Soundwaves
Senin, 12 Oktober 2009 16:02 WIB     
Don't Know What You Got (Till It's Gone)
Oleh : Viky Sianipar
Foto : Drigo L. Tobing
Bookmark and Share

Seorang pemain perkusi tradisional dari bandung pernah bercerita pada saya tentang pengalamannya sewaktu melakukan pementasan budaya Sunda di Belgia. Menurutnya, lebih menyenangkan manggung di luar negeri ketimbang negeri sendiri lantaran penonton di luar negeri sangat apresiatif. "Mereka bisa duduk terkesima berjam-jam melihat penampilan kami. Se-telah pertunjukan usai pun banyak dari me-reka yang menghampiri saya, ingin tahu lebih dalam lagi tentang instrumen yang saya mainkan." katanya dengan semangat.

Cerita di atas merupakan salah satu dari segudang cerita pengalaman musisi Indonesia yang menampilkan musik tradisional kita di luar negeri. Tapi kenapa cerita-cerita tersebut tidak pernah terjadi di Indonesia, tempat asal musik yang mereka mainkan itu. Sebegitu tidak menariknyakah musik dan lagu-lagu daerah kita sehingga anak muda di Indonesia sudah tidak mau meli-riknya lagi?

Pernah saya melakuan survei dengan mendatangi remaja di beberpa mall di Jakarta. Hasilnya, hanya empat orang dari seratus remaja yang masih suka mendengarkan musik tradisional dari daerahnya. Itu pun ternyata keempat orang itu adalah mahasiswa seni tradisional yang sedang berlibur ke Jakarta. Sementara 96 remaja lainnya menyatakan tidak lagi menyukai musik tradisional dari daerah asalnya dengan alasan tidak lagi sesuai dengan tren masa kini. Ber-arti, bisa dibilang yang masih menikmati musik tradisional dan lagu-lagu daerah Indonesia adalah orang-orang tua. Mungkin 50-an keatas.

Pada kenyataannya, tren musik Indonesia memang masih didikte oleh musik barat yang masuk ke negeri ini selama lebih dari setengah abad ke belakang. Hal ini perlahan-lahan telah mengikis perkembangan musik tradisional dan lagu-lagu daerah kita yang cenderung statis.        

Saya coba membayangkan, apa yang akan terjadi 50 tahun ke depan. Orang-orang tua itu sudah tidak ada lagi, generasi muda yang sekarang tumbuh jadi kakek-nenek tanpa membawa memori sedikitpun seperti apa musik tradisional kita. Mereka tidak lagi dapat menceritakan kepada keturunannya bahwa ada lagu tradisional judulnya "Cublak-Cublak Suweng", "Kicir-kicir", "Yamko Rambe Yamko", "Apuse", "Sinanggar Tulo", dan lain sebagainya. Habislah salah satu aspek dari budaya bangsa ini. Maka percuma saja kita melontarkan amarah kepada negara tetangga yang mencuri beberapa budaya Indonesia, toh nantinya akan punah juga.

Saya dan teman-teman satu tim mencari cara bagaimana supaya musik budaya Indonesia bisa digemari kembali oleh generasi mudanya. Saya teringat dengan ide salah satu coffeeshop hasil franchise perusahaan Amerika yang menjual kopi Jawa dengan harga Rp 35.000,-. Sementara itu harga kopi yang sama di warung-warung kopi dijual seharga 2.500 perak. Namun hampir semua anak muda Jakarta memilih untuk membeli kopi Jawa di coffeeshop itu dengan harga puluhan kali lipat, di mana yang dijual sebenarnya adalah kemasan dan status. Dengan kata lain, kopi tradisional, kemasan internasional. Nah, ini dia solusinya! Lagu tradisional, aransemen internasional.

