Timo Tjahjanto melempari kerumunan orang dengan poster yang sudah dilipat, Sabtu, 9 Januari 2010, Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta, pukul dua belas siang. Yang dilempari berebut dengan semangat, padahal dari kecepatan lemparannya, hampir seperti menimpuk, bukannya membagi barang. “Biar lebih rock n’ roll,” katanya seraya tersenyum dan mengambil kembali beberapa poster untuk dilempar.
Di sebelahnya, Kimo Stamboel berdiri dengan tenang memandangi Timo, serta melayani permintaan foto beberapa orang. Acara nonton bareng film Rumah Dara baru saja digelar, itu adalah film panjang pertama duet sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. Atau, cukup panggil mereka dengan nama The Mo Brothers.
Tak ada hubungan saudara di antara me-reka. Setidaknya, ada dua alasan mereka memakai nama itu. Pertama, itu menjadi solusi bagi perdebatan soal siapa yang akan ditulis lebih dulu di poster film. Kedua, supaya memudahkan pencitraan bagi target pasar mereka, yang katanya dominan anak muda. Dan itu terlihat di acara pemutaran film siang itu. Wajah pemuda dan pemudi yang jika dilihat lebih banyak usia kuliah—mereka mendapat undangan ke sana dari majalah gratis serta kuis yang diadakan melalui Twitter dan Facebook. Usia The Mo Brothers pun boleh dibilang muda: 29 tahun. “Supaya orang gampang kenal, ini siapa sih yang bikin? Itu lho sutradara yang satu Cina satu Melayu itu,” kata Timo seraya tertawa.
Jeritan perempuan terdengar sepanjang pemutaran film. Tak sedikit dari mereka yang menutup matanya sambil sesekali mengintip karena penasaran, atau mencoba mencari perlindungan kepada kekasihnya jika kebetulan mereka datang berpasangan—walaupun tentu saja, sang kekasih tak bisa berbuat apa-apa selain mencoba menenangkan dan membagi konsentrasi ke layar lebar di depannya. Rumah Dara bercerita tentang kejadian satu malam di sebuah rumah yang dimiliki oleh perempuan bernama Dara. Sekelompok anak muda yang memberi tumpangan pada perempuan yang ternyata anak dari Dara akhirnya harus dibantai di rumah itu. Plotnya memang tipikal film slasher. Tokoh pembunuh mencoba menghabisi mangsanya, dan sepanjang film ceritanya soal bagaimana si calon mangsa mencoba menyelamatkan diri dari kejaran pembunuh. Mereka sadar benar soal template cerita horor ini.
“Tapi ya, bisa dibilang template juga, nggak plek diambil. Masih bisa diimprovisasi. Ini sesuatu yang benar-benar...” kata Kimo
“Semua cerita sudah pernah diceritakan, nah bagaimana elo mengemas dan menceritakannya [melalui versi elo],” kata Timo menyambar kalimat Kimo sebelum dia sempat menyelesaikan penjelasannya.
Ide untuk membuat film Rumah Dara sebenarnya sudah muncul sejak lama, tapi karena persoalan anggaran, ide itu lama tak terwujud. Maka, mereka memutuskan untuk membuat film pendek berjudul Dara sebagai blue print atau proposal untuk para calon penanam modal. Film pendek itu kemudian jadi salah satu film pendek yang ada di film Takut: Faces of Fear (2008), yang merupakan kompilasi enam film pendek. Hampir satu tahun kemudian, mereka baru mendapat penanam modal. Ketika cerita disodorkan pada rumah produksi lokal, tak ada yang percaya konsep itu akan berhasil. Kata Timo, rumah produksi itu melihat cerita yang disodorkannya terlalu ‘absurdly sadist.’ Selain itu, mereka pikir, film itu akan memakan biaya yang sangat besar.
Padahal, nyatanya biaya yang dikeluarkan tak sebesar biaya standar film lokal. Timo enggan menyebut angka untuk produksi film itu. Bahkan ketika akhirnya mereka mendapat penanam modal pun, biayanya baru berhenti sampai tahap produksi, belum sampai tahap pascaproduksi. Tapi setelah mereka bertemu dengan pengusaha Singapura yang tertarik melakukan kerjasama karena melihat film Dara, biaya untuk pascaproduksi pun terjawab sudah. Dan akhirnya, di pos-ter film itu rumah produksi yang terlibat ditulis begini: Merah Production, Guerilla Visuals, Nation Pictures, dan Gorylah Pictures.
“Ya ironis banget akhirnya. Kami ingin bikin film yang karya Indonesia, untuk diangkat di dunia internasional, tapi ternyata dapatnya orang Singapura untuk co-invest. Tapi ya untuk itu...pada akhirnya ini film Indonesia sih,” kata Timo.
“Ini jawaban kalian atas seragamnya cerita horror di Indonesia?” tanya saya.
