Phoenix Bangkit Lagi

Dalam kunjungan ketiganya ke Indonesia, Thomas Mars dan kawan-kawan masih menemukan cara-cara baru untuk dikenang

Oleh
Phoenix di Jakarta. Pramedya Nataprawira

Setiap kali Phoenix datang ke Indonesia, ada yang patut dikenang. Kuartet asal Versailles, Prancis, tersebut pertama kali datang ke Jakarta di pertengahan 2009, ketika nama mereka sedang meroket berkat album keempatnya, Wolfgang Amadeus Phoenix. "Saya lebih mengingat 2014 tapi saya lebih suka "09," kata Thomas Mars beberapa jam sebelum tampil di We The Fest pada 12 Agustus lalu. "Ada lebih banyak kenangan gila."

Sah-sah saja jika sang vokalis Phoenix tersebut merasa begitu, namun rasanya agak sulit untuk menandingi aksi gila yang dilakukannya pada kunjungan kedua Phoenix ke Jakarta pada awal 2014. Menjelang akhir penampilan, tiba-tiba Mars turun dari panggung sambil membawa mikrofon untuk bergabung dengan penonton yang basah kuyup karena kehujanan sepanjang malam, sehingga membuat panik pihak promotor karena khawatir ia akan kesetrum. "Rasanya seperti mandi untuk waktu yang lama bersama banyak orang," kata Mars. "Spontan, tapi didorong oleh cinta yang murni."

"Pertunjukan yang unik," kata gitaris Christian Mazzalai. Kakak Mazzalai dan sesama gitaris Phoenix Laurent Brancowitz menambahkan, "Kami takkan pernah melupakannya." Pemain bas Deck D"Arcy turut berkomentar, "Saat orang-orang mendiskusikan kenangan yang kuat dari tur, kami menyebut pertunjukan itu."

Pertunjukan kedua Phoenix di Jakarta itu adalah bagian dari tur mempromosikan album Bankrupt!. Usai tur tersebut, di akhir 2014 mereka mulai mengerjakan album berikutnya di Paris. "Kami menemukan studio di Paris, sebuah bekas gedung opera tur yang indah. Kami membawa beberapa instrumen dan bermain musik selama empat bulan. Kami tidak terlalu banyak berpikir," kata Brancowitz.

Album yang dihasilkan, Ti Amo, berisi pengaruh Italia yang menurut Phoenix akibat dari bekerja di studio bekas gedung opera. "Tiba-tiba terjadi, ada banyak unsur Italia. Jadi kami berpikir mungkin itulah yang para malaikat ingin kami lakukan, maka kami melakukannya. Sangat sederhana dan tidak banyak berpikir," kata Brancowitz.

Keuntungan lain akibat bekerja di studio tersebut adalah kesempatan bertemu dengan salah satu band kesukaan mereka, yakni Teenage Fanclub. "Mereka mengadakan konser di gedung yang sama. Jadi itu sangat memudahkan, dan kami memang penggemar berat mereka," kata Brancowitz. "Mereka band yang sempurna untuk ditemui saat masih remaja, karena bisa belajar memainkan lagu-lagu mereka dan memahami mereka," kata Mars tentang band asal Glasgow, Skotlandia, tersebut. "Kami dapat memahami album pertama mereka, A Catholic Education, karena merasa terjebak di Versailles. Instrumen-instrumennya sama, konteksnya juga serupa. Sempurna."

Bisa jadi penonton juga merasakan kesempurnaan serupa ketika Phoenix memulai pertunjukan di panggung utama We The Fest. Di bawah langit malam yang cerah dan dilengkapi oleh visual dan tata cahaya yang apik serta sinkron dengan musik yang dimainkan, keempat anggota Phoenix–bersama musisi tur Robin Coudert pada keyboard dan perkusi serta Thomas Hedlund pada drum–mempersembahkan sederet karya dalam 75 menit. Selain lagu-lagu baru dari Ti Amo seperti "J-Boy" dan "Role Model", Phoenix juga banyak menyuguhkan lagu-lagu andalan lama termasuk "Entertainment" dan "Lisztomania". Mars bahkan mempersembahkan "Long Distance Call" kepada seorang penggemar yang mengeluh lewat media sosial karena mereka jarang membawakan lagu dari It"s Never Been Like That, album ketiga Phoenix.

Sesuai ekspektasi, Mars pun memberi momen yang tak terlupakan. Sebelum akhir pertunjukan, ia sudah sempat turun dari panggung dan menuju barikade penonton ketika membawakan "Armistice". Tapi setelah memainkan "1901" sebagai lagu terakhir, Mars kembali ke tengah-tengah penonton dan berdiri di atas barikade sambil dikelilingi lautan manusia, sementara rekan-rekannya memainkan instrumental "Ti Amo Di Piu" sebagai musik pengiring sampai sang vokalis kembali ke panggung dan pamit untuk terakhir kali.

Sekitar satu jam usai penampilan Phoenix, penonton bermata jeli dapat memergoki beberapa anggotanya sedang menikmati pertunjukan Yesterday Afternoon Boys untuk beberapa saat. Sebelum mereka menghilang lagi, Mazzalai sempat berkata ke saya, "Penonton di Indonesia adalah yang terbaik di dunia, bersama Meksiko." Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedatangan Phoenix ke Indonesia untuk ketiga kalinya ini menyisakan memori manis bagi penonton maupun bagi Phoenix sendiri.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Seni Musik Keras di Rock In Borneo 2017
  2. Maliq & D’Essentials, The Sigit, Stars and Rabbit Siap Ramaikan Pizza e Birra Oktobeerfeast, Jakarta
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  5. 10 Kolaborasi Seru yang Terjadi di Soundrenaline 2017

Add a Comment