Jumat, 22/07/2011 10:12 WIB
Yockie Suryo Prayogo: Efek Rumah Kaca dan Sore Disingkirkan Industri
Menurutnya itu karena mereka peduli pada hal lain selain ekonomi.
Yockie Suryo Prayogo (Foto; Rama Wirawan)
Pandangan tersebut didasari pada pemikirannya bahwa pop seharusnya mempunyai muatan yang bermanfaat bagi peradaban dan kebudayaan. Sedangkan saat ini, menurut Yockie, pop sedang ditunggangi oleh kepentingan ekonomi dan politik yang membuat aspek kulturalnya diabaikan.
Selain itu, Yockie melihat musisi-musisi era sekarang yang berupaya untuk tetap memberikan perhatian pada aspek selain ekonomi disingkirkan oleh industri. “Banyak anak-anak muda yang seperti saya maksudkan tadi. Ada Efek Rumah Kaca, ada Sore, ada macam-macam. Cuman peranan mereka disingkirkan. Dianggapnya, ‘Ngerusuhin aja nih. Bikin pusing aja!’” kata Yockie.
Menurut Yockie, kultur pop seyogyanya tidak lepas dari kebudayaan secara utuh. Sedangkan ia melihat banyak band-band baru bermunculan yang hanya memikirkan aspek ekonomi saja. “Anak muda sekarang tahunya main musik pokoknya harus ada duit, terkenal, jadi selebritis. Selesai sampai di situ. Dia tidak bersentuhan dengan aspek-aspek lainnya. Dia tidak bersentuhan dengan Nazaruddin, Lapindo. Urusannya cuma ‘aku cinta padamu’, ‘aku ingin kamu’, ‘sayangilah aku’, ‘cintailah aku’, urusannya cuma sebatas itu aja,” ucap Yockie saat berbincang-bincang dengan Rolling Stone.
“Tidak harus berpolitik. Cuman peka terhadap lingkungan, apa yang terjadi di lingkungan. Efek Rumah Kaca dianggap sama industri kan, ‘Ah ini bukan pasar ini. Orang-orang nyentrik.’ Kasarnya kan begitu. Sama kayak saya jaman dulu juga sempat digituin,” imbuh pria berusia 57 tahun yang telah menciptakan banyak lagu untuk penyanyi seperti Vina Panduwinata, Fariz RM Nicky Astria, Chrisye dan lain-lain itu.
“Karena itulah dulu saya bikin Musik Saya Adalah Saya [album Yockie tahun 1979],” imbuhnya lagi. “Itu juga kondisinya kayak begitu dulu. Saya dianggap nyeleneh. Saya bikin sendiri aja. Makanya saya katakan, ‘Gua nggak mau diatur sama industri.’”
Yockie kemudian mengatakan, berkesenian adalah bagian interaksi dengan kondisi sosial masyarakat. Dan karenanya bermusik baginya merupakan pengabdian terhadap kehidupan yang dibingkai dalam sebuah karya seni. Untuk itu Yockie berpikir bahwa dalam menciptakan musik, idealnya seorang musisi tidak boleh lepas dari realitasnya. “Lepas dari realitas inilah yang dipelihara sama industri sekarang, ‘Udah, segini aja lo.’ Malah dieksploitasi habis-habisan,” tandasnya.
(RS/RS)
Artikel Lain
Hasil Rating Pembaca:







Sending your message



