Kisah Hidup Penuh Drama Kesha

Sebelum bisa menciptakan salah satu album terbaik tahun ini, Kesha harus menyelamatkan nyawanya sendiri lebih dulu

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 151 November 2017. Peggy Sirota

"Boleh kita mulai lagi?" Wanita jangkung yang memakai kaus The Rolling Stones klasik itu kurang puas dengan jeritannya. Ia sedang berdiri di bilik rekaman vokal, dan sedikit berkeringat. "Saat saya menyanyikan nada sangat tinggi," katanya, "saya jadi sangat kepanasan. Dan tidak secara seksi." Permainan gitar megah dari lagu klasik T. Rex, "Children of the Revolution" (1972), kembali dipasang. Kali ini Kesha menyambutnya dengan suara "Yowww!" yang lantang. Jauh lebih baik. Ia melanjutkan nyanyiannya.

"You can bump and grind," teriaknya pada puncak jangkauan suaranya, dengan vibrato tebal yang bergetar, "if it's good for your mind." Saat ia bernyanyi, tangan-tangannya seperti membentuk anyaman di udara. Masing-masing kuku jarinya yang panjang dan dirawat manikur bergambar pelangi yang kecil dan sempurna; ada gelang-gelang berwarna pirus di kedua pergelangannya. Di ruang kontrol, Hal Willner, produser berambut putih dan berusia 61 tahun, mengangguk mengikuti irama. Lagu ini rencananya akan masuk bersama rekaman artis-artis lain ke album penghormatan untuk Marc Bolan, mendiang vokalis T. Rex dan salah satu idola Kesha dari dunia rock (ia menyebut Bolan sebagai "kembar glitter"-nya, dan menyebut album Electric Warrior milik T. Rex pada lagu "Wherever You Are" di tahun 2012).

Sesi rekaman malam ini berlangsung di studio The Village, Los Angeles, sebuah kompleks mewah bergaya lama yang menghasilkan album-album Aja, Tusk dan Doggystyle. Kesha sedang menyalak di take yang keenam pada malam ini, setelah melepas jaket dari setelan jas mengkilat bergaris-garis yang dibuat khusus untuknya dan dipadukan dengan sepatu bot koboi. Ia terdengar hebat, tampak keren. Tapi siapakah orang ini? Tampak jelas bahwa Ke$ha yang lama–yang vokalnya dipermak efek digital, bernyanyi dengan gaya rapper tentang membersihkan gigi dengan wiski dan berpesta di rumah orang kaya–telah pergi. Di usia 30 tahun, sambil memulihkan diri dari gangguan makan yang nyaris menewaskannya serta sengketa hukum sengit dan belum selesai melawan produser lamanya, Kesha Rose Sebert ingin kita mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Seorang teman di Nashville yang memandunya dalam "yoga dan sebagainya" dan memberinya nasihat mengenai mantra–"urusan hippie"–memberi tahu Kesha bahwa "kita semua ingin dilihat". Nasihat itu berkesan untuknya. "Saya merasa seperti diri sendiri," kata Kesha, "untuk pertama kali. Saya membuat album yang sangat saya banggakan dari lubuk hati terdalam–saya menggali lirik paling berat yang sangat sulit bagi saya. Dan orang-orang masih menyukainya! Ini sangat indah, dan sangat menyembuhkan saya. Saya merasa dilihat apa adanya, dan orang-orang tidak keberatan."

Penggalian emosi ini menghasilkan Rainbow, album ketiganya yang eklektik dan lama tertunda, serta ternyata merupakan salah satu album terbaik tahun ini–berani, kompleks secara emosional, sungguh mengejutkan. Kalau lagu-lagu hit Kesha yang lama terdengar artifisial walau tetap seru, musik baru yang liar ini dapat dianggap sebagai pemberontakan ala Westworld. Ia lebih condong ke rock & roll, terutama pada dua lagu riang yang direkam bersama Eagles of Death Metal, yang sangat digemarinya sejak remaja ketika ia menyusup ke konser-konser mereka dan menjadi teman band itu di usia 14 tahun. "Saya berkata, 'Kamu ingin kami ada di album'," kata vokalis Eagles of Death Metal Jesse Hughes, "'padahal banyak yang sedang dipertaruhkan?'" Hughes mengaku ia juga bertindak sebagai engineer di sesi rekaman itu, karena salah satu produser Kesha terlalu berkiblat ke pop modern.

