Movie Review: Posesif

Oleh
Putri Marino, Adipati Dolken Palari Films

Observasi brutal tentang memiliki dan dimiliki

Berada dalam hubungan percintaan bisa sama menegangkannya dengan tinggal di rumah yang diintai hantu. Momen memberikan kejutan kepada pacar yang sedang berulang tahun ternyata bisa berarti invasi privasi yang berbahaya. Dalam film Posesif, Edwin mempreteli romansa dan mengeksplorasi sisi buruk dari keterikatan bernama pacaran.

Meski film ini dijual sebagai film komersial Edwin, film ini sebenarnya tak terlalu 'pop'. Kolaborasi bersama Gina S. Noer justru menghasilkan sebuah drama yang sudah jarang dilihat. Karakter-karakternya kompleks dan tak ditulis satu dimensi. Cinta remaja memang letupan pop corn, namun bisa juga jadi ladang penuh ranjau. Menjalin hubungan dengan seseorang tak selalu semanis film-film romantis lainnya.

Penyutradaraan Edwin terasa lebih seperti film thriller ketimbang film tentang kisah cinta remaja. Seperti film-filmnya yang mengandalkan sepi, momen terbaik film ini adalah ketika ketidakpastian merundungi setiap karakternya. Sebagai sedikit catatan, film ini terasa sedikit terburu-buru terutama di bagian awal. Melihat apa yang terjadi di pertengahan sampai akhir, sayang sekali investasi untuk kedua karakter utamanya kurang menggigit. Romantisme keduanya tidak terlalu berkesan, namun ketika melihat keduanya jungkir balik dalam sirkus konyol percintaan semuanya terlupakan. Edwin membawa penonton terjerat di bangkunya.

Posesif sejatinya adalah kanvas emosi yang luas bagi dua pemeran utamanya: Adipati Dolken dan Putri Marino. Keduanya tampil prima sebagai pasangan yang berada dalam hubungan beracun. Kimiawi yang dibangun keduanya menunjukkan penampilan akting terbaik yang bisa ditonton sejauh ini di bioskop Indonesia. Skenario Gina dan pengarahan Edwin memberikan mereka kesempatan untuk bersinar.

Adipati memainkan Yudhis, seorang murid pindahan yang terobsesi dengan konsep kepemilikan, sedangkan Lala (Putri Marino) yang rapuh mencari identitasnya dalam cinta pertama. Yudhis memengaruhinya lewat kuasa status, Lala berusaha menyelamatkan orang yang ia pikir ia kasihi. Di setiap interaksi keduanya ada lorong gelap di depan mata yang entah ke mana arahnya.

Posesif adalah observasi menarik tentang bagaimana seseorang dapat dengan mudahnya berada dalam pusaran setan kekerasan. Edwin dan Gina blak-blakan bicara tentang fase yang sering dianggap remaja sebagai 'cinta monyet'. Tidak ada yang lepas dari kesalahan dalam film ini, Yudhis yang dominan bukanlah satu-satunya 'penjahat' di film ini. Semua adalah pendosa dengan caranya sendiri.

Lihatlah bagaimana relasi keluarga dan lingkungan mengungkung Lala yang polos. Pencariannya akan diri sendiri adalah hasil dari pengaruh orang-orang di sekitarnya. Keputusan yang ia ambil selalu dengan dukungan orang lain: pacar, ayah, juga teman. Semua orang kecuali Lala merasa tahu apa yang baik bagi Lala. Untuk Yudhis, Lala mesti menjadi pacar yang selalu ada di sisinya dan menyingkirkan hal-hal yang mengganggunya. Untuk ayahnya, Lala harus mewujudkan versi idealnya tentang anak yaitu menjadi atlet seperti ibunya. Untuk teman-temannya, Lala diberikan peta konsep sosial yang berlaku yaitu menjadi seseorang yang mesti mengerti tekanan yang diberikan kepadanya. Ketika ketidakwajaran dipelihara, keadaan akan menyakitkan bagi semua pihak.

Film macam Posesif tentu perlu dibuat. Penting untuk memahami sisi lain dari percintaan. Bukan hanya dongeng tentang dua orang, tapi film ini juga adalah kaca yang besar bagi siapa pun yang menontonnya. Sebuah refleksi mendalam tentang apa itu memiliki dan dimiliki.

Editor's Pick

Add a Comment