin susah."
"Kenapa sih tema elo selalu wanita, sahabat, nggak komersial ah. Susah dijual."
Pada dasarnya semua seniman bemimpi untuk bisa berkarya, semua wanita bermimpi untuk bisa menjadi wanita sempurna, dan semua manusia bermimpi untuk bisa punya kesempatan mendapatkan hak yang sama.
Dan pada dasarnya semua orang pun menyadari perbedaan mimpi dan kenyataan.
Mimpi saya adalah: Menjadi seorang seniman di warna musik rock yang sangat saya cintai, dan sebagai seorang wanita seutuhnya, saya bisa menyebarkan pesan-pesan kewanitaan melalui karya saya, dan bisa diterima secara luas.
Itulah mimpi saya di awal saya menetapkan apa yang mau saya lakukan dengan hidup saya, sampai akhirnya saya bertemu dengan beberapa kenyataan.
Pada kenyataannya, tidak semua karya seniman bisa diterima, tidak semua manusia bisa mendapatkan hak yang sama, dan saya bukanlah wanita seutuhnya.
Hal itu pertama kali saya temukan sekitar 15 tahun lalu, saat saya mulai menemukan masalah dengan perut saya. Mungkin awalnya hanya berupa kista biasa, dan hampir semua wanita yang sudah menginjak dewasa mempunyai kista.
Lalu kista berkembang menjadi mium, dan mium berkembang menjadi apapun yang ada di dunia kedokteran, kemudian menjadi pendarahan, kemudian menjadi migren nonstop, kemudian menjadi tumor sebesar dan seberat nyaris bayi, dan kemudian berkembang menjadi sel kanker yang standby dengan anteng menanti keputusan tindakan berikutnya.
Selama belasan tahun itu, saya mengisi hari-hari dengan rasa PMS (premenstrual syndrome/sindrom pramenstruasi) 24 jam 365 hari setahun, puluhan suntikan, puluhan tabung darah diambil, operasi kecil, operasi sedang, lebih dari satu kali caesar besar tanpa ada suara tangisan bayi sehabis itu, pengurangan hormon A, lalu penambahan hormon B karena tidak seimbang, penyuntikan nuklir ke badan untuk pemeriksaan kanker, pain killer, vitamin darah, suntikan hormon lagi, puluhan tangan dokter yang masuk ke dalam badan, kantong darah digantung di paha tersambung dengan selang sampai punggung, dan entah apa lagi.
Does it stop me? No.
Saya mencoba mengikuti mimpi saya. Mulai dari modelling, menjadi juara Elite Model LOOK dan harus saya lupakan karena kondisi badan yang turun naik. Mimpi saya untuk go international harus saya sudahi karena pada umur produktif saya itulah masa paling banyak saya berobat. Dan akhirnya saya lari ke musik dan menulis.
Dengan bangga saya berhasil menelurkan hampir tiga buku, hampir tiga album solo, dua album di mana saya ikut tampil, berbagai tulisan di media, dan dalam tahun-tahun ini juga saya semakin gencar menyuarakan hak asasi, hak wanita, yang sayangnya bukan hal yang diminati di sini.
Di tahun ke 15 ini, saya berjuang setiap hari dengan migren di kepala, dengan mood yang semakin berantakan, dengan kenyataan bahwa saya tidak bisa punya anak, dengan kenyataan bahwa bayi tabung adalah hal terlarang untuk saya, dengan kenyataan bahwa lebih banyak masa di mana saya tidak bisa melayani seorang suami dengan kondisi pendarahan.
Hari ini, di bulan Agustus 2011 ini, saya belajar bahwa saya akan menopause, saya mengalami hot flush beberapa kali sehari, saya punya dua benda tumbuh lagi di kanan dan kiri perut saya, masing masing sudah mencapai ukuran 3 dan 7 cm.
Hari ini, saya siap berangkat ke studio untuk menyelesaikan album baru, buku baru dan akan saya persembahkan sebelum akhir tahun ini.
Tak lama lagi, mungkin saya akan segera mengalami satu operasi lagi yang akan menuntut saya LAGI-LAGI untuk mulai belajar duduk, belajar batuk, belajar berdiri belajar jalan, apalagi belajar bernyanyi, apalagi bernyanyi rock.
Tak lama lagi, mungkin saya akan kembali mendengar pertanyaan-pertanyaan, "Kok lama banget sih albumnya keluar?", "Kok makin lemah, power suaranya hilang,", "Kok badannya begitu sih sekarang,", "Aduh, lagunya kok masih soal wanita, soal semangat sih?"
But who cares. Seni adalah obat saya. Jutaan orang jauh lebih tidak beruntung daripada saya. Pertanyaan dan statement itu tidak akan menghentikan saya. Begitu juga dengan semua sahabat di luar sana.
Jangan pernah berhenti bermimpi. Mimpi adalah obat yang tidak bisa Anda beli.
Tidak ada yang berhak menghentikan mimpi Anda, apalagi kalau hanya didasarkan atas penilaian cetek semata.
Mungkin saya akan punya 10 album lagi, mungkin saya tidak akan ada selama itu. Yang jelas, selama saya bisa, saya akan terus berteriak mengenai hak, mengenai kebebasan, mengenai mimpi, mengenai wanita.
Semua orang punya hak bermimpi yang sama. Seperti juga semua wanita itu cantik tercipta.
Dan sekali lagi, nama saya Melanie. If you don’t like me, too bad, that’s still your damn problem.
(RS/RS)
Artikel Lain
Hasil Rating Pembaca:
Komentar terkini (1 Komentar)
Arif
Nice Article and Very Inspiring!!!
Nice Article and Very Inspiring!!!
| Suka | Laporkan
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:



Sending your message





