Live Review: Spotify on Stage

Oleh
DNCE saat menghibur penonton di Spotify on Stage, Rabu (9/8) lalu. Alana Pramanda

Rabu malam yang berkeringat bersama para pendengar layanan musik streaming terbesar di dunia

Rabu (9/8) malam adalah waktunya berpesta bagi para penikmat musik yang suka berdansa. Pasalnya, Spotify mengadakan acara pertamanya di Asia, Spotify on Stage dan kebanyakan bintang tamu yang diundang memainkan musik yang bisa membuat pendengar tak bisa diam.

Acara mulai pukul tujuh malam namun halaman JIEXPO Hall C3, Jakarta yang menjadi lokasi acara, sudah ramai sejak siang. Para pengantre tiket yang didominasi oleh wanita muda dan nampaknya merupakan penggemar dari unti K-pop NCT 127 ini rela berpanas-panasan agar bisa melihat idolanya beraksi malamnya.

Unit electro chill house AmPm, satu dari empat bintang tamu yang telah disebutkan sebelumnya, memulai acara setelah pengunjung sama-sama menyanyikan "Indonesia Raya." Dengan topeng beruang kutub, duo produser asal Jepang ini membuat pengunjung yang sudah memenuhi venue terus bergerak, melambaikan cincin berlampu, lightstick, hingga flash pada ponsel mereka ke sana kemari.

Wajar jika acara ini penuh sejak awal. Spotify memiliki keunggulan untuk mengurasi artis dengan memantau jumlah pendengar playlist dari aplikasi musik digital mereka. Musisi-musisi yang diundang dalam kesempatan ini pun dipilih dari playlist terpopuler di Indonesia. Mereka mengundang Michael Kaneko, penyanyi yang sama-sama berasal dari Jepang, untuk mengisi "Best Part of Us." Ini merupakan single pertama mereka yang memang direkam dengan suara penyanyi tersebut dan menurut Spotify dalam laman resmi Spotify on Stage, lagu ini, "telah meraih lebih dari satu juta stream dalam hanya 10 hari."

AmPm berhasil membuat venue meriah, tugas Isyana yang tampil setelah mereka hanya bersifat melanjutkan. Dengan hit andalannya seperti "Mimpi," "Kau Adalah," dan "Tetap dalam Jiwa" dari album 2015, Explore dan tentunya suara yang mumpuni, ia berhasil mempertahankan kemeriahan tersebut, bahkan melanjutkannya.

Belum genap satu jam acara berlangsung, penampil ketiga yang ditunggu-tunggu pun mendapat giliran. Belum mereka naik panggung, suara penonton yang didominasi lengkingan histeris gadis-gadis sudah semrawut memenuhi ruangan. "Coming Up Next... NCT127" yang terpampang dalam layar di belakang panggung menjadi aba-aba mereka untuk berteriak gemas.

Unit K-pop beranggotakan Taeil, Johnny, Taeyong, Yuta, Doyoung, Jaehyun, Winwin, Mark, dan Haechan membawakan lima lagu dalam kesempatan ini, yaitu "Firetruck," "Limitless," "Good Thing," "0 Mile," dan "Cherry Bomb." Tiba-tiba pandangan menuju panggung dihiasi warna-warni layar ponsel yang digunakan untuk keperluan media sosial sehari kedepan.

"I'm the biggest hit/ I'm the biggest hit on this stage," teriak para penonton mengikuti irama lagu terakhir, "Cherry Bomb" sementara sembilan anggota NCT 127 menarikan koreografi mereka yang memadukan gerakan slowmotion, entakan badan, dan pembagian luas panggung yang baik.

Kebanyakan penonton sepertinya memang datang ke Spotify on Stage untuk menonton boy band asal Korea Selatan tadi. Ini terbukti dari banyaknya penonton wanita remaja yang keluar setelah penampilan mereka. Beberapa bahkan menunggu di depan pagar yang mengarah ke belakang panggung, menunggu idolanya keluar dan mengambil beberapa foto. Akan tetapi, kepergian mereka tidak lantas membuat venue sepi.

Raisa dan Afgan berturut-turut akan tampil selanjutnya. Raisa tampil cantik denga dress berwarna baby pink membawakan tembang-tembang andalannya seperti "Could It Be" dari debutnya Raisa, "Kali Kedua," dan "Usai Di Sini" dari album terbarunya dari tahun lalu Handmade.

Afgan selanjutnya membuka penampilannya dengan "Katakan Tidak." Di tengah-tengah penampilan Afgan mengajak kembali Raisa, yang kini sudah berganti pakaian dengan atasan putih dan bawahan hijau muda, untuk naik ke atas panggung. Mereka membawakan lagu duet mereka "Percayalah" dengan emosi yang terlihat bertemu satu sama lain. Penampilan mereka tidak kalah seru dibanding artis impor yang sebelumnya main. Buktinya, lewat lagu "Panah Asmara," Afgan bisa membuat penonton berjingkrak mengikutinya dengan ketukan yang cukup bersemangat.

Selanjutnya adalah satu lagi penampil yang ditunggu-tunggu dengan musik yang membuat tubuh gatal untuk menari. DNCE membuktikan bahwa bermain musik dance tidak membutuhkan banyak bantuan komputer.

Hanya bermodalkan paduan vokal dari Joe Jonas (Jonas Brother), drum dari Jack Lawless, gitar dari JinJoo Lee, dan bass sekaligus keyboard dari Cole Whittle. Walaupun Whittle menggunakan bebunyian yang disaring synth di keyboard-nya, ia tidak menggunakannya secara berlebihan dan tetap dominan memainkan bass. Sepertinya, paduan harmonis antara bass drum Lawless dan bass Whittle yang terdengar sangat low membuat lagu-lagu mereka terasa pas untuk berdansa, tentunya jangan lupakan bumbu teknik picking yang tajam ala funk milik gitaris asal Korea Selatan, Lee.

Lagu pembuka film Lion King mengiringi masuknya mereka yang menggunakan topeng singa dan hiena ke panggung. Setelah itu, mereka pun membuka penampilan dengan "Naked" dan membawakan beberapa lagu lain seperti "DNCE," cover dari "No Scrubs" milik TLC, "Toothbrush," dan ditutup dengan "Kissing Stranger." Walaupun mereka sama liarnya dengan penonton yang menari, Whittle terlihat paling gila dengan rompi tukang parkir dan rok panjangnya.

Akan tetapi, sampai di sana, penonton belum puas dan berteriak, "We want more," beberapa kali. Mereka pun kembali membawakan medley "Wannabe" dari Spice Girl, "Oops!... I Did It Again" dari Britney Spears, dan ditutup dengan lagu andalan mereka "Cake By the Ocean."

Penampilan terakhir dipersembahkan oleh DJ lokal multitalenta, Dipha Barus. Ia mengajak penyanyi sekaligus selebriti media sosial muda, Nadin Amizah untuk membawakan "All Good."

Editor's Pick

Add a Comment