Kamis, 30/06/2011 17:11 WIB
Diplomasi Kebudayaan simakDialog

Riza Arshad (Foto: Dok. Pribadi)
simakDialog diajukan oleh rekan Agus wartajazz (salah satu media partner Serambi Jazz) serta terpilih berdasarkan review dari ber-bagai negara di Amerika dan Eropa (melalui label rekaman Moonjune Records, NY) oleh dewan kurasi jazzahead 2011 untuk tampil dan memenuhi undangan ini. Hubu-ngan baik antara Bremen Jazzahead dan Goethe Institut pusat di Hamburg – sebagai institusi partner melalui Goethe Indonesien untuk program ‘Serambi Jazz’ Jerman – turut menjadi sarana kolektif tersebut di atas memungkinkan rencana ini berjalan.
Grup musik simakDialog tampil di jazzahead 2011 Bremen adalah langkah awal dari hasil hubungan antarinstitusi yang terjadi dalam program Serambi Jazz. Sejak 2001, simakDialog tampil menggunakan kendang dan dua tahun kemudian kami memutuskan menggunakan kendang sebagai pengganti drum.
simakDialog tampil di urutan terakhir di program overseas night, di mana ada empat grup musik yang tampil yaitu Trichotomy (Australia), Hamilton de Holanda (Brazil), Rafael Zalvidar Trio (Canada) dan Indonesia sebagai wakil Asia kali ini. Karakter musik yang unik dari para penampil adalah alasan diundangnya empat grup ini.
Kami mendapat giliran soundcheck pertama pada pukul 13:45. Setup panggung dengan dua kendang dan Rhodes piano (elemen dasar grup simakDialog). Usai soundcheck, kami kembali ke hotel untuk berkemas dan berada di venue lagi kurang lebih dua jam menjelang main. Saat yang ditunggu tiba. Pieter Schulze, konsultan artistik jazzahead, membuka dengan memberi penjelasan singkat keber-adaan dan sosok simakDialog.
Grup kami memiliki setup dan konsep musik yang ’tak biasa’ karena penggunaan dua kendang Sunda dan perkusi logam yang ber-asal dari gamelan. Lagu ”Karuhun” menjadi pembuka, unsur funk yang erat dengan greget tetabuhan kendang ditampilkan. Dilanjutkan dengan ”Disapih”, di sini kendang menjadi penuntun tema lagu, adaptasi dari tradisi kendang pencak.
Dilanjutkan dengan lagu balada ”unfaded hopes” yang menampilkan Nikita Dompas, gitaris muda berbakat yang memiliki karakter dalam permainannya, sebagai pengganti rekan gitaris Tohpati yang berhalangan karena harus tampil di Brazil bersama grupnya. Sebagai lagu ketiga, kami memainkan komposisi baru untuk album ke-6, Harmologic, yang terinspirasi dari konsep freejazz Ornette Coleman. Bedanya, kami melakukan di tengah ritme kendang!
Dan sebagai komposisi terakhir adalah ”Kemarau”, yang terinspirasi dari pola poliritmik gamelan yang diramu secara kontemporer. Pertunjukan kami usai pukul 12:45, nyaris kelebihan 20 menit. Namun sebagai penampil terakhir, hal ini bukan masalah.
Keesokan harinya di area eksibisi. Pengunjung yang datang malam itu dan tak sempat bersapa karena sudah larut malam (kami tampil Kamis malam, masih dalam hari kerja) menemui kami baik di area eksibisi maupun di stand wartajazz. Berbagai kalangan baik musisi, penikmat dan radio sebagian sempat berjumpa, terkesan pada ’bunyi lain’ pada musik kami.
Mengutip tulisan rekan saya Agus Basuni di situs wartajazz.com: “Rasanya tak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa publik Eropa bahkan dunia secara relatif tak terlalu mengenal jazz dari Indonesia. Dalam buku program yang disusun panitia, mereka bahkan menulis seperti ini, “Jazz from Indonesia, you might ask – the answer is yes, and not just since yesterday. Simakdialog was formed in 1993 by pianist Riza Arshad…”.
Penampilan simakDialog dalam jazzahead 2011 setidak-tidaknya ingin menyampaikan sejumlah pesan pada kita di Indonesia dan publik jazz dunia, khususnya Eropa. Pertama, bahwa kekayaan tradisi Indonesia dapat menjadi sebuah kekuatan baik secara instrumentasi maupun secara spirit dalam penciptaan karya musik, dalam hal ini jazz.
Kedua, pasar jazz dunia khususnya Eropa secara relatif belum mengenal musik jazz berbalut tradisi ke-Indonesiaan. Meski kelompok lain seperti Krakatau atau Kua Etnika sudah kerap melakukan tur, walau jika kita menyebut kuantitasnya, tentu masih jauh dibanding promotor jazz di Indonesia meng-undang artis-artis jazz mancanegara.
Ketiga, pada hakikatnya diperlukan peran negara untuk mendukung para musisi yang melakukan diplomasi kreatif kebudayaan. Beruntung, pada saat-saat terakhir simakDialog mendapatkan bantuan dari Goethe Institut yang menyediakan tiket pulang-pergi dan akomodasi. Sebuah pertanyaan besar memang ialah kenapa kelompok ini justru tak mendapat dukungan dari negeri sendiri.
Nah, hal ini terjadi tanpa berarti tidak dilakukannya upaya pendekatan intensif dari jauh hari kepada instansi terkait di pemerintah. Bentuk pendekatan budaya kreatif yang dilakukan simakDialog terbukti mendapat tanggapan baik melalui ratusan review dari Amerika, Kanada, Amerika Latin dan Eropa atas musik kami lewat album ke-4, Patahan, dan ke-5, Demi Masa, dua album yang diedarkan Moonjune Records yang berbasis di New York sejak 2007. Melalui berbagai review karya kami, simakDialog telah tampil solo di Filharmonik Concert Hall Petronas, Malaysia (2002), Kathamandu Jazz Festival (2004 dan 2010) serta Miri Jazz Festival, Serawak (2010).
Lepas dari itu, sungguh hal yang menye-nangkan ketika kami bisa mengemas dan membawa kesan lain dari kebanyakan dan keberadaan tentang budaya kreatif Indonesia di kancah dunia. Hal ini jangan sampai luput dari perhatian dan dukungan pemerintah RI di kemudian hari.
(RS/RS)
Hasil Rating Pembaca:
Kirim komentar anda:
Beri komentar sebagai Guest:



Sending your message





