Mouly Surya Bicara 'Marlina'

Berbincang dengan sutradara Mouly Surya tentang film terbarunya yang dinanti-nanti, 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'

Oleh
Mouly Surya mengarahkan salah satu adegan dalam film 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'. Cinesurya Pictures

Sepertinya tidak ada arah karier yang dikenal oleh Mouly Surya selain menanjak. Fiksi (2008) selaku karya pertamanya langsung menggondol Piala Citra, di antaranya untuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (2013) terpilih ikut kompetisi Sundance Film Festival. Kemudian film terbarunya yang berjudul Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) diputar di Cannes Film Festival untuk program Directors' Fortnight.

Marlina menempuh waktu lebih kurang tiga tahun untuk dirampungkan, dari momen pertama Garin Nugroho mengutarakan ide cerita ke Mouly, pengumpulan dana serta pencarian mitra produksi, hingga pemutaran perdana pada Mei lalu di Cannes. Setelah melanglang buana ke sejumlah festival film internasional bergengsi, Marlina mulai diputar di negeri sendiri pada 16 November 2017.

Dibintangi oleh Marsha Timothy sebagai karakter judul, Marlina bercerita soal janda muda yang tinggal di perbukitan Pulau Sumba. Pada suatu ketika ia diserang dan dirampok oleh komplotan bandit. Dalam upaya membela diri, Marlina membunuh komplotan tersebut bahkan hingga memenggal kepala. Ia kemudian menempuh perjalanan jauh demi membawa kepala tersebut ke kantor polisi.

Keindahan alam serta budaya Sumba pastinya menjadi penentu rupa film, namun Mouly—dibantu co-writer Rama Adi dalam mengembangkan ide cerita Garin ke naskah film panjang—secara cerdas meleburkannya dengan elemen-elemen film Western yang biasa menampilkan koboi. Marlina memiliki tokoh jagoan, segerombolan penjahat, juga kisah balas dendam; premis yang biasa ditemui pada film-film koboi. Unsur feminisme juga disebut-sebut pekat terasa pada film ini.

Guna mengetahui lebih lanjut soal Marlina, Rolling Stone Indonesia berkesempatan mewawancarai sutradara Mouly Surya. Sebuah perbincangan yang meliputi soal beban ekspektasi, metode pendanaan, sampai peraturan baru Festival Film Indonesia yang membuat filmnya tidak dinominasikan pada pergelaran tahun ini.

Film pertama Anda diganjar Piala Citra untuk beberapa kategori terpenting, film kedua Anda ikut kompetisi di Sundance, dan kini film ketiga Anda mendapat kesempatan diputar di Cannes. Bagaimana ini mempengaruhi Anda sebagai sutradara?
Rasanya sih biasa saja, tapi tentu apa yang saya kerjakan sebelumnya memberikan pengalaman yang mempengaruhi saya dalam membuat karya baru. Saya ingin setiap saya bikin film ada kesan naik kelas dari film yang sebelumnya [tertawa]. Setelah film dikerjakan dan dirilis, biasanya saya dan produser-produser selalu berdiskusi membahas kekurangan-kekurangan yang baru terasa ketika filmnya jadi. Selama kami melihat dan mengakui kekurangan-kekurangan tersebut, pasti akan muncul perasaan untuk bisa membuat yang lebih baik lagi di kesempatan selanjutnya. Menurut saya itu penting untuk melihat kekurangan kita, demi karya yang lebih baik. Semoga.

Ketika pertama kali memulai penulisan Marlina, apakah ada keinginan atau tendensi untuk melampaui film sebelumnya? Apakah terasa beban ekspektasi untuk menindaklanjuti Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta?
Buat saya, ketika saya bikin sebuah film ya saya akan jadi sutradara film itu. Sangat spesifik, karena tiap film punya prosesnya masing-masing. Yang saya suka dulu belum tentu saya masih suka sekarang. Namun selama proses Marlina ini saya perlahan merasa kalau sepertinya ini adalah skenario paling bagus yang pernah saya tulis sejauh ini.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 151 November 2017.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  5. Eddie Van Halen: 'Ibu Saya Orang Indonesia, Rangkasbitung'

Add a Comment