Rabu, 27/04/2011 11:51 WIB

Katjie & Piering: Mengajak Nostalgia ke Tahun 20-an

Memainkan musik akustik dengan eksplorasi pengaruh musik tradisional Sunda

Oleh: Soleh Solihun
Share :   
image
Raden Muhammad Sigit Agung Pramudita dan Kushandari Arfanidewi (foto: Agra Suseno)
Jakarta - Setelah duet pasangan Endah Widiastuti dan Rhesa Aditya dalam Endah N' Rhesa, atau Joseph Saryuf dan Anindita Saryuf dalam Santamonica, bertambah lagi satu duet pasangan (meski yang ini belum menikah). Perkenalkan, Kushandari Arfanidewi dan Raden Muhammad Sigit Agung Pramudita, tergabung ke dalam Katjie & Piering, yang namanya diambil dari nama bunga. Selain itu, jika dipisah, mereka menganggap kata 'kaca' dan 'piring' seperti menggambarkan dua hal: feminin dan maskulin.

Yang perempuan, panggil saja dia Ayayay Si Kelinci. Karakter perempuan berdarah Jawa ini ceria, bahkan dia mengatakan sering dianggap terlalu ceria, apalagi ketika bersama bandnya yang bernama Baby Eat Crackers. Yang lelaki, panggil saja Sigit. Karakter lelaki berdarah Sunda ini, kata Ay, galau, bertolak belakang dengan Ay. Suatu hari, di sebuah cafe di Bandung, Beat n Bite milik Riko Prayitno gitaris Mocca, oleh teman-temannya mereka ditantang untuk tampil bersama. Tantangan itu mereka jawab dengan membawakan ulang lagu “Zsa Zsa Zsu” milik grup elektronik Bandung, Rock N’ Roll Mafia. Lagu itu mereka bawakan secara akustik sehingga terasa berbeda. Februari tahun ini adalah lahirnya duet Katjie & Piering.

Meski di panggung terlihat reaksi kimia yang begitu hangat, proses kreatif di balik itu ternyata tak semudah yang terlihat. “Kami nggak langsung cocok, malah berantem banget karena berbeda banget, jadi sering berantemnya. Akhirnya selama dua bulan ini saling menyesuaikan. Si Sigit maunya seperti ini, saya menurunkan kadar keceriaan, dia menurunkan kadar kegalauannya. Waktu itu pernah berantem soal bagian cello, sampai heboh semalaman. Pas mengerjakan album ini juga begitu, Sigit nggak suka dengan cara saya nyanyi di beberapa lagu. Akhirnya ya sudah, berkompromi, makanya kami salut sama musisi Endah N' Rhesa,” kata Ay.

Album perdana Katjie & Piering, berjudul Kinanti, sudah dikeluarkan dalam bentuk digital yang bisa diunduh gratis, di antaranya dari situs www.deathrockstar.com. Album itu berisi empat lagu orang yang dibawakan ulang (“Polipanic Room” dari Polyester Embassy, “Zsa Zsa Zsu” dari RNRM, “Destiny” dari Homogenic, “Psycho Girl” dari Olive Tree), dan lagu mereka sendiri yang berjudul “Kinanti.”

“Kebetulan itu band-band teman kami sendiri, jadi ya ingin ngasih kado buat mereka. Album ini sebenernya album kado ulang tahun buat aku, yang berulang tahun tanggal 14 April kemarin. Saya mau kasih kado ke band-band itu, kan mereka band ternama juga,” kata Ay.

Lagu “Kinanti” bercerita soal calon orangtua yang menggoda anaknya yang belum lahir. Mereka menamakan calon anaknya Kinanti, dan percaya bahwa anak selalu jadi harapan orangtua. Mereka memainkan musik akustik dengan pengaruh dari musik tradisional Sunda di beberapa bagian. “Si Katjie Piering ini agak ke-Sunda-sundaan, karena Sigit orang Sunda asli, dan dia bilang nggak bisa melepaskan itu dari darahnya. Kalau pegang gitar pasti nadanya yang miring-miring. Aku Jowo banget, makanya waktu di Katjie & Piering ini belajar mati-matian, dari musik, dari cara nyanyi,” kata Ay.

