10 Album Metal Favorit M. Shadows dari Avenged Sevenfold

Opini sang vokalis tentang album-album klasik metal termasuk 'Far Beyond Driven’ dari Pantera dan ‘Slaughter of the Soul’ milik At The Gates

Oleh
M. Shadows dari Avenged Sevenfold saat tampil di Jakarta pada awal 2015.

Ketika Rolling Stone mulai mengerjakan daftar 100 Album Metal Terbaik Sepanjang Masa, kami menghubungi beberapa nama besar, seperti Ozzy Osbourne, Lars Ulrich dan Corey Taylor, untuk mengetahui album metal favorit mereka. Setelah kami menerbitkan daftarnya, kami memutuskan untuk mengontak figur-figur lainnya dalam genre ini untuk mendapatkan daftar mereka pribadi.

Selama hampir dua dekade, Avenged Sevenfold telah bermain dengan heavy metal, menyuntikkan genre dengan melodi yang mudah diingat dan melayang dan membentuknya menjadi album konsep yang panjang, seperti album rilisan 2016, The Stage. Setelah album kedua mereka yang menawan pada 2003, Waking the Fallen, secara mengejutkan menjadi hit dan menembus Top 10, mereka memperbaiki sound mereka di album selanjutnya, City of Evil rilisan 2005, mengumpulkan MTV untuk single "Bat Country," sebuah rekaman platinum dan sebuah slot dalam daftar 100 Album Metal Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone. Selanjutnya album tersebut memulai debutnya dengan menduduki posisi Nomor Satu, dan Avenged Sevenfold sejak saat itu telah mencetak nama besar bagi mereka sendiri, salah satunya dengan menjadi pembuka untuk Metallica.

Mempertimbangkan semua ini, kami menghubungi pentolan band ini, M. Shadows, untuk menunggu apa saja album-album metal yang paling berpengaruh bagi dirinya. "Ketika saya membuat daftar ini, saya mencoba memikirkan album-album rekaman yang benar-benar memengaruhi gaya saya, seperti, 'Wow, Anda bisa melakukannya dengan heavy metal,'" katanya pada Rolling Stone. "Jadi saya mencoba memikirkan momen-momen penting dalam hidup saya ketika saya mendengar sound yang berbeda dan kemudian memicu sesuatu."

Inilah yang kemudian ia pilih.

Sytem of a Down, Toxicity (2001)

Saya sering berkunjung ke San Francisco untuk membuat tato, dan saya dengar rekaman pertama System of a Down ini di gerai tato tersebut, tapi tidak pernah membuat saya begitu terpukau. Tapi suatu hari saya mendapat telepon dari Brian Haner, yang kemudian menjadi [gitaris Avenged Sevenfold] Synyster Gates, dan ia berkata, "Kawan. Saya baru saja merekam lagu ini di radio K-Rock, 'Chop Suey' dari System of a Down," dan ia bilang "Ini luar biasa". Dan saat ia membawa rekaman itu ke rumah saya, lagu itu sangat menggetarkan pikiranku, bagaimana bisa sangat melodius dan skizofrenis dan intens pada waktu yang bersamaan. Saya ingat bilang, "Well, tidak mungkin ada lagu lain sebagus ini dalam album itu." Lalu kami membeli album ini dan mendengar "Prison Song" dan mendengar semua lagu di dalamnya dan keseluruhan album itu memukau saya karena saya tak pernah mendengar hal apapun yang sangat skizrofrenis seperti ini. Beberapa tahun kemudian, saya menemukan bahwa mereka adalah penggemar berat Mr. Bungle. Mr. Bungle begitu memengaruhi mereka dan mereka menambahkan unsur heavy ke dalamnya. Mereka membuatnya lebih menarik bagi khalayak luas. Dan mereka memiliki nuansa Timur Tengah yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Jadi itu perubahan besar bagi kami, mendengar mereka mencampurkan metal dan rock bersamaan merupakan sebuah hal yang gila.

Queensryche, “Operation: Mindcrime’ (1988)

Ini adalah album yang ayah saya berikan padaku kemudian. Saya sedang membicarakan tentang hal-hal yang ayah saya dengar ketika ia beranjak dewasa, dan Operation: Mindcrime adalah album yang selalu ia bicarakan di rumah. Suatu hari, saya mulai mendengarkannya dan itu sangat mengagumkan bagi saya. Ia selalu berkata itu "konsep album terbaik sepanjang masa". Saya seperti, "Lagu-lagu ini hits. Semuanya lagu yang hebat".

Ini kemudian punya cerita bersambung yang menakjubkan, dan itu pertama kalinya saya mengenal Geoff Tate, dan saya pikir, "Orang ini vokalis yang menakjubkan. Suaranya lembut, dan memiliki banyak bentuk yang bagus." Saya menjadi terobsesi pada album itu.

Pantera, ‘Far Beyond Driven’ (1994)

Rev yang memperkenalkan saya dengan album ini. Dia penggemar berat Pantera. Ketika saya mendengar Far Beyond Driven, saya sedang banyak mendengarkan band-band punk-rock seperti Bad Religion dan NOFX. Saat saya mendengar kecepatan "Strength Beyond Strength" dan kemudian alur "Becoming" dan "Five Minutes Alone" dan segala hal seperti itu, dan Dime [gitar Pantera Dimebag Darrell], rekaman Vinnie, suara Phil, dan dia bukan hanya berteriak tapi menghajar nada dan membuat melodi keluar dari agresi murni, saya takpernah berpaling.