Kemudian saya coba bereksperimen di studio rekaman untuk mengemas musik tradisional dengan bungkusan musik barat. Banyak kendala yang saya hadapi seperti perbedaan tangga nada diatonis barat de-ngan pentatonis tradisional seperti slendro dan pelog, minimnya pengetahuan dalam hal teknik merekam instrumen tradisional lantaran tidak ada di referensi dari buku-buku teori recording, belum lagi notasi lagu-lagu daerah yang cenderung monoton dan membosankan. Ribuan jam pun tersita untuk menemukan formula sehingga musik yang dimaksud jadi harmonis dan easy listening di telinga anak muda. Hasilnya, pada tahun 2002 saya coba rilis single pertama album TobaDream, "Piso Surit", lagu tradisional suku Karo di Sumatera Utara, yang dibalut dengan drum loop ala R&B namun tetap ada instrumen asli Karo yaitu kulcapi, gendang, dan gong. Berkat kepercayaan salah satu stasiun TV swasta pada saat itu, single ini, di luar dugaan, mendapat sambutan baik dari generasi muda di Jakarta dan kota besar lainnya.

Di album Indonesian Beauty, eksperimen ini kembali saya lakukan di musik Jawa Barat dan Jawa Timur. Hasilnya, lagu "Es Lilin" ternyata bisa juga masuk playlist radio-radio anak muda di Bandung, Solo, Yogyakarta dan Malang. Bayangkan saja, sekarang saya dan teman-teman bisa membawakan lagu-lagu seperti "Yamko Rambe Yamko", "Es Lilin", "Gambang Suling", "Sinaggar Tulo" dan lainnya di tempat-tempat seperti clubbing scene, kafe atau pentas seni mahasiswa dan pelajar di kota-kota besar Indonesia. Terima kasih, Tuhan.

Ternyata benar, hanya karena kemasan, terbuktilah bahwa lagu-lagu daerah dan musik tradisonal kita dapat setara dengan lagu-lagu industri lainnya. Malahan, entah bagaimana saya merasa musik-musik dae-rah kita lebih memiliki soul dan cenderung everlasting.

Kalau saja perjuangan ini tidak dilakukan sendirian, namun juga oleh musisi-musisi papan atas ibu kota, maka terciptalah tren baru di kancah musik Indonesia. Selain budaya kita akan terselamatkan, mungkin malah dapat memberikan pilihan baru bagi pendengar musik industri di Indonesia.

Seperti lagu dari band rock 80-an, Cinderella yang setiap sore saya dengar, "Dont Know What You Got (Till Its Gone)", akankah kita menyadari bahwa budaya kita itu keren setelah semuanya hilang?

Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
20-10-2009 14:38:25 WIB
By : Nelson Hutapea
wew,,,
opiinii yangg top markotopp neyy lae Viky,,, lanjutkann perjuanganmu,,, biarr makinn mantabb musik daerahh buat manusia Indonesia yang mulai melupakan budayanya,,, :beer:
17-10-2009 18:03:56 WIB
By : Robson aritonang
horas bangso batak
saya pecinta lagu2 batak khususnya batak toba...lebih seringlah tampil live atau ngadain konser...y mempertunjukkan kebolehan y baik..mudah2an pecinta lagu daerah n alat musik tradisional lebih banyak....slamat berjuang bang viky......
14-10-2009 19:34:14 WIB
By : drigo tobing
unang mabiar
Unang pola mabiar hamu lae adong do masana..
14-10-2009 16:25:59 WIB
By : Yoodi
Relevansi
istilah pelestarian budaya memang kurang tepat. Semua harus di kembangkan sehingga selalu ada relevansi yg kuat dgn peradaban jaman ( baca:trend). Salut atas effort utk mengemas musik tradisional dgn kemasan masa kini. Stay soulful!, Moderator Mantabs bung Yoodi
13-10-2009 18:50:21 WIB
By : ully sinaga
menyedihkan
sungguh menyedihkan kondisi nasionalisme di Indonesia.. ayo bang Viky ..bangkit terus membangunkan musik Tradisional Indonesia di negara sendiri.. kami mendukung segala usahamu dalam doa..memperkenalkan musik tradisional kepada generasi penerus seperti anak-anak kami yang sudah kami perdengarkan musik2mu yang 'AJAIB'
13-10-2009 17:37:41 WIB
By : Immanuel Panjaitan
Sama Bingung
Kalau. dipikir2 gak semua begitu. namun kenyataannya musik daerah kurang banyak diaransemen supaya lebih kekinian. n sungguh sulit untuk menuenangi yang tidak kita senangi.
13-10-2009 13:33:21 WIB
By : imel
SAYA CINTA LAGU DAERAH
meskipun lagu-lagu barat lebih mendominasi musik indonesia, tp gw msh suka koq dengerin lagu daerah. Apalagi yg udah diaransemen ulang, seperti yg ada di album2 Viky Sianipar. I collected them all.. Thanks for ur dedication.. Gud job!!
13-10-2009 13:32:23 WIB
By : tyar sibarani
dia tidak hidup
mungkin sudah jalannya seperti itu, budaya kita menarik di luar negri bgitu pula sebaliknya. Sejauh ini yang saya rasakan mungkin lagu daerah kurang di minati lagi karena mereka pun tidak nyaman dengan lagu tersebut. Dengan ini juga saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Viky Sianipar yang sudah mengaransemen beberapa lagu daerah dan membuat lagu itu makin hidup..lanjutkan usahamu, saya dukung dari sini. horras!
13-10-2009 13:03:43 WIB
By : Ronald M Gurning
Don't Know What You Got
Thank boss atas usahanya untuk pengembangan musik traditional, dan apa yg menjadi sinisme musisi dari kalangan batak yg mengomentari musik Viky sebagai perusak makna lagu batak tidak perlu didengar, biarlah anjing menggong kafilah cuek, teruslah berkarya yg spektakuler, horas.
13-10-2009 12:32:06 WIB
By : dian andini rosdiana
musik tradisional indonesia ok bgt
gw suka musik rock coz nada2nya enak, dinamis ga monoton.....unik dlll,,so....gw ga prnah bosen buat dengerinnya. Truz nada2 rock kaya gw bilang tadi tuch....yg kata gw nadanya pas bgt, dinamis,dll itu bisa gw denger cuman di musik tradisional aza,hususnya musik sunda,coz musik tradisional yg gw tau cuman musik sunda za.gila.........musik sunda ternyata luar byasa bgt,,apalgi waktu gw denger musik yg ngiringin sisingaan, waktu tuch gw denger kaya john petrucci aza.amazing pokonya.
13-10-2009 12:00:28 WIB
By : imel
SAYA CINTA LAGU DAERAH
meskipun lagu-lagu barat lebih mendominasi musik indonesia, tp gw msh suka koq dengerin lagu daerah. Apalagi yg udah diaransemen ulang, seperti yg ada di album2 Viky Sianipar. I collected them all.. Thanks for ur dedication.. Gud job!!
13-10-2009 10:58:25 WIB
By : Ronald Sitorus
bener baget!!!
Bener banget tu bang viky!!! Gue suka banget semua aransemen Toba dream 1 ampe 3... Bangga saya jadi orang batak...!!!! kapan lagi Toba dream 4???? Bravo Indonesian Culture!!!
13-10-2009 10:56:07 WIB
By : Klaudya W Tarigan
great..
aku tetep dukung musik tradisional Indonesia.. there are many great songs.. love to hear more from Vicky Sianipar next album.. aku tunggu album selanjutnya ya.. keep create great songs..
13-10-2009 10:54:32 WIB
By : nova simbolon
ga gitu juga
skrg bnyk kok org Indonesia yg mulai apresiatif terhadap lagu daerah dan Arrengemennya...... teruslah berkaraya buat musisi yg menggarap lagu daerah, khususnya batak, karna keindahan, dan nauangan batin ada ketika mendengarkan dn memperdengarkan suara alat musik yg alami...menyatu dengan alam.....Tx
ADVERTISEMENT
berita sebelumnya
Selasa, 31 Agustus 2010 08:14 WIB
Selasa, 27 Juli 2010 13:49 WIB
Senin, 28 Juni 2010 07:58 WIB
Kamis, 27 Mei 2010 09:45 WIB
Rabu, 28 April 2010 09:20 WIB
Jumat, 26 Maret 2010 10:22 WIB
Selasa, 23 Februari 2010 10:51 WIB
Selasa, 26 Januari 2010 10:08 WIB
Mailling List

Join Our Millist by Subscribe Now!


Powered by yahoo.com