Senin, 15/08/2011 13:36 WIB
Soundwaves: Suara Rakyat Bukan Suara Tuhan

Christopher R. Weingarten, seorang kritikus musik sempat melontarkan dua poin penting dalam tulisannya "Twitter & Death of Music Criticism". Pertama; blog-blog musik menurutnya telah membunuh jurnalisme musik sekaligus memadamkan kekritisan individu dalam menilai musik. Kedua; Twitter sebagai perwakilan mayoritas bukanlah parameter musik bagus yang layak dengar.
Saya tidak sepakat pada poin pertama. Meski 1 berbanding 1000, banyak blog musik yang hadir di akhir jaman seperti sekarang ini dengan penulisan bagus, yang bisa menggantikan majalah musik yang selalu menyarankan musik-musik menyebalkan yang begitu-begitu saja.
Bagi kita-kita yang lelah mendengarkan para editor majalah-majalah musik bersampul glossy mengoceh tentang apa yang bagus untuk didengar, blog musik merupakan sumber lain untuk bisa mencari 'kebenaran' diluar perspektif kanon-kanon esktetika para kritikus musik. Mirip filosofi fanzine; dari penggemar untuk penggemar, blog musik menawarkan playlist menarik yang datang dari passion sang pembuat bukan dominasi selera ala pasar dan majalah musik yang absurd.
Tak usah jauh-jauh membahas ST12 atau Sma*sh, silahkan lihat Top10 Rolling Stone Indonesia hari ini, memangnya siapa dari kita yang memasukkan Raisa atau album baru Gigi dalam playlist seperti mereka?
Oleh karena itu pula, saya akan bersepakat 100% untuk poin Weingarten kedua, dalam bahasa dia; "people have awful taste", dan Twitter atau apapun itu yang membasiskan nilai pada kuantitas content, crowdsourcing, search engine optimization atau apalah itu sudah mirip proses pemilu kita yang mudah diprediksi siapa pemenangnya dan hasilnya begitu-begitu saja.
Mayoritas rakyat kita memang terkenal memiliki selera buruk dalam kotak suara (kalo punya selera bagus sudah pasti nggak akan pada datang ke tempat nyoblos karena memang nggak ada pilihan yang bagus) dan beruntunglah kalian yang tidak pernah percaya pada sistem parlementariat dan memutuskan menjadi ‘elit’ seperti para Situasionis 68 tak peduli apapun kata ‘rakyat’.
Untuk contoh kasusnya, mari lihat kasus album baru Jay-Z dan Kanye West yang luar biasa dinanti-nanti dunia melebihi histeria massal Justin Bieber. Secara historis, kedua MC ini memang punya daya tarik berlebih, namun semuanya serasa berlebihan ketika sampai di jaman ini dimana Twitter jadi altar nilai.
Album Watch The Throne ini sungguh buruk, bahkan untuk ukuran penggemar Jay-Z era Black Album atau Kanye West era College Dropout. Tanpa harus muak dengan beat-beat hiphop crunky, suara autotune dan synthe yang sok baroque sekalipun, album ini berak secara musikal meski digawangi sederetan produser hiphop handal dari Swizz Beat, Q-Tip sampai RZA.
Jangankan track yang diproduseri oleh Kanye sendiri, bahkan lagu "New Day" yang mengambil sample Nina Simone (di-autotune, oh tuhan!) dan diproduseri RZA dari Wu-Tang sekalipun terdengar seperti pelecehan terhadap Nina Simone dan Wu-Tang Clan. Lalu lirik? Sudah bukan lagi keterlaluan menyebalkan. Mereka berkoar menyatakan mereka telah melampaui bling-bling dan memasuki tahap luxury rap dimana yacht, sampanye botol emas, berlian dan mobil-mobil eksklusif bukan lagi sekedar pembendaharaan rima mereka.
Puncaknya, silahkan dengar sendiri "Otis" yang mengambil sample "Try a Little Tenderness"-nya Otis Redding, dan mengisinya dengan lirik rap sampah tentang sepenting apa figur orang kaya seperti mereka. Cuih. Lagu Otis Redding yang soulful menakjubkan penuh ‘soul’ mendadak hancur ditangan mereka, yang sakit ‘soul’ (baca: sakit jiwa) karena kebanyakan uang.
Di tengah resesi dunia, krisis energi, ketimpangan sosial, okupasi korporasi di belahan-belahan dunia ketiga dan insureksi global di hampir setiap benua, mendengarkan album ini seperti mendengarkan CEO Freeport dan Aburizal Bakrie menyombongkan sekaya dan sepenting apa diri mereka di dunia ini tanpa memperhitungkan betapa muak dunia terhadap mereka.
Untungnya, sekali lagi, passion terhadap musik bukan demokrasi. Segila apapun album ini diresensi bagus oleh media (baik blog musik ataupun majalah musik besar), tak akan mengubah fakta bahwa ini album buruk. Seobjektif apapun sebuah komentar subjektif tak didengar dunia, tak masalah.
Persis seperti ketika semua orang dari Sabang sampe Merauke mendengarkan ST12. Pula sebaliknya, siapapun yang tak menyukai album-album buruk tak serta merta kemudian menggenggam nilai kebenaran estetis absolut yang harus diikuti oleh khalayak. Kita hanya sedikit tersadarkan bahwa hidup terlalu pendek dan berharga untuk dihabiskan mendengar album-album menyedihkan.
Mungkin ini pelajaran yang bisa diambil dari seni, jika memang ada.
Masih niat ikut pemilu?
