Soundwaves
Selasa, 23 Februari 2010 10:51 WIB     
Apa Salahnya Menjadi Band Mainstream?
Oleh : Erdian Aji "Anji" Prihartanto*
Foto : Dok. Emotion
Bookmark and Share

"Kita kedatangan tamu, seorang vokalis dari sebuah band mainstream, Anji Drive.” Itulah kata-kata pertama yang diucapkan oleh seorang pembawa acara saat melihat sosok saya di sebuah pesta pernikahan salah satu sahabat.

Hampir semua yang ada di tempat itu menoleh dan tertawa. Entah, apa makna di balik tawa itu. Saya hanya tersenyum sambil melanjutkan malam itu bersama sebotol bir, menikmati apa yang Seringai, Komunal, Rumah Sakit, Denial, The Jones dan Teenage Death Star teriakkan dari atas panggung.

Dalam perjalanan pulang, mau tak mau kata-kata pembawa acara yang juga merupakan salah satu editor majalah ini membuat saya berpikir. Saya tahu itu hanya sebuah kelakar penyegar suasana. Tapi tak tertutup kemungkinan adanya muatan sindiran di balik kelakar itu.

Karena untuk beberapa kalangan yang ‘tidak mainstream’, menjadi mainstream adalah hal yang kurang baik, sangat kurang baik atau bahkan hina. Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah band mainstream itu? Apakah salah menjadi seperti itu?

Berdasarkan artinya (yang saya dapatkan melalui Google, karena tidak ada di KBBI), mainstream adalah arus umum dari pemikiran mayoritas. Dalam seni, mainstream mencakup semua budaya populer dan biasanya disebarkan oleh media massa. Saya menggarisbawahi kata-kata budaya populer dan media massa. Jadi, band mainstream adalah sebuah band yang biasanya memainkan musik dengan kaidah yang ada dalam koridor industri pop dan didukung oleh media massa. Band mainstream tidak ada hubungannya dengan keberadaan mereka di major label maupun indie. Pemahaman itu sepertinya harus diluruskan.

Apakah disukai masyarakat luas tidak-lah baik? Apakah tidak memiliki musik ‘aneh dan unik’ serta ‘keras’ tidaklah bagus? Apakah mempunyai notasi dan lirik yang bisa dinyanyikan orang dewasa sampai anak kecil adalah hina?

Memainkan musik memang merupakan salah satu bentuk ekspresi diri, tetapi pada saat memasuki budaya pop (yang salah disebut dengan mainstream), ada tanggung jawab moral yang secara langsung dan tidak langsung terhadap pendengar.

Misalkan saat menulis ‘birahi’, ‘o…nani’ atau ‘celurit’ dalam lirik sebuah lagu. Saya menganggap itu sebagai sesuatu yang cerdas. Menjadi sangat cerdas saat kata-kata itu bisa keluar dan mengalir tanpa bermaksud porno atau brutal. Tetapi apakah itu baik untuk anak-anak? Atau apakah para orang tua yang bertanggung jawab akan perkembangan  anaknya bisa setuju akan isi lagu itu?

Seperti Lily Allen, yang harus mengelus dada saat lagunya yang bagus harus diedit karena kata-kata ’fuck’ (maaf). Contoh lain, d’Masiv menelurkan ”Jangan Menyerah” yang melodinya sangat mudah dan bermain di tempo pelan, tempo yang kurang begitu disukai kalangan non-mainstream, namun lagu itu terbukti mampu menginspirasi banyak orang untuk berjuang lebih kuat dalam hidup. Apakah mereka jelek?

Menjadi band mainstream dengan kualitas yang baik secara notasi, lirik, mixing dan hal lainnya dari sisi produksi lagu mungkin adalah apa yang perlu dilakukan. Jika ada beberapa band dengan karakter musik yang tidak disukai, jangan dengar, supaya kita tidak terdistorsi untuk terjerat ke arah yg tidak kita sukai itu.

Dan penggarisbawahan yang kedua oleh saya berarti bahwa kadar mainstream sebuah band atau aliran musik itu akan sangat tergantung oleh peran dari pihak media massa. Jadi pada saat sebuah media (dan sayangnya adalah media massa yang bagus menurut saya) terlalu mengistimewakan band yang tidak mainstream, secara tidak langsung media itu juga sedang ‘memperjuangkan’ posisi band itu untuk menjadi mainstream.

