Semarak Kolaborasi Soundrenaline 2017

Di edisi ini kami menampilkan para wajah yang menghias festival musik terbesar dan paling konsisten di Indonesia, dari mulai yang senior hingga yang muda

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 149 September 2017. Michael Cools

Sejak dimulai pada 2002, hingga kini festival musik Soundrenaline dengan mengesankan konsisten menjadi yang paling besar dan akbar di Indonesia. Soundrenaline menjadi andalan perusahaan rokok Sampoerna A Mild dalam melakukan promosi dan selalu sukses membuat puluhan ribu penonton tergiur datang. Yang juga menarik adalah betapa Soundrenaline tidak berhenti menampilkan inovasi-inovasi yang segar dan mengesankan.

Tidak berhenti di menampilkan nama-nama besar dari berbagai aliran musik maupun yang sedang hangat diminati masyarakat, berbagai program kolaborasi maupun special project membuat festival ini sayang dilewatkan. Ada konsep tur yang memboyong sejumlah band ke berbagai kota di Indonesia, saat Seringai, Deadsquad, Burgerkill, serta Koil diboyong dalam rangkaian tur Road to Soundrenaline 2012 di Palembang, Surabaya, Makassar, dan Medan. Ada konsep kompetisi, seperti saat J-Rocks menang dengan membawa konsep nasionalisme dan mendapatkan hadiah rekaman di London. Ada Nikita Dompas sebagai komandan Soundrenaline Project 2016 yang mempertemukan Neonomora, Kallula, Andy /rif, Marcello Tahitoe, Felix Davide, dan Kikan dengan lagu-lagu legendaris seperti "Vogue" sampai "Ekspresi".

Pada tahun ini, dengan tema besar United We Loud festival Soundrenaline akan diadakan pada 9 dan 10 September di GWK, Bali. Sejumlah headliner internasional yang sudah resmi diumumkan antara lain adalah Dashboard Confessionals, Mew, Jet, dan Cults. Sementara itu aksi-aksi dalam negeri yang akan semakin membuat penonton bergegas datang ke lokasi antara lain adalah Sheila on 7, Tulus, Payung Teduh, Kelompok Penerbang Roket, Scaller, dan Efek Rumah Kaca.

Seperti kebiasaan tahunannya pula, kali ini terdapat sejumlah kolaborasi menarik. Ada Soundrenaline Project 3.0 yang menggabungkan Danilla, Candil, Shae, Aqi Alexa, Monita Tahalea, Fadly Musikimia, dan Ari Lasso. Ada pula Rhythm of People yang berisi Stella Gareth (Scaller), Marco Steffiano dan Iga Massardi dari Barasuara, Kikan, serta Coki Bollemeyer (NTRL). Berbagai kolaborasi lain akan datang dari Kelompok Penerbang Roket bersama Glenn Fredly, maupun Andien bersama Scaller.

Kali ini Soundrenaline juga tak luput menyoroti sisi mode. Beragam aliran musik berarti beragam pula gaya mode para musisi maupun penontonnya. Festival ini memberi wadah bagi mereka yang dengan lantang menyuarakan pernyataan diri lewat mode dan musik. Mereka di bagian sampul majalah ini kami pilih untuk mewakili para musisi yang akan tampil di festival Soundrenaline. Masing-masing memiliki karakter yang kuat dan mencorong, baik dari sisi pribadi maupun musik yang mereka bawa. Warna-warni dan keragaman yang pada akhirnya menyatu dalam sebuah festival musik adalah perayaan akbar bagi pencinta musik di Indonesia.

Danilla
Soal eksplorasi suara baru dan mortalitas sebagai dorongan untuk menciptakan karya-karya yang lebih personal

Danilla (foto oleh Michael Cools)

Nama Danilla seperti sudah menjadi jaminan keramaian suatu acara. Penampilannya selalu dihadiri banyak orang, sehingga tak heran para penyelenggara keriaan berebut memanggungkan dirinya. Telisik, album perdana rilisan 2014 silam, menjadi sarana perkenalan publik dengan Danilla. Kumpulan materi bertempo lambat juga lembut dalam album—dengan produser Lafa Pratomo—terbukti jitu menarik hati pendengar; koor massal sering terjadi pada konser Danilla.

Namun bukan berarti ia menetap di zona nyaman lalu mengulang formula Telisik untuk album kedua. Bila didengar dari sepasang single baru "Kalapuna" dan "Aaa", Danilla justru terdengar menikmati eksplorasinya dalam menggali suara-suara baru. Ada unsur psychedelic di sana, bebunyian synthesizer mengawang dan vokal dengan balutan gema tipis menghiasi kedua lagu itu.