----------------------
*Penulis juga dikenal sebagai Ucok dari grup hip-hop Bandung yang kini telah bubar, Homicide. Ini merupakan kolom pertama Ucok di Soundwaves Rolling Stone Online yang akan hadir reguler setiap pertengahan bulan.
(RS/RS)
Hasil Rating Pembaca:
Komentar terkini (22 Komentar)
moelna
Tow Vand: apa benar albumnya terbatas? apa kurang laku? kalo terbatas banyak yang suka albumnya di produksi ulang lagi dund..
Tow Vand: apa benar albumnya terbatas? apa kurang laku? kalo terbatas banyak yang suka albumnya di produksi ulang lagi dund..
| Suka | Laporkan
bigbro
wacana tanpa aksi adalah sampah masa kini. anda bukan org pertama berwacana seperti itu, org2 pinggiran pun sudah tau klo hany hal itu, dgn tulisan ini anda masih tampak tidak dewasa dan merasa benar. ap yg dilakukan setiap musisi adlah pilihan, ingin idealis, komersialis, atau mnggabungkan keduanya. tidak ada yang salah. yang salah adalah yg tidak mau memahami dan hanya bisa menghujat. rollingstone jg malah menyaring banyak komentar, tapi masih ad komentar ejek2an dalam komen2 yg ada disini. bagaiamana RSI..???
wacana tanpa aksi adalah sampah masa kini. anda bukan org pertama berwacana seperti itu, org2 pinggiran pun sudah tau klo hany hal itu, dgn tulisan ini anda masih tampak tidak dewasa dan merasa benar. ap yg dilakukan setiap musisi adlah pilihan, ingin idealis, komersialis, atau mnggabungkan keduanya. tidak ada yang salah. yang salah adalah yg tidak mau memahami dan hanya bisa menghujat. rollingstone jg malah menyaring banyak komentar, tapi masih ad komentar ejek2an dalam komen2 yg ada disini. bagaiamana RSI..???
MasrumHead
Kurang realistis, kurang nyata komentarnya. Kuping juga kuping orang ga bisa sih aslinya mau di bedain mana yang selera pasar ato yang enggak karena setiap musik mau Underground apa enggak ada pasarnya sendiri-sendiri sekarang ini. Contoh deket Death Metal deh yang sekarang bergaung dimana-mana, semua label larinya kesitu, pemasaran mulai kaos sampe rilisan death metal semua, akhirnya dari DeathMetal yang Underground sekarang juga jadi pasaran kan? Intinya gak ada yang perlu disalahkan kok.
Kurang realistis, kurang nyata komentarnya. Kuping juga kuping orang ga bisa sih aslinya mau di bedain mana yang selera pasar ato yang enggak karena setiap musik mau Underground apa enggak ada pasarnya sendiri-sendiri sekarang ini. Contoh deket Death Metal deh yang sekarang bergaung dimana-mana, semua label larinya kesitu, pemasaran mulai kaos sampe rilisan death metal semua, akhirnya dari DeathMetal yang Underground sekarang juga jadi pasaran kan? Intinya gak ada yang perlu disalahkan kok.
PlatoDiSarangPenyamun
Quotes yang cocok untuk situasi seperti ini, 'Yah orang kan beda-beda!' - Chikita Meidi circa 1786.
Quotes yang cocok untuk situasi seperti ini, 'Yah orang kan beda-beda!' - Chikita Meidi circa 1786.
agung
mumet mas baca ulasan sampean....terasa seperti orang yang ga trima dengan kondisi musik sekarang..kami para pendengar musik butuh orang yang bisa 'action langsung' terlalu banyak orang pintar yang berwacana di negeri ini
mumet mas baca ulasan sampean....terasa seperti orang yang ga trima dengan kondisi musik sekarang..kami para pendengar musik butuh orang yang bisa 'action langsung' terlalu banyak orang pintar yang berwacana di negeri ini
Sandz
Artikel yang merupakan penjabaran dari Album Hiphop is Dead-nya Nas.
Hiphop yang udah mati dan salah kaprah, meski masih ada segelintir yang berupaya mengakulturasi budaya Impor ini tetap pada jalurnya.
Artikel yang merupakan penjabaran dari Album Hiphop is Dead-nya Nas.
Hiphop yang udah mati dan salah kaprah, meski masih ada segelintir yang berupaya mengakulturasi budaya Impor ini tetap pada jalurnya.
putrapetir
justru yang paling lucu tuh statement lu putradesa, memang nya hidup cuman sekedar dengerin lagu yg topik nya melulu rayuan gombal dan sengketa seputar * ? blah!
justru yang paling lucu tuh statement lu putradesa, memang nya hidup cuman sekedar dengerin lagu yg topik nya melulu rayuan gombal dan sengketa seputar * ? blah!
skyscrapers
gag salah lo pake nama 'putradesa' ( dengan banggax ) , cz penafsiran lo terhadap sebuah argumen standar orang primitif !
gag salah lo pake nama 'putradesa' ( dengan banggax ) , cz penafsiran lo terhadap sebuah argumen standar orang primitif !
Tow Vand
@esteh2gelas: beliau bukan orang yg lagunya nggak laku tapi emang lagu beliau di jual dengan stok terbatas..
ente nggak tau apa-apa jangan asal nyolot..
@esteh2gelas: beliau bukan orang yg lagunya nggak laku tapi emang lagu beliau di jual dengan stok terbatas..
ente nggak tau apa-apa jangan asal nyolot..
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:



Sending your message