Biarlah sebuah lagu itu menjadi suatu kar-ya seni yang sakral. Lagu berasal dari suara, sebuah gelombang yang bisa meresonansi hati dan pikiran menjadi sedih, senang bahkan marah. Bagaimana kita bisa menikmatinya, bila keindahan dan muatan emosi di dalamnya dipertanyakan kadar ‘kebagusannya’ dalam suatu wacana mainstream atau tidak.

Mari membuat musik yang menurut kita berkualitas dari segi lirik, notasi, pilihan sound, mixing, dan lain-lain. Soal nantinya akan diedarkan di area industri pop atau tidak, itu adalah pilihan. Memajukan musik Indonesia secara keseluruhan, itu yang terpenting.
Salam dari saya untuk semua musisi yang mendedikasikan karyanya untuk memajukan musik Indonesia!

 

*Penulis adalah vokalis Drive.

Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
20-08-2010 10:05:26 WIB
By : ronny
buat band mainstream
komentar vokalis drive sampah banget dia ga ngerti apa itu metal, underground n indie, loe masih bayi aku udah berkutat di dunia ini jadi jangan ngasih statement yg aneh2 malah diketawain loe sama dedengkot underground di indonesia, loe mau bikin musik cinta what the fuck with us? your music is yours n my music is mine ok?
15-06-2010 10:20:12 WIB
By : bimo
...
gpplah klo anji niru arian13 tuk pake bandana dikepalanya, begitu jg dengan voc. armada yg pnh make baju seringai dengan lagu "melayukolis"nya...tp gw lebih suka anak mayor yg masih suka berkeliaran di acara2 n scene indie..
01-06-2010 14:49:29 WIB
By : Hotman
:)
Mainstream atau tidak ini sebenarnya merupakan suatu pilihan. Banyak musisi kita yang bermain musik untuk menyalurkan idealismenya atau untuk... mencari nafkah. Kita tidak bisa menyalahkan acara-acara "musik pagi" yang belakangan makin menjamur di tv. Karena itulah "ladang" bagi musisi2 kita untuk mencari nafkah. Tidak beda jauh kan dengan nelayan yang mencari ikan di laut? Saat kita bosan dengan musik "mainstream", kita bisa mencoba mendengar jenis musik lain. Its 2010, dude :)
10-04-2010 17:46:09 WIB
By : andronotrock
salah
salah kalo ngamilin anak orang kagak dikawinin...
29-03-2010 20:49:50 WIB
By : asty
apa ada yg salah?
apa salah nya, klo mengambil jalur manstream demi tuntutan karier......
21-03-2010 23:53:36 WIB
By : u-they
free
buat wa mau mainstrean atau atu tidak mainstream, itu ga perlu di permasalah kan oleh kalangan pemain bandnya, kalian berkarya kan buat di dengar oleh masyarakat, mu enak apa ga kan masyarakatt juga yang menilai jd buat apa sesama musisi saling memojokokan, masyarakat juga tau ko mana yang harus mereka dengar dan mana yang tidak, and kita sebagai band atau musisi tinggal bekarya sebaik mungkin agar musik kita bs di trima masyarakat luas... ( gitu aja ko repot )
15-03-2010 10:07:56 WIB
By : memang tatang
kalian membicarakan apa sih
satu buat indonesia maju dan bersatu saya tidak mau memecah belah kesatuan kita
14-03-2010 09:06:35 WIB
By : memang tatang
ayo berkualitas
ayo jangan menyerah kita sebagai msayarakat indonesia menunggu dan selalu menunggu hiburan yang berkualitas yang didalam nya ada inovasi gaya baru bermain musik dan sebagainya permasalahan yang anda kemukakan adalah permasalahan internantara anda dan yg anda anggap musuh kami butuh hiburan berkualitas tidak membosankan dan terkesan menjadi poseur (pengikut) bangsa bangsa yang telah lebih dulu berkembang AYO MAS MAS MBAK MBAK MUSISI KAMI BUTUH HIBURAN BERKUALITAS
