Slayer di Manila

Oleh
Slayer saat tampil perdana di Manila, Filipina pada 11 Oktober silam. Hermawan Kurnianto

Kuartet pengabdi setan kembali membinasakan Asia Tenggara dengan sebuah pertunjukan yang intim, namun berintensitas membludak.

Kabar gembira itu merebak menjelang penghujung Agustus lalu. Kian sahih oleh sebuah postingan di laman Facebook resmi milik band bersangkutan: Slayer will be performing in Manila, Philippines at the Kia Theater on October 11th. The almighty Slayer. Fuckin’ Slayer! 

Legenda thrash metal asal California ini mengonfirmasi jadwal konser perdana mereka di Manila, sekaligus satu-satunya lawatan di Asia Tenggara pada 2017. Terakhir kalinya Slayer tampil di kawasan ini berlangsung nyaris tepat 11 tahun silam, tepatnya pada 13 Oktober 2006, di Max Pavillion Singapore Expo, Singapura. Dan ini berarti adalah sebuah urgensi tingkat tinggi sekaligus panggilan suci kepada para pemuja Slayer yang bermukim di wilayah Asia Tenggara untuk menuntaskan misi spiritual.

Kia Theater yang terletak di kompleks Araneta Center di Cubao, Quezon City, bukanlah sebuah arena pertunjukan yang terbilang besar, sepertinya hanya bisa menampung maksimum sekitar 3000 orang. Status terakhir beberapa saat sebelum pertunjukan adalah sold out untuk kelas Loge dan Balcony, sementara tiket untuk kelas festival VIP A dan VIP B masih tersedia di arena pertunjukan

Kendati portofolio Slayer meliputi konser dan festival yang dipadati oleh puluhan ribu orang, menikmati alunan kidung bertemakan Slaytanic persembahan Tom Araya (vokal, bass), Kerry King (gitar), Gary Holt (gitar), dan Paul Bostaph (drum) di sebuah lokasi yang tidak berkapasitas masif justru menggaransi pengalaman konser yang lebih intim. 

Satu kekhawatiran masih menggelayut: akankah tercipta mosh pit di konser ini? Untuk ukuran konser Slayer, sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tidak perlu, cenderung menggelikan, bahkan memalukan. Entah kenapa, promotor Pulp Live World membuat sebuah kebijakan tidak populer untuk melarang aksi moshing/crowd surfing. Kita lihat saja.

Pukul 8 lewat 15 menit, "Delusions of Saviour" yang menjadi pembuka album Repentless berkumandang secara playback. Saatnya telah tiba, dan tidak lama kemudian, Tom, Kerry, Gary, dan Paul menampakkan diri di atas panggung. Nomor "Repentless" langsung menghajar, dan terciptalah sebuah pemandangan indah yang menyejukkan mata: mosh pit! Tampaknya telah terjadi kesepakatan di antara penonton bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, terlebih di konser Slayer.

Selepas "Repentless", terjangan sonik berdesibel tinggi lanjut merangsek dengan "Antichrist" dan "Disciple". Dua lagu yang pekat akan penistaan ini ternyata diperbolehkan untuk dimainkan di negara yang didapuk paling religius di dunia, menurut sebuah hasil jajak pendapat pada 2012. Sementara ketika tampil di Singapura, kedua lagu tersebut beserta dua lainnya, yaitu "Hell Awaits" (juga dimainkan di konser ini) dan "Jihad", mendapat pencekalan. 

Massa penonton laksana orang yang telah sekian lama tak bertemu dengan seseorang yang teramat dirindukannya. Kalap dan hilang akal. Lagu demi lagu dilahap dengan penuh sukacita melalui beragam aksi dan ekspresi; headbanging, moshing, salam tanduk, sing along dan teriakan yang memaksa pita suara bekerja lebih keras. 

Mereka memberikan respons yang layak terhadap setlist Slayer malam itu yang terentang cukup luas, mulai dari lagu-lagu era drummer Dave Lombardo seperti "Postmortem",  "Hate Worldwide",  "War Ensemble, "  "Mandatory Suicide, "  "Hallowed Point, "  "Dead Skin Mask, " dan  "Born of Fire, " hingga nomor-nomor dengan departemen beat yang memang diisi oleh Paul Bostaph, seperti  "Bloodline, "  "When the Stillness Comes, " dan  "You Against You. "

 Bagi para penggemar militan Slayer, dan juga penikmat metal, Dave Lombardo yang merupakan drummer asli Slayer telah dianugerahi mahkota bertahtakan predikat superlatif seperti ‘terhebat’ dan ‘terbaik’. Dave Lombardo memang tidak tergantikan, namun secara obyektif, Paul Bostaph jauh dari kesan mengecewakan. Ketukan ngebut 1/16, derap double bass, dan drum fills yang rapat digilas dengan mulus oleh Paul. 

Ada pula Gary Holt, gitaris Exodus yang mengisi posisi Jeff Hanneman (we miss you, Jeff!), gitaris pendiri Slayer yang wafat pada 2 Mei 2013. Secara kemampuan, Gary mampu menjadi tandem yang efektif untuk mendampingi Kerry King dalam menyajikan eksibisi pertukaran solo dengan pendekatan shredding nan apokaliptik. Namun dari segi penciptaan lagu, perlu pembuktian nyata dari Gary. Sementara Tom Araya kini tampak telah bertransformasi menjadi sinterklas dari kerak neraka. Kalem namun mematikan.

Slayer sepertinya tidak terlalu peduli akan aspek desain dan produksi panggung yang mewah. Tidak ada layar raksasa yang menampilkan aksi mereka di atas panggung, demikian pula dengan absennya elemen pyrotechnic dan gimmick konser lainnya. Yang ada hanyalah musik yang digeber ke tingkatan maksimum secara intens dan brutal, permainan atmosfer melalui tata cahaya yang dirancang untuk mencuatkan kesan diabolik yang mencekam, dan tentu saja, Slayer. 

Saat memulai intro lagu  "Seasons in the Abyss, " latar panggung berubah, dari artwork album  "Repentless " yang dibuat oleh seniman grafis asal Brazil, Marcelo Vasco, kini memajang logo ikonik Slayer yang berlandaskan pentagram, dengan visual salib terbalik di sisi kanan dan kiri. Seolah menandai babak kedua dari perjalanan konser, dan berarti pula ini saatnya untuk tembang-tembang favorit. 

Penampilan Slayer di Manila bermandikan sorotan lampu merah di nomor "Raining Blood" (Foto: Hermawan Kurnianto)

 

"Hell Awaits " menggema dengan gagah, disusul dengan  "South of Heaven, " serta  "Raining Blood" yang membuat situasi tak terkendali. Emosi kian tereskalasi, dan penonton sudah siap untuk digiring menuju klimaks.  "Chemical Warfare " melaju deras, yang kemudian berlanjut dengan menu pamungkas,  "Angel of Death. " Manila thrashed hard that night.

Tidak ada encore. Dan mungkin memang tidak perlu. Selama satu setengah jam Slayer membekap saya dan ribuan penonton lainnya dalam sebuah perjamuan diabolus in musica yang membius dan emosional. Mungkin butuh satu dekade lagi bagi publik Asia Tenggara untuk bisa mengalaminya lagi.  

Editor's Pick

Add a Comment