Penampilan Sepanggung Sore dan Mondo Gascaro

Oleh
Sore memainkan "Tatap Berkalam" saat Ade Paloh berpindah ke terompet. Abyan Nabilio
Sore bawakan "Tatap Berkalam" saat Ade Paloh berpindah ke terompet. Abyan Nabilio

Ternyata ini bukan cerita reuni

Waktu menunjukkan pukul 8 malam, lewat delapan menit dari jadwal mulai yang tertera di poster acara bertajuk Bicara Musik Live. Semua tempat duduk dengan sofa, di bar itu, sudah habis dipesan walaupun baru beberapa yang diisi. Tersisa lah beberapa tempat kosong pada empat baris kursi di dua meja panjang yang melintang di tengah ruangan –mungkin cukup untuk tiga puluh orang lebih jika sudah terisi semua –dan satu meja bundar di antara meja sejenis dengan segitiga bertuliskan reserved di atasnya.

Meja bundar tersebut akhirnya diisi empat pria. Tiga di antaranya tampak saling kenal. Salah satu dari mereka merupakan keturunan Yaman yang akan atau baru saja menikah dengan wanita ekspatriat campuran Amerika dan Italia. "Cakep dong anak lo nanti," kata salah satu temannya. "Bule Arab gitu."

Keturunan Yaman tersebut mengatakan bahwa salah satu kecocokan mereka adalah musik, menyebut Sonic Youth sebagai band yang sama-sama mereka dengarkan. Temannya satu lagi yang berkaca mata menanggapi dengan mengatakan bahwa wanita pilihannya itu "culture juga."

Lalu, obrolan mereka beranjak dari pengalaman bermain saham hingga perkembangan musik. Mereka memang tampak seperti pengikut musik setia. Salah satunya bahkan mirip dengan pentolan dari band terpandang di kancah musik samping ibu kota yang sangat culture sekali.

Pria keempat hanya diam mendengar tembang-tembang dari Belle and Sebastian, Camera Obscura, The Sundays, Kings of Convenience, The Whitest Boy Alive, dan entah proyek Erlend Øye mana lagi diputar oleh DJ. Yang ia incar di meja itu mungkin hanya tempat duduk dan asbak. Sesekali, ia membuka ponsel –lebih sering dari masuknya notifikasi ke sana –untuk menghilangkan kecanggungan di tengah obrolan orang asing yang tidak bisa dengan sengaja ia kupingi tapi tetap bisa ia nikmati. Jika canggungnya sudah keterlaluan dia akan membakar rokok, meregangkan badan, atau melakukan apa pun yang membuatnya terlihat sibuk.

Hanya ada satu orang di ruangan itu yang ia kenal. Satu orang senior di kantor yang akan memberinya kecanggungan lebih dari obrolan orang tak dikenal jika ia mencoba menyapa. Ini karena sapaan terakhirnya di suasana serupa, tempat asing tanpa orang lain yang dikenal, bertepuk sebelah tangan. Ia bahkan ragu senior tersebut kenal dengannya walaupun sering bertatap muka.

Tempat duduk semakin penuh semakin pria keempat mengisap rokoknya. Para pendatang, yang beberapa di antaranya telah berada di sana sejak pukul 19.00 menunggu Mondo Gascaro dan Sore naik ke panggung, kini telah berjumlah hampir 60 orang. Mereka, mungkin, berharap kejutan datang dari keduanya yang mau bermain bersama kembali, walaupun mengharapkan hal tersebut malam ini sama saja menunggu Tom Hansen dan Summer Finn untuk kembali bersama hingga akhir closing credit (500) Days of Summer. First drink charge sebesar Rp 150 ribu nampaknya sepadan dengan sejumlah minuman, aksi Mondo, Sore, dan pelampiasan dari harapan kejutan sebelumnya.