13-03-2010 06:15:24 WIB
By : ryan
hallo
menurut gw bkn masalah mainstream ato ngga nya,bkn msalah indie ato major labelnya,. yang penting di dlm sebuah lagu adalah pesan yang membangun,tidak seperti kebanyakan band jelek yng selalu mempermasalahkan cinta,atau berteriak teriak karna di tinggalkan kekasihnya,bener-benar cengeng.. Smoga musik indonesia semakin CERDAS
11-03-2010 15:37:46 WIB
By : aldy
hello 3
dan kalo bro anji merasa kalo emang merasa "terpojokkan" dengan kata2 "vokalis mainstream", cobalah berpikir kaya judul albumnya ARCTIC MONKEYS : "whatever people say i am, that's what i'm not" JUST PROUD TO BE YOUR SELF, ANJI! SEMANGAT BUAT SEMUA MUSIK LOKAL! mau major, mau indie, semua sama asalkan punya karakter masing2. ga peduli itu bisa diterima masyarakat atopun engga. thx.. *maaf kalo ada kata2 yg kurang berkenan, manusia itu tempatnya salah bro :)
11-03-2010 15:34:41 WIB
By : aldy
hello 2
jujur gw berdiri di jalur indie, gw juga bikin lirik tentang CINTA. tapi gw balut dengan bahasa yg unik dan musik yg unik juga. gw ga peduli orang mau komen apa tentang musik gw. karena gw jalanin apa yg gw suka. buat bro ANJI, stay cool aja. jujur gw gatau byk tentang DRIVE, tapi ada juga kok sebagian lagunya yg nyantol di kuping gw. kita jalanin aja apa yg kita mau dan apa yg kita suka. jangan terpengaruh sama dunia luar
11-03-2010 15:29:41 WIB
By : aldy
hello
waduh2 kok kaya gini aja jadi masalah sih? gini deh, jujur aja gw kurang suka sama permainan major label jaman sekarang. kenapa? karena konon katanya, kebanyakan label sekarang nuntut musisinya buat ngikutin selera pasar. kalo musisi itu mau, berarti ga bisa dong kalian bikin musik kaya yang kalian pengen???
10-03-2010 20:31:42 WIB
By : aira
.....?
apapun itu,trus trang gw prihatin dngan perkembangan musik mainstream di indonesia,tanpa melihat band2 major yg berkualitas,kayakny berjalan ditempat!!maaf....
10-03-2010 12:57:00 WIB
By : ANJI
Salah arti...
Kenapa banyak penyalahartian dr tulisan ini ya? komen dr eeto lumayan tepat. Kutipan penting dr tulisan ini adlh "Band mainstream tidak ada hubungannya dengan keberadaan mereka di major label maupun indie" itu pokok tulisan gw. Kl akhirnya jd byk perdebatan, mmg begitulah ternyata toh keadaannya hehe... buat ANKY... gw gak pengen dibilang idealis kok, hehe. gw adalah vokalis band mainstream dan gw bangga kok =). Toh album gw produksinya menurut gw BAGUS. diakui kok sm RS hehe. Salam hormat!
10-03-2010 03:06:21 WIB
By : hamba allah
aneh
bca dr crita d atas gw mrsa aneh, kok band mainstream sm non mainstream kyak ad yg prmusuhan(MAAF), ,,,, hrz nya malu klo sesama musisi jgn ad prmsuhan hrznya sling dkung walaupun berbeda aliran. bwt smwa, apa slah nya sih band mainstream?? mnrut gw sah2 za. go driVE trz berkarya utk belantika musik INDONESIA
ADVERTISEMENT
berita sebelumnya
Selasa, 31 Agustus 2010 08:14 WIB
Selasa, 27 Juli 2010 13:49 WIB
Senin, 28 Juni 2010 07:58 WIB
Kamis, 27 Mei 2010 09:45 WIB
Rabu, 28 April 2010 09:20 WIB
Jumat, 26 Maret 2010 10:22 WIB
Selasa, 26 Januari 2010 10:08 WIB
Selasa, 29 Desember 2009 09:13 WIB
Mailling List

Join Our Millist by Subscribe Now!


Powered by yahoo.com