“Bisa dibilang begitu. Kenapa harus bikin yang begitu terus? Kenapa industri kita harus selalu dihantui hantu-hantu dan pocong dan kuntilanak balik lagi ke suster lagi? Nah, mudah-mudahan misi gue dan Timo, ayo bikin sesuatu yang berbeda, buat genre yang beragam di genre horror, buat persaingan. Kami juga inginnya, setelah melihat film kami, jadi ada yang ingin bikin lebih bagus lagi. Setidaknya, kami sudah menaikkan standar, sudah to the max darah-darahan,” jawab Kimo.
“Apa yang coba kalian sampaikan lewat film ini?” tanya saya lagi.
“Kalau gue bilang sih, tidak semua film harus punya pesan. Gue lumayan keki kalau ada orang ceramah, ini film memberikan pesan moral apa? Lho, ini namanya film, murni hiburan. Lihat saja, orang tertawa. Apakah mereka akan menerapkan apa yang mereka lihat di film? Apakah penonton Indonesia sebodoh itu dan melihat bahwa film itu realitas? Cuma, ya kalau elo mau denger gue mengarang, ini tentang pertarungan hidup,” kata Timo.
“Kalau elo mau gali lebih dalam, bisa saja elo bilang itu refleksi Indonesia sekarang. Orang makan orang, polisi begitu, dikalahkan sama yang jahat. Kalau elo mau gali kami ngomong apa, ya bisa. Tapi, tujuan kami bukan mengangkat itu. This is entertainment value saja,” lanjut Kimo.
Selain persoalan mencari penanam modal, Timo dan Kimo juga menghadapi kesulitan dalam mencari pemain. Awalnya, untuk pemeran karakter Dara, mereka tertarik pada Dinna Olivia. Tapi harapan itu terpaksa terbang karena secara anggaran tak memungkinkan. Tak hanya anggaran, nama Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang relatif belum dikenal membuat mereka agak sulit menawarkan peran. Kata Kimo, banyak bintang film yang ditawarkan cerita itu enggan terlibat karena tak pernah mau terlihat jelek atau menyeramkan. Sebagian besar ingin terlihat menarik. Lantas ketika mereka menonton film Lovely Luna (2004), sosok Shareefa Daanish menarik perhatian mereka.
“Lovely Luna kan, ini film apa sih? Coba deh, elo nggak usah perhatikan semuanya, fokus di Daanish aja. Ini kayaknya bisa deh, Tim,” kata Kimo menirukan ucapannya waktu itu seraya terbahak.
Karakter perempuan sebagai penebar teror memang sudah dipikirkan sejak awal ketika mereka punya visi ingin membuat film horror tanpa melibatkan hantu alias tanpa melibatkan cerita mistis. Dan mereka sengaja membuat karakter menakutkan itu sebagai sosok perempuan. Bukan apa-apa, sebagian besar karakter perempuan dalam film horor ditampilkan sebagai hantu. Karena ini film slasher, di mana biasanya karakter si pembantai digambarkan sebagai lelaki menyeramkan, Timo dan Kimo memutuskan untuk membuat karakter perempuan.
Setelah terjadi kesepakatan dengan Daanish untuk terlibat dalam film itu, karakter yang mereka buat menjadi lengkap. Selain Daanish, akhirnya mereka juga berhasil menemukan para pemain film yang mau tampil menakutkan, berdarah-darah, dan jauh dari kesan jaga image. Di antara para pemeran itu adalah: Ario Bayu, Julie Estelle, Daniel Mananta, Arifin Putra, Mike Lucock, Sigi Wimala dan Imelda Therinne.
“Daanish bingung, waktu kami casting saja, dia kami suruh tangannya pura-pura tertusuk, sambil marah. Eh ternyata, gila nih cewek, sangar juga. Ternyata pas dibawa ke internasional pun orang-orang suka. Kalau menurut gue, muka dia raceless,” kata Timo.
Timo tak asal memuji, karena Daanish nyatanya berhasil mendapat predikat Best Actress di Puchon International Fantastic Film Festival 2009, Korea. Rumah Dara juga mendapat sambutan positif dari festival film internasional, di antaranya di North America Fantastic Film Festival dan UK Fantastic Film Festival. Kerja keras mereka sepertinya sudah mulai terlihat membuahkan hasil. Setidaknya, proses penggarapan naskah selama satu tahun dan delapan draft itu tak sia-sia. Maklum, naskah selalu berubah sesuai pemeran yang bersedia terlibat di film itu, serta anggaran yang terbatas.
Faktor anggaran pula yang akhirnya membuat film menegangkan ini dibuat dengan suasana menegangkan. Banyak dari adegan film itu yang tak mengindahkan prosedur keselamatan. Adegan seorang stunt man dibakar saja hanya dilengkapi alat pemadam kecil yang biasa ada di mobil. Kamar yang mereka bakar pun bukan replika kamar yang dibuat di studio, melainkan di rumah yang mereka sewa untuk syuting. Biayanya akan sangat membengkak sekali tentunya jika satu rumah itu malah ikut terbakar. Semua senjata tajam yang digunakan dalam film adalah asli, bukan replika. Salah satu adegan menampilkan karakter yang diperankan Ario Bayu menjerat karakter yang diperankan Arifin Putra dengan celurit yang ketika syuting hanya ditutupi dengan lakban.