Entah penggemar yang datang akan terkejut atau tidak, yang pasti, sebelumnya, ini menjadi kejutan bagi kedua lineup. "Gua semalam ketemu Ade (Sore) dan dia kaget juga," kata Mondo yang sama terkejutnya saat mengetahui bahwa yang mengisi Bicara Musik Live hanya ia dan Sore saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Membaca pembuka tulisan sepanjang delapan paragraf di atas mungkin sebanding dengan menunggu acara dimulai dalam skala waktu yang lebih kecil. MC mulai muncul sekitar pukul 21.30. Sebelum memanggil Mondo untuk tampil, ia sempat bertanya kepada pengunjung tentang apa yang mereka harapkan atas panggung kali ini. Terbukti, beberapa pengunjung menjawab bahwa mereka mengharapkan Sore dan Mondo bermain bersama membawakan lagu lama mereka seperti "Karolina" dan "No Fruits for Today."

Akhirnya, Mondo dan bandnya naik ke atas panggung. Tanpa panjang lebar ia membuka penampilan dengan potongan instrumental dari Rajakelana, "Sturm Und Drang (fur Ludwig Van)." Entah mengapa, saxophone dalam lagu ini membawa ingatan tentang fase cerita sedih dalam RPG Jepang, di mana raja meninggal dan putrinya memotong pendek rambut sebagai tanda perubahan. Sebelum melanjutkan ke lagu selanjutnya, "Naked" dari album yang sama, ia sedikit menjelaskan bahwa album tersebut adalah tentang "merayakan hidup." Single pertamanya, "Saturday Light," satu-satunya lagu yang bukan berasal dari album 2016 Mondo malam itu, dibawakan setelah "Sanubari." "Dan Bila..." hadir selanjutnya disusul dengan "A Deacon"s Summer" menutup set enam lagu yang terasa tanggung mungkin karena waktu menunggu jauh lebih lama.

Mondo bawakan lima lagu Rajakelana dalam kesempatan ini. (Foto: Abyan Nabilio)

Kejutan datang saat tidak ada yang menduganya. Saat MC mencoba mengisi waktu sembari Sore menunggu bersiap-siap, ia mengajak salah satu pengunjung untuk maju dan berbincang dengannya. Ia pun menarik gadis dengan kaca mata di barisan belakang yang terlihat tidak asing. MC tersebut menanyakan nama sang gadis dan ia menjawab, "Angel." Pengunjung lalu tertawa.

Saat ditanya tentang apa kesan Sore untuknya, Angel memuji video musik "Pergi Tanpa Pesan" karena telah mengangkat "pesan estetika dari prostitusi."

MC pun membujuknya untuk bernyanyi. Satu dari penonton berteriak "Kalapuna."

""Kalapuna," lagu siapa itu?" tanya gadis yang kini mengaku sebagai Siska itu. Namun, karena didesak ia pun bernyanyi lagu pilihannya sendiri.

"Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik," nyanyi Siska alias Angel menyuplik lagu tema Crayon Shin-chan. "Oh senangnya, aku senang sekali."

Sore membawakan empat lagu dari Los Skut Leboys yang dirilis dua tahun lalu. "R14" membuka penampilan mereka dilanjutkan dengan "Tatap Berkalam," di mana Ade Paloh bermain terompet di sekitar akhir lagu. Di lagu selanjutnya, Ade kehilangan contekan liriknya. "Fiksinesia" yang bekerja sama dengan vokalis sekaligus gitaris The Milo, Aji di versi albumnya, tetap dibawakan dengan lancar oleh Ade walaupun sampai akhir lagu contekannya belum ditemukan. "Plastik Kita" dibawakan selanjutnya dan setelah itu Awan Garnida mengucapkan rasa syukurnya bisa bermain satu panggung kembali bersama "saudara kita Mondo" dan menyapanya yang berada di belakang, satu-satunya interaksi antara mereka yang terlihat di panggung malam itu. Setelah itu, mereka menutup penampilan dengan "Sssst.." dari kompilasi mereka, Sorealist.

Acara berakhir sekitar pukul 23.00. Kejutan yang ditunggu tidak terjadi tapi kejutan Siska tadi cukup menghibur, bahkan Ade sempat membahasnya beberapa kali dari atas panggung. Pada akhirnya, Sore dan Mondo masing-masing bermain set yang cukup pendek berisi lagu-lagu pasca-berpisah mereka.

Ini bukan cerita reuni. Ini hanya cerita Mondo yang suatu malam bertemu Sore.

Editor's Pick

Add a Comment