Movie Review: Pengabdi Setan (2017)

Oleh
Nasar Annuz, M. Adhiyat Rapi Films

Perombakan dari segala segi

Ketimbang mempedulikan karya aslinya, Joko Anwar memilih untuk merombak kisah Pengabdi Setan yang melegenda dan memberikan corak gayanya sendiri. Film Pengabdi Setan asli yang merupakan teror psikologis akan konsep rumah dan keluarga sekaligus ceramah agama diubah total menjadi cerita kultus dengan tema kesuburan. Joko bukannya tidak mengerti poin utama film aslinya, ia mengabaikannya.

Di Pengabdi Setan yang terbaru, keluarga yang ditampilkan sama sekali lain. Jika sebelumnya sebuah keluarga kaya tinggal di rumah besar, di versi terkini keluarga begitu kesulitan dan materi diberikan untuk pengobatan sang ibu. Jumlah keluarga pun ditambah. Pengabdi Setan (2017) punya lebih banyak anggota: bapak, ibu, empat anak, dan seorang nenek. Tambahan lagi, di luar keluarga ada ustaz dan anaknya. Perubahan ini memberikan dimensi baru yang meletakkan keluarga di pertaruhan yang harusnya lebih kompleks.

Karena ini film adaptasi, jelas pilihan Joko untuk berpaling dari materi aslinya agak disesalkan. Kalau tak rusak, kenapa harus diperbaiki? Pokok permasalahan yang dihadapi oleh keluarga di film aslinya masih relevan untuk dikulik di era sekarang. Keluarga yang tidak terikat, rumah yang tidak dapat menjadi tempat perlindungan, krisis moral, dan lainnya adalah tema yang sebenarnya punya potensi besar jika digarap dengan tangan yang lebih lihai. Tapi terlepas dari penggantian tersebut, sebagai karya yang berdiri sendiri ia menghadirkan pengalaman menarik. Produksi yang baik, sinematografi mengesankan, akting yang enak diikuti juga keseimbangan yang pas antara humor dan misteri adalah keunggulan film ini.

Seperti yang dapat disaksikan di banyak karya Joko lainnya, sutradara ini menunjukkan kecintaannya akan film dan menunjukkan ia punya banyak amunisi untuk memberikan ilusi terbaik. Triknya bukan hanya dalam penulisan cerita, tapi juga pembangunan ketegangan. Hanya saja pilihan referensi yang kebanyakan mengadopsi karya-karya barat tak begitu lagi segar dan menjadikannya mudah tertebak. Tensinya dibangun terlalu on the nose: penonton diberikan ekspektasi dan kemudian diselesaikan dengan mudah. Penggemar berat horor mestinya tak akan terlalu terkejut.

Kalau karya aslinya blak-blakan dan tak segan menghadirkan hantu untuk memberikan rasa takut maksimal, di sini Joko seperti mengurangi kadarnya dan mengganti dengan atmosfer yang membuat penasaran. Cara ini bukannya salah, hanya saja terasa tanggung. Mau jadi film yang menghibur tak maksimal, mau jadi film yang punya skema pintar juga kurang gereget. Ketika karya aslinya membuat jantung tak berhenti berdebar karena teror terus-terusan yang secara konfrontatif dihadirkan, Joko tidak melakukannya. Rasa seram karya aslinya tak tertandingi.

Topik kesuburan yang Joko garap sebenarnya merupakan isu lokal yang dekat dengan masyarakat. Plot nenek versus ibu dapat ditemui di lingkungan keluarga mana pun. Tapi bukannya menggalinya hingga penonton peduli, Joko lebih sibuk menyesakkan teori konspirasi tentang kultus tersembunyi. Ide tersebut meski menyenangkan diulik tapi tidak diasah dengan mendalam, hanya jadi tempelan untuk permainan teka-teki.

Penyebabnya adalah fokus pada karakter yang membingungkan. Meski pengenalan karakternya menjanjikan, banyak yang tersia-siakan. Pada akhirnya semua karakter yang dibangun harus menyerah pada kepentingan plot. Bagi penggemar film-film Joko lainnya, tikungan menuju akhir sudah tidak lagi mengejutkan. Ia akan selalu melakukannya.

