Selasa, 03/05/2011 10:50 WIB
icon_star_full icon_star_full icon_star_half icon_star_off icon_star_off

Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya

16 kumpulan cerita pendek dari Zaky Yamani peraih Mochtar Lubis Fellowship 2010. Mencoba kocak, serius dan protes sekaligus.

Wartawan sebuah harian lokal di Bandung ini menghadirkan objek manusia urban dengan beragam masalah.
Oleh: Janis Mikaela
Share :   
image
Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya.
Namanya Yadi. Tapi teman-teman sepergaulan menyebutnya jauh lebih keren: Johnny…Johnny Mushroom. Ia anak punk necis. Memakai kemeja Ben Sherman, Levi’s, Doc Martens. Telinganya akrab dengan Sham 69, GBH, Rancid hingga The Business. Johnny adalah penjual mushroom, sejenis jamur halusinogenik. Menjual jamur yang kerap ditemukan di atas kotoran sapi ini, adalah sebuah keputusan penting seorang skinhead macam Johnny.

Mushroom adalah ingatan masa kecil Johnny. Jamur itu pernah diberikannya pada sang ibu, untuk dimasak bagi anggota keluarganya. Ibu, ayah dan pamannya mabuk berat. Johnny habis dimarahi sang ayah. Ini membuat ia bersumpah untuk tak lagi menyantap jamur, apapun jenisnya. Sebuah momen di Pangandaran, mengantarkannya kembali pada jamur ajaib ini.

Halusinasi dan kondisi mabuk yang pernah dialaminya saat kecil kembali terulang.

Kondisi “pasar” memutuskan dia untuk menjadi bandar mushroom. Sudah dua tahun ganja sulit didapat. Banyak bandar yang ditangkap polisi…Walau legal, alkohol seringkali membosankan. Bagaimana caranya agar bisa mabuk, tapi tidak kekurangan uang? Itu kata Johnny.

Keadaan ini menerbitkan ide Johnny untuk menjadi bandar mushroom. Menjual jamur ini aman, karena dianggap legal, belum ada aturan yang melarang di Indonesia. Jualannya laku, dan namanya terkenal. Johnny Mushroom adalah cerita pembuka dalam Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya yang ditulis Zaky Yamani. Tampil sebagai pembuka, Johnny hadir dengan penuturan yang sederhana juga kocak. Cerita Johnny yang membawakan mushroom untuk dimasak oleh ibunya sungguh menggelitik.

Selain Johnny, Zaky menghadirkan 15 cerita pendek lainnya di dalamnya. Wartawan sebuah harian lokal di Bandung ini menghadirkan objek manusia urban dengan beragam masalah. Lewat personifikasi tokoh-tokoh yang ia gambarkan—kadang-kadang dengan teramat dangkal dan sederhana, ia mencoba memprotes banyak hal.

Zaky senang membangun cerita dengan setting jalanan. Agaknya, di sana ia bisa berdialog tentang banyak hal. Tengok "Michael Nama Anakmu, Lindung, Getir" yang memiliki ruh dan paparan yang hampir mirip dalam buku setebal 149 halaman ini. Banyak juga paparan dan detil yang naif juga lucu seperti ditemukan pada "Hangover" dan "Saturday Night Lulaby."  Juga cerita komplentatif membuhul lewat "Percakapan Mur dan Baut", "Di Laut Tak Bertepi" atau "Nihil."

Menurut saya,Zaky lebih tune-in saat bertutur soal kisah yang lucu dari jalanan macam "Saturday Night Lulabby" yang bercerita tentang dua anak punk berkantong tipis Kimsky dan Ali yang mabuk, lalu ditangkap aparat polisi tanpa alasan yang jelas. Meski akhir cerita dieksekusi agak kenes, kita diajak menyelami dua karakter yang tengah mabuk dan bingung luar biasa lewat detil suasana dan dialog yang begitu banal lewat cerita ini.

Usahanya untuk membuat suspense dalam "Nihil" dan "Lelaki yang Mati di San Miguel Avenue" patut diapresiasi. Bertutur lebih panjang, membuat Zaky lebih leluasa membangun sebuah rumah cerita. Sangat menarik.

Mengangkat masalah-masalah urban ke dalam lanskap cerita bukan hal mudah. Bahan bakunya memang mudah ditangkap di sekitar kita pun lewat temuan dan dialog yang singkat. Lewat gaya penulisan ficer koran (yang terbaca dominan di kumpulan cerpennya) untuk cerita bersetting jalanan Zaky berusaha untuk intens menghadirkan segala keluh kesah para tokohnya.

Tapi Zaky, sungguh kisah anak punk, halusinasi saat mabuk, atau kisah sigit (sisa giting) terbaca jauh lebih tulus. Dari penjelasan dalam buku, kita tahu, bahwa kumpulan cerita pendek ini adalah jejak kreatif penulisnya sejak tahun 2001 hingga 2010. Melihat capaiannya itu, boleh kita berharap pada karya-karya Zaky selanjutnya.
(RS/RS)

Share:

Komentar terkini (0 Komentar)
1

Kirim komentar anda:

Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
logo_detikhot 
Rabu, 23 April 2014 21:45 WIB

Donita Deg-Degan Nyanyi dengan Konsep Band

Donita Deg-Degan Nyanyi dengan Konsep Band
Aktris Donita kembali menunjukan suara merdunya lewat single terbarunya berjudul 'Hilang'. Perempuan bernama asli Noni..
 
Rabu, 23/04/2014 19:43 WIB

Jibriel Kembali dengan Merilis Single Baru, 'Terdepan'

Setelah lama vakum, band asal Jakarta bernama Jibriel telah diaktifkan kembali pada usia band yang ketujuh .....
 

Incoming

Senin, 07/04/2014 12:41 WIB

Incoming: Matajiwa: Duo Folk Aneh Beramunisi Eksplorasi

“Itu semacam perumpamaan untuk definisi brengsek, tapi kalau brengsek kan masih bisa dipakai dalam hal yang positif. Nah,..

Music Biz

Rabu, 13/11/2013 11:48 WIB

Memangnya Ada Musik Indonesia?

“Memangnya ada musik Indonesia? Memangnya ada kebudayaan Indonesia?” ujar etnomusikolog Rizaldi Siagian ketika saya..

Q & A

Selasa, 01/04/2014 16:37 WIB

Q&A: Rick Ross

Obrolan tentang ganja, wanita, album barunya yang 'klasik' dan rencana evakuasi jika Miami tenggelam.