Untuk konsep musik, mereka mengatakan bahwa Katjie & Piering mencoba menawarkan suasana Bandung tahun 1920-an (itu sebabnya penulisan Katjie & Piering pun sengaja dibuat begitu). Ketika membawakan ulang lagu orang lain, mereka membayangkan bagaimana jika lagu itu dibawakan orang pada tahun ’20-an. “Bandung itu di tahun ’20-an masih ada banyak bangunan art deco, masih bagus-bagus, nggak ada mal, nggak ada Twitter, dan Bandung itu diciptakan buat bule. Terbayang kalau bisa plesir ke Bandung tahun ‘20 pasti enak, bisa mendengarkan musik tradisional dengan enak, tapi ada perpaduan Eropanya,” kata Ay.

Sedangkan soal musik, kata Ay, Sigit mewanti-wanti dia untuk tak menyebut kata etnik, atau kata Sunda ketika menyebut aliran musik yang dibawakan mereka. Sebut saja musik Katjie & Piering sebagai nostalgic. “Kami ingin membawa kerinduan orang-orang untuk pulang. Kami tuh sebenernya lagi ingin tahu, Indonesian pop tuh seperti apa sih? Kenapa semua orang bangga banget sama K Pop atau J Pop? Lewat album ini, kami ingin buat orang nostalgia lagi sama kampung halaman, siapapun sebenarnya, bukan orang Sunda saja. Tapi kalau dengar lagu ini, biar orang ingat asalnya dari mana,” kata Ay.

Saat ini, mereka mengatakan lebih ingin berkonsentrasi studio rekaman. Tak ingin jadi musisi yang mengejar banyak panggung. Kalaupun manggung, yang mereka inginkan hanya beberapa kali dalam sebulan, demi ditunggu-tunggu publik. “Jadi kalau manggung itu ditunggu-tunggu. Ingin selalu ada yang baru. Kami ingin memberikan efek kejutannya itu,” kata Ay.

(RS/RS)

Hasil Rating Pembaca:   icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full

Rating :

icon_star_full   icon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full   icon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_fullicon_star_full  

Share:

Kirim komentar anda:

Beri komentar sebagai Guest:

logo_detikhot 
Kamis, 17 Mei 2012 19:03 WIB

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah

Mikirin Konser Lady Gaga yang Terancam Batal, Marissa Nasution Bisa Marah
Konser penyanyi Lady Gaga yang terancam batal tak hanya mengecewakan para penggemarnya yang memiliki sebutan Little Monster. Artis Marissa Nasution bahkan bisa marah jika memikirkannya.
 
Rabu, 16 Mei 2012 17:46 WIB

/rif Jadi Raja Sehari di Cikapundung

http://images.detik.com/content/2012/05/16/1093/rif-21.jpg
Salah satu momen khusus di konser ulang tahun /rif ke-18 adalah ketika drummer Magi mencium bibir sang..
 
 

Incoming

Senin, 14 Mei 2012 11:54 WIB

Incoming: VNS (Voiceless N Soulastic)

Dengan menjamurnya grup musik pembawa bendera jazz pop di Indonesia yang seakan tidak ada habisnya, bukan hal aneh jika sejumlah..

Music Biz

Selasa, 28 Februari 2012 14:10 WIB

Music Biz: Akhirnya, Ledakan Konser di Indonesia

Kerusuhan di luar stadion saat konser Metallica digelar oleh promotor AIRO pada 10 April 1993 silam yang membumihanguskan kawasan..

Q & A

Rabu, 02 Mei 2012 09:22 WIB

Q n A: Judika

Tentang single terbaru dan rencana album perdana Mahadewa