Mengenai keputusan tersebut, Danilla menjelaskan: "Aku nggak tahu kapan aku mati." RENO NISMARA

Eben (Burgerkill)
Eben hanya perlu selembar kaus band sebagai sebuah fashion statement

Eben (foto oleh Michael Cools)

Aries Tanto adalah nama asli Eben, gitaris Burgerkill, band metal terbesar di Indonesia saat ini yang terbentuk pada tahun 1995. Ia hadir di pemotretan Rolling Stone sambil mengenakan kaus band Wolfbrigade, sebuah band D-beat asal Swedia. Bicara tentang mode dan bicara tentang seorang Eben bisa jadi sama saja dengan membicarakan jutaan metalhead lainnya di seluruh dunia. Kaus band adalah fashion statement paling digemari oleh penggemar musik metal, begitu pula Eben.

Sebagai seorang kolektor merchandise band yang serius, entah berapa ratus atau ribu jumlah kaus band yang dimiliki Eben saat ini. "Mengenakan kaus band bukan hanya baju, tapi juga ada statement di situ. Menjelaskan karakter dan identitas sebagai musisi, metalhead. Ini menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri buat gue. Ini gue tularkan ke anak-anak gue sekarang," kata Eben sembari terbahak. RICKY SIAHAAN

Iga Massardi (Barasuara)
Setelah berjaya lewat album pertama, langkah Barasuara menjadi lebih dewasa

Iga Massardi (foto oleh Michael Cools)

Barasuara merilis album debut fenomenal bertajuk Taifun pada 2015. Album tersebut menawarkan identitas indie rock yang segar dengan penggunaan lirik bahasa Indonesia sebagai persona utamanya. Kualitas Taifun dibanjiri pujian sebagai salah satu album terbaik 2015. Perjalanan karier bermusik Barasuara selanjutnya menjadi sorotan.

Keenam personel Barasuara memiliki karakteristik kuat, baik secara permainan musik maupun penampilan berpakaian. Salah satunya vokalis-gitaris Iga Massardi yang selalu mengenakan kemeja batik di setiap panggung Barasuara. "Awalnya gue mengenakan batik tidak membawa agenda apa pun, gue tidak membawa semangat nasionalisme atau misi budaya," ungkapnya. PRAMEDYA NATAPRAWIRA

Kallula (KimoKal)
Si penggemar festival berbagi cerita tentang pengalamannya

Kallula (foto oleh Michael Cools)

"Yang menarik dari festival adalah energinya. Di setiap festival pasti vibe dan penontonnya berbeda-beda, tapi ada kesamaan di semuanya, yaitu orang dengan bersemangat datang untuk menonton band yang mereka suka," kata Kallula dari duo elektronik KimoKal.

Festival Coachella tahun 2013 seperti menjadi permulaan bagi Kallula. "Di sana saya benar-benar merasakan festival musik itu seperti apa. Apalagi semua aliran musik ada di sana," katanya. "Turning point-nya adalah saat di sana menonton Phoenix. Saya merasa saya ingin ada di panggung sebesar itu. And then it happened." Itu saat beberapa tahun kemudian Kallula merasakan panggung raksasa di sebuah festival musik di Jakarta bersama Dipha Barus. "It"s a bit surreal, dan ternyata nggak sedeg-degan yang dibayangkan," katanya. WENING GITOMARTOYO

John Paul Patton (Kelompok Penerbang Roket)
Bersama vokalis band rock paling berbahaya di Indonesia saat ini

John Paul Patton (foto oleh Michael Cools)

Bila kini ada sebuah grup hard rock yang paling sukses membawakan sikap rock Indonesia "70-an yang berengsek dan jujur, band tersebut adalah Kelompok Penerbang Roket. Trio solid yang beranggotakan vokalis-pemain bas John (Coki) Paul Patton, vokalis-gitaris Rey Marshall, serta drummer Viki Vikranta ini adalah unit produktif yang merilis debut album Teriakan Bocah di tahun 2015, dan tak lama kemudian di tahun yang sama merilis album tribute terhadap Panbers berjudul HAAI. Dalam waktu satu tahun, melalui kerja keras dan kerja pintar dari Berita Angkasa, perusahaan manajemen yang menaungi mereka, Kelompok Penerbang Roket melesat menjadi salah satu band rock paling direspons dan digemari di Indonesia saat ini. RICKY SIAHAAN

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 149 September 2017.

Editor's Pick

Add a Comment