Masalah lainnya adalah ketidakturutan logika menjelang akhir. Setelah berbagai teror datang ke keluarga, tak ada tanda-tanda bahwa keluarga merespons kejadian dengan masuk akal. Maka adegan final jadi hambar dan susunan yang dipersiapkan dari awal jadi sia-sia. Segala homage yang datang setelahnya terasa tidak memuaskan. Sebuah kesempatan yang terlewatkan.

Keputusan Joko untuk memberikan kesimpulan sinis kepada ustaz juga terasa seperti mengkhianati konsep orisinalnya. Lengkaplah sudah praduga sejak awal kalau ia ingin membentuk pemikiran sendiri dan memilih lepas dari karya aslinya.

Versi Asli

Film asli Pengabdi Setan menyeramkan terutama karena ia mengganggu pemahaman penonton tentang apa itu keamanan konsep keluarga dan rumah. Keluarga modern yang ditampilkan dalam filmnya adalah keluarga yang tercerabut dari keadaan sosialnya. Rumah yang besar, putusnya hubungan dengan masyarakat sekitar, dan betapa renggangnya hubungan antar bapak, anak lelaki, dan anak perempuan di dalam struktur keluarga adalah kritik sosial halus yang tersembunyi soal bagaimana modernitas dapat menyesatkan.

Pengabdi Setan versi asli menampakkan hantu dan ilmu hitam sebagai serangan yang tak terbantahkan. Ambilah contoh ketika Tomi sang anak lelaki yang sedang salat didatangi ibunya dalam bentuk yang tidak diharapkan. Adegan ini bukan hanya hendak memberikan teror di depan mata, tapi juga menimbulkan ketegangan emosional. Tentunya traumatis bagi seorang anak yang ditinggal ibunya harus mengalami kejadian yang tak diinginkan macam ini. Parahnya, ia harus menghadapinya ketika sedang beribadah, kegiatan yang telah disepakati secara norma sosial dapat mengamankan siapa pun dari gangguan makhluk halus.

Seluruh film juga bisa diartikan sebagai kisah coming of age dari Tomi. Seorang remaja yang jarak di antara keluarganya terlalu kaku; sang ayah sibuk bekerja di perkantoran sedangkan sang kakak memperluas pergaulan lewat ajojing sampai tengah malam. Ia yang sendirian berusaha mencari keselamatan melalui ilmu hitam yang malah kemudian menyiksa batinnya. Ketika ia datang ke kuburan ibunya untuk menggalinya, pesan yang disampaikan bukan hanya untuk melawan setan tapi juga pelarian dari kegelisahan. Tentunya simbol ini dekat dengan setiap anak muda yang sedang dalam masa perkembangan.

Lebih banyak orang mengingat Pengabdi Setan sebagai produk khotbah. Pada akhirnya agama yang menyelamatkan semua masalah dalam keluarga. Tema macam ini juga ditemui di film-film horor lainnya dari era tersebut, tapi kehadirannya bukan dipakai untuk mengada-ada. Justru kesimpulan ini membungkus dengan masuk akal: ilmu hitam harus dilawan dengan ilmu putih.

Pengabdi Setan menjadi legenda bukan hanya karena film ini telah ada di kepala banyak orang sejak lama, tapi juga karena merupakan produk hiburan yang pantas didiskusikan lebih mendalam. Untuk menyamai pencapaiannya jelas butuh lebih dari sekadar perubahan kualitas teknis produksi.

Hasil Akhir

Maka menonton Pengabdi Setan (2017) seperti menonton sesuatu yang sama sekali berbeda. Jika saja judul dan produksinya tidak mengacu pada film berjudul Pengabdi Setan yang dirilis sebelumnya, bisa jadi karya terbaru Joko ini terlepas dari penghakiman ekspektasi. Sekalipun banyak catatan cacatnya, usaha Joko untuk memberikan standar baru bagi film horor Indonesia patut diberikan acungan jempol. Segala trik yang berusaha diperlihatkan, keseriusan menggarap film horor secara produksi, dan keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan yang selama ini tak terlihat merupakan niat yang pantas diapresiasi. Setidaknya film ini dapat menjadi pembuka jalan untuk para sineas lainnya yang hendak menantang ruang pemahaman yang selama ini terbatas.

Editor's Pick

Add a Comment