Ada musik country juga di album ini, sangat pas untuk seorang artis yang sempat menghabiskan masa kecilnya di Nashville dan berlatih bernyanyi di halaman belakang rumahnya. Ia berduet dengan Dolly Parton pada "Old Flames (Can't Hold a Candle to You)", lagu tua yang diciptakan Pebe Sebert, ibu Kesha yang sering berkolaborasi dengannya–Parton mencapai kesuksesan di tangga lagu country pada tahun 1980 dengan tembang tersebut. Pada "Hunt You Down", Kesha menghadirkan suasana rockabilly Sun Studio yang tak terduga dengan bantuan Rick Nowels, kolaborator Lana Del Rey. "Yang kami lakukan," kata Nowels, "sangat natural baginya."

Saat beredar pada Agustus lalu, Rainbow menduduki puncak tangga album–lumayan untuk sebuah album yang diragukan Kesha akan segera beredar. "Saya telah melalui banyak hal," katanya, "dan banyak hal yang tak bisa kita bicarakan." Ia memutuskan untuk tidak bicara lebih lanjut mengenai perseteruannya dengan mantan produsernya, Dr. Luke, dan tidak menyebut namanya sama sekali saat kami menghabiskan waktu bersama. Kesha menggugatnya di tahun 2014, menuduhnya melakukan "pelecehan selama bertahun-tahun" serta menuduh ia telah memerkosanya. Tuduhan-tuduhan ini disangkal Luke, yang bernama asli Lukasz Gottwald, tanpa kecuali ("Saya tidak memerkosa Kesha, dan saya tak pernah berhubungan seks dengannya," kata Dr. Luke di Twitter) dan ia membalas dengan gugatan pencemaran nama baik serta pelanggaran kontrak. Ia bersikeras bahwa Kesha merekayasa tuduhan itu agar bisa lepas dari kontraknya.

Konflik ini seakan-akan takkan pernah berakhir, tapi setidaknya Kesha berhasil mengedarkan albumnya melalui Kemosabe. Perusahaan rekaman ini milik Sony yang didirikan oleh Dr. Luke tapi sudah tidak dikelolanya setelah habis masa berlaku kontraknya dengan Sony pada awal tahun ini. (Perwakilan Dr. Luke berargumen bahwa sebenarnya tak pernah ada yang mencegah Kesha untuk melepas album itu–Christine Lepera, pengacara Dr. Luke, berkata bahwa Kesha "mengucilkan dirinya sendiri". Sedangkan perwakilan Kesha menyatakan bahwa pilihan untuk rekaman tanpa Dr. Luke tidak ditawarkan sampai Kesha menggugatnya, dan bahwa Luke menggugatnya berdasarkan klausa dalam kontrak yang mewajibkan Luke menjadi produser pada setidaknya enam lagu di album-album Kesha.) Kini, Kesha tampak tak sabar untuk melupakan semua urusan itu. Di album barunya, ia bernyanyi, "I could fight forever/But life's too short." Ternyata, masih ada banyak hal lain untuk dibicarakan.

(Hughes tak segan membicarakan topik ini. "Ketika ia melalui masalahnya," kata Hughes, tanpa ditanya, "kami seperti abang-abangnya. Saya berkata, 'Siapa yang harus saya hajar? Kamu mau saya hajar sampai ia membatalkan kontraknya sekarang juga? Saya akan melakukannya.' Perasaan saya sekuat itu terhadap masalah ini. Saya tidak berbohong.")

Kesha memasuki ruang kendali dan mendengar suaranya melayang di atas iringan musik yang direkam oleh The Imposters, band pengiring Elvis Costello, dengan Wayne Kramer dari MC5 pada gitar. Menjelang kolaborasi ini, semalam Kesha sibuk "mendengar album-album MC5 sambil menangis," katanya. "'Kick Out the Jams' adalah salah satu lagu terhebat. Saat saya pertama kali mendengarnya, rasanya seperti masuk lubang kelinci bersama MC5 dulu, lalu Iggy Pop. Itu seperti awal hidup saya. Saya berusia 10 tahun!" Akan bodoh jika meremehkan pengetahuan musik Kesha, yang sewaktu remaja juga menggemari musik langka seperti Safe as Milk dari Captain Beefheart. "Saya sempat berpikir dia akan jadi PJ Harvey berikutnya atau semacam itu," kata Hughes. Kesha malah menandatangani kontrak dengan Dr. Luke di usia 18 tahun, dan terjun ke mesin pop Amerika dalam dekade terakhir.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 151 November 2017.

Editor's Pick

Add a Comment