Timo dan Kimo sedikit tak puas dengan adegan ini, karena mereka melihat Ario Bayu sedikit menahan diri ketika mengalungkan celurit itu. Bahkan peluru kosong yang ada di pistol yang dipakai di film itu pun dibuat di lokasi syuting setelah Timo meminta peluru kosong. Si empunya pistol mengetuk timahnya dengan palu sehingga terpisah dari badan peluru itu. Tapi tak ada kejadian fatal selama pembuatan film—hanya memar di tubuh para pemeran.
“Fatalnya malah selesai syuting. Ada kru yang lagi nongkrong di atas steger, eh jatuh,” kata Kimo.
Kimo Stamboel menyukai film kira-kira sejak kelas empat SD, ketika suatu hari dia diajak ayahnya ke Universal Studio’s dan menaiki wahana Indiana Jones. Saat itu, dia juga mulai aktif bereksperimen dengan handycam ayahnya. Saudara-saudaranya sering dia panggil dan diminta tampil di depan kamera. Selain itu, Kimo sering sendirian di rumah tanpa ada kegiatan. Maka film pun menjadi temannya. Sedang-kan Kimo tertarik pada film setelah sempat dihantui oleh film Psycho (1960) yang disutradarai Alfred Hitchcock. Timo yang menonton film itu di umur delapan tahun baru berani tidur sendirian ketika umur tiga belas tahun. Itu sebabnya hingga sekarang meskipun dia mengatakan kagum pada film dengan spesial efek canggih macam Transformers, dia lebih menyukai film-film yang humanis macam karya Alfred Hitchcock. Sedangkan ketika ditanya soal sutradara yang dikagumi, Kimo mengatakan tak punya sutradara favorit.
Walau begitu, dia lebih menyukai sutradara Hollywood yang—mengutip istilah yang dipakainya—modern, macam Stephen Spielberg atau Robert Zemeckis: sutradara yang secara industri bisa berhasil, sutradara yang juga sekaligus produser yang hebat. Dan sekarang, setelah film layar lebar perdana The Mo Brothers terwujud, yang lebih menye-nangkan bagi mereka justru menonton reaksi penonton. Mereka ingin tahu apa yang menarik bagi orang Indonesia. Hal itu mulai mereka lihat ketika medio Agustus 2009 dilakukan pemutaran film Rumah Dara untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di Melbourne, Australia. Lantas, pada Indonesia International Fantastic Film Festival [INAFF] 2009 lalu, The Mo Brothers melihat reaksi para penonton sesuai dengan yang mereka harapkan.
“That’s a very cool thing to do. Yang tadinya cuma di kepala kami, lalu bisa terwujud. Sesuatu yang gue pribadi senang banget, kalau di dalam filmmaking. Apalagi, spot-spot yang kami pikir akan membuat tertawa, terbukti. Itu memicu emosi. Dan itu satu kepuasan gue sebagai filmmaker,” kata Kimo.
“Kalian membuat film untuk apa?” tanya saya. “Gue sama Kimo ini geek film abis,” kata Timo.
“Dan gue nggak tahu, kalo nggak kerja di industri ini, mau apa lagi? Jadi, motivasi gue ya selain kami mempunyai visi, ya cari makan. Itu saja. Visi kami sih jelas kami ingin menyampaikan kisah, untuk dinikmati semua orang Indonesia maupun di luar Indonesia. Cuma, nggak bisa dipungkiri bahwa kami juga cari makan, jadi kami membuat sesuatu yang agak komersial. Kami juga nggak- tiba-tiba bikin film yang artsy, tapi kami bikin untuk penonton. So, audience can enjoy and take ride of this roller coaster,” lanjut Kimo.
“Kami benar-benar ingin supaya anak-anak muda Indonesia lebih menghargai film Indonesia. Anak muda Indonesia suka nonton film karena banyak outsource-nya. Elo bisa beli DVD bajakan, download dari Internet. Tapi mereka malas nonton film Indonesia, dengan pembelaan mereka sih, banyak film Indonesia yang asal. Dan gue rasa, sayang saja. Dari 200 juta penduduk, masa yang nonton film cuma dua ratus ribu orang?” kata Timo.
“Secara potensi, harusnya minimum 10 juta penonton itu ada lho. Bayangkan, dari 200 juta, orang masa 10 juta orang nggak bisa sih?” kata Kimo.
“Ini kebudayaan kreatif. Sumber teknologi sudah ada. Malah gue ingin, setelah nonton film ini, orang jadi ingin membuat film,” kata Timo.
|
coba dibaca d
fyi.... untuk masukkan aja.
|
Join Our Millist by Subscribe Now!