Tengah malam tepat menjelang tutup tahun 2009 kawasan Warung Silah, Ciganjur mendadak ramai dalam hiruk pikuk manusia. Seorang guru bangsa ini telah ber-pulang ke haribaan untuk selama-lamanya. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur wafat dalam usia 69 tahun karena komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama.
Cuaca yang dingin disertai hujan rintik-rintik membuat suasana duka semakin mendalam. Beberapa mobil dinas Duta Besar negara-negara sahabat tampak hilir mudik, ratusan santri berbaur dengan ribuan pelayat lainnya membacakan doa semalam suntuk, karangan bunga dari tokoh-tokoh nasional membanjir mulai dari pintu masuk hingga pagar rumah.
Di ruang tengah rumah yang terbilang sederhana tersebut terbujur kaku jasad Abdurrahman Wahid yang beralas dipan serta ditutupi kain kafan dan dijaga oleh empat anggota pasukan elit TNI dari tiga angkatan sekaligus dengan bayonet terhunus.
Seorang perempuan Katolik tampak berdoa dengan kerasnya di hadapan jenazah Gus Dur, Berikutnya juga terlihat para pendeta dan bhiksu yang membacakan doa dengan tulus bagi arwah almarhum Presiden RI ke-4 tersebut. Sementara di belakangnya dengan sabar dan tertib mengantri puluhan pelayat yang siap melakukan shalat jenazah secara bergantian.
Ritual penghormatan ini dilakukan semalam suntuk hingga esok paginya (31/12) jenazah diterbangkan ke Surabaya untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng, Jombang dengan upacara militer yang dipimpin oleh mantan bawahannya dulu, Susilo Bambang Yudhoyono.
Belakangan kemudian di dapat kabar bahwa gereja-gereja Katolik di Indonesia juga melakukan misa requiem khusus bagi Gus Dur. Kepergian Gus Dur sebagai salah seorang pemimpin umat Islam terbesar di Indonesia ternyata meninggalkan duka mendalam pula bagi pemeluk agama lainnya.
Tak banyak tokoh Islam yang ketika wafat menerima simpati yang begitu luar biasa besar dari golongan non-muslim lainnya. Mungkin hanya almarhum Nurcholish Majid dan Gus Dur saja yang memiliki keistimewaan seperti ini.
Gus Dur merupakan sosok pemimpin umat Islam tradisional paling liberal yang pernah dimiliki oleh Nahdhatul Ulama (NU) dan republik ini. Jauh sebelum menjadi Presiden RI dan Ketua Umum NU ia telah menjadi cendekiawan muslim yang moderat dan diakui intelektualitasnya saat bergabung dengan LP3ES dan menulis untuk jurnal terkemuka saat itu, Prisma.
Gus Dur juga merupakan aktivis pro-demokrasi yang diwujudkan olehnya dengan menjabat ketua Forum Demokrasi yang mengakomodir 45 intelektual dari berbagai golongan dan agama di Indonesia. Tujuan utamanya untuk mengimbangi kekuatan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang digagas Soeharto dan menurutnya berpaham sektarian.
Kontroversi sepertinya merupakan nama tengah Gus Dur. Ketika menjabat Ketua Umum PBNU, ia seringkali berseberangan dengan Soeharto yang tengah berkuasa de-ngan ganasnya saat itu. Puncaknya terjadi ketika Gus Dur mengirimkan surat “ancam-an” kepada Presiden ke-2 RI tersebut setelah Rapat Akbar NU yang rencananya mengerahkan satu juta massa disabotase oleh tentara-tentara Soeharto.
Padahal Rapat Akbar NU ini sengaja didesain Gus Dur selain merayakan hari lahir NU ke-66 juga untuk menyatakan secara terbuka dukungan NU terhadap ideologi Pancasila dan UUD 1945. Namun bagi Soeharto, membiarkan satu juta orang massa berkumpul di ibukota sama saja dengan upaya makar dan ini jelas tak dapat ditolerir.
Dalam suratnya kepada Soeharto, Gus Dur menulis: “Dengan mencegah Nahdhatul Ulama mendapatkan legitimasi penuh atas pandangannya, tanggung jawab untuk mengorientasikan gerakan agama di Indonesia sekarang ini pindah ke tangan peme-rintah. Jika pemerintah gagal maka dalam waktu 10 tahun kekuatan mereka yang tidak menerima ideologi nasional akan tumbuh dan akan meng-ancam Republik Indonesia dan Pancasila…. Apa yang tengah terjadi di Aljazair kini akan terjadi lagi di sini… dan jika kecenderung-an ini berlangsung terus, suatu Negara Islam akan menggantikan negara yang kita punyai sekarang.”
Soeharto pun ciut dan berikutnya memberikan dukungan kepada Gus Dur dan NU walau di belakangnya ia bersama antek-anteknya berupaya sedemikian rupa untuk mendongkel Gus Dur dari tampuk pimpinan organisasi Islam tradisional terbesar di dunia tersebut, seperti yang terjadi saat berlangsung Muktamar di Cipasung pada tahun 1994.
Selama 642 hari menjabat sebagai Presiden ke-4 RI dalam kondisi fisik yang nyaris buta dan sakit-sakitan, Gus Dur juga tak pernah sepi dari kontroversi. Di awal masa kepemimpinannya ia melikuidasi Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, keduanya dianggap memiliki dosa pa-ling besar selama rezim Orde Baru berkuasa. Diperbolehkannya pengibaran bendera Organisasi Papua Merdeka yang ditetapkan sebagai simbol budaya lokal olehnya di bawah bendera merah putih juga memicu kontroversi, bahkan kritik keras datang dari wakil presidennya sendiri, Megawati Soekarnoputri.
Usulannya untuk membuka hubungan bisnis dengan Israel juga menyulut kemarahan golongan muslim di tanah air, sama halnya dengan usulannya untuk mencabut Tap MPRS No. XXV/1966 tentang pelarangan PKI dan penyebarluasan ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme. Pemecatan menteri-menteri (Laksamana Sukardi, Jusuf Kalla) hasil koalisi dari beberapa partai yang dilakukan olehnya tanpa penjelasan lebih lanjut juga menimbulkan kecaman.
Dengan tulus ia bahkan meminta maaf atas dosa-dosa kemanusiaan yang dilakukan Soeharto ketika melakukan pembantaian massal 1965-1966, juga meminta maaf atas terjadinya konflik setelah digelarnya referendum di Timor-Timur. Warisan terak-hirnya sebagai presiden adalah dengan memberlakukan libur nasional bagi Hari Raya Imlek dan mencabut peraturan yang bersifat diskriminatif terhadap etnis Tionghoa. Konghucu pun ia akui eksistensinya.
Bahkan di detik-detik terakhirnya menjabat sebagai presiden di tahun 2001 pun ia masih mengeluarkan keputusan yang kontroversial dengan mengeluarkan dekrit presiden yang berisi pembubaran MPR/DPR, mempercepat pemilu dan pembekuan partai Golkar. Dekrit yang tidak mendapat dukungan sama sekali dari TNI/Polri itu malah berujung dijatuhkannya Gus Dur dari tampuk kepemimpinan nasional melalui mekanisme Sidang Istimewa MPR.
Untuk memahami pemikiran dan tindak-an Gus Dur yang kerap kontroversial tersebut memang sangat kompleks. Namun jika kita coba menelusuri perjalanan hidupnya di masa kecil dan remaja yang sangat penuh lika-liku dan tragedi niscaya akan membuat kita memahaminya dengan sepenuh hati.
Salah satu buku yang mampu mengungkap cikal bakal dan masa lalu Gus Dur de-ngan sangat komprehensif adalah karya Greg Barton, penulis otobiografi Abdurrahman Wahid asal Australia yang telah mengikuti Gus Dur sejak akhir dekade ‘80-an. Ia bahkan mengaku tak pernah bermimpi jika orang yang ditulisnya suatu hari akan menjadi presiden dari sebuah negara berpopulasi lebih dari 200 juta jiwa.
Perjalanan hidup beliau sejak dilahirkan di Jombang hingga menyelesaikan kuliahnya di Baghdad dan berkeliling Eropa selama hampir satu tahun lamanya membawa pengaruh besar bagi perkembangan kepribadiannya. Diduga pada momen-momen signifikan inilah watak lugas, nyeleneh, eksentrik dan kontroversial seorang Abdurrahman Wahid terbentuk.
Selanjutnya baca Rolling Stone edisi 58.
|
belajar banyak
poros manusia
pemikiran gus dur berporos pada kemaslahatan dan kebebasan manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan. dalam pemahaman keagamaan pun gus dur mengarahkannya pada poros tersebut. tidak heran jika kemudian out putnya kemudian adalah praktek beragama yang toleran dan humanis.
Manusia hebat
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran -- apapun itu -- dari mbah Dur.
Masya Allah Gus..
Gus, kami smua kehilangan.. Kangen kesederhanaan dan smua ttg antum Gus.. Smoga khusnul khotimah.. Allahumaghfirlahu..
Like this!
Like this!
Siapa ya pengganti dia jaman skr? Yg suka cablakin presiden sendiri hihihi... xP
|
Join Our Millist by Subscribe Now!