Dan saya selalu menikmati album itu lebih dari yang sebelumnya, walaupun terdapat lagu-lagu cemerlang dalam Cowboys dan Vulgar. Bagi saya Far Beyond Driven memiliki semangat yang lebih dan agresi yang murni. Dan saya selalu menghargai itu. Saya selalu berpikir itu cukup bagus, dan selalu menjadi album Pantera favorit saya.

Bagian depan album itu memiliki alur yang hebat di dalamnya dan bagian belakang memiliki beberapa hal yang menarik. Saya selalu menikmati "Slaughtered". Tak ada melodi di dalam lagu itu; hanya agresi murni. Saya selalu mencintai lagu itu dan lalu "[Hard Lines], Sunken Cheeks", saya pikir itu mungkin solo terhebat yang pernah Dimebag buat. Solo yang berada di tengah bridge dan itu terdengar seakan ia di dalam air dan menggunakan feedback setiap saat, tapi ia menghajar semua nada cemerlang itu. Tapi saya pilih "Slaughtered" sebagai lagu favorit.

Metallica, ‘Master of Puppets’ (1986)

Black Album adalah perkenalan pertama saya dengan Metallica. Saya masih berumur 12 atau 13 tahun ketika itu. Kami baru mendengarkan musik, dan saya sangat suka album itu, tapi album itu tidak begitu mengubah hidupku. Tapi ketika saya mulai membeli album Metallica yang lainnya, Master of Puppets adalah salah satu yang membuat saya kagum dengan penulisan lagunya. Saya belum pernah mendengar elemen thrash seperti itu. Saya sedang mendengar Divine Intervention dari Slayer dan beberapa album Slayer kala itu, dan sejumlah album itu bagus bagi saya pribadi, tapi tidak sebaik album itu. Master of Puppets memiliki penulisan lagu thrash dengan elemen yang tak pernah saya dengar sebelumnya.

Jika nanti ada orang yang bertanya kepada saya. "Apa itu metal?" saya hanya akan memutar "Master of Puppets". Progresi kord dan bridge-nya sangat cemerlang. Sebanyak apapun orang mencoba bridge itu di mana semua hal berhenti dan Anda lanjut ke kunci selanjutnya dan mencoba untuk kembali. Itu menjadi sebuah standar untuk menciptakan lagu metal/thrash, dan itu memiliki banyak variasi pada musiknya untuk menjaga ketertarikan Anda, yang mana itu luar biasa. Album yang luar biasa. Dari depan ke belakang sangat cemerlang.

Korn, ‘Korn’ (1994)

Ketika itu, saya sedang senang mendengar musik yang lebih berat. Saya mendengar Pantera dari Rev. Saat saya sedang menyetir mobil orang tua saya, dan saya mendengar "Blind" di radio untuk pertama kali dan vokalnya mengingatkan saya pada Phil [Anselmo], karena terdengar seperti ia bernyanyi, sekalipun ia berteriak. Tapi itu lebih kelam dan seram. Membuat saya merasakan hal yang belum pernah saya rasakan sebelum mendengar musik mereka.

Kemudian saya menemukan bahwa itu adalah album Korn, dan saya bilang ke orang-orang tentang Korn dan tak ada satupun yang tahu siapa Korn. Jadi keesokan harinya saya mampir ke Bionic Records di Huntington Beach untuk membeli album pertama Korn. Itu momen yang besar bagi saya karena ketika saya memutar album itu, saya tak pernah mendengar yang seperti ini. Saya rasa orang-orang menyebutnya nu-metal atau apapun itu, tapi itu terdengar berbeda bagi saya. Terdengar funky. Seperti tersiksa. Itu memiliki semua elemen yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Jadi album tersebut adalah momen besar bagi saya.

Jonathan Davis memiliki kegelisahan yang Phil tak punya. Phil terdengar lebih "alpha", sangat lurus sepanjang masa. Dan kemudian Anda mendapat karakter Jonathan yang tetap bernyanyi ketika berteriak, atau dia menghajar nada, tapi ia tidak teriak secara keseluruhan, tapi itu terasa sangat dalam.

Iron Maiden, ‘Number of the Beast’ (1982)

Rekaman Iron Maiden pertama yang pernah saya dengarkan adalah Piece of Mind I, dan saya membeli itu hanya karena gambar sampulnya bagus dam semua orang membicarakan Iron Maiden. Tapi mereka belum jadi band metal populer Amerika ketika saya menemukannya pada umur 12 tahun. Mereka mengalami penurunan dengan vokalis yang berbeda, tapi saya mendengar masa jaya mereka bersama Bruce Dickinson. Jadi saya memilih Piece of Mind dan sulit bagi saya untuk mencernanya di kepala dengan seberapa panjangnya lagu mereka dengan begitu banyak solo yang berbeda. Ketika saya kembali dan mulai membeli lebih banyak rekamannya, saya menemukan Number of the Beast, dan rekaman itu adalah salah satu yang cocok dengan selera saya dan membuat saya menjadi penggemar berat mereka sepanjang masa.

Penciptaan lagunya yang membuat saya tertarik. Ringkas, terdapat banyak elemen yang menarik, seluruh duel gitarnya. Dan saya telah mendengarkan In Flames dan lainnya semacam itu, tapi saya tak pernah mendengar dari mana pengaruh yang mereka dapatkan.

Rekaman itu mengubah segalanya bagi diri saya, dan saya ingat membawanya ke Brian [gitaris Avenged Sevenfold Synyster Gates] dan membawanya ke Zach [gitaris Avenged Sevelfold Zacky Vengeance] dan berkata, "Man, duel gitar ini sangat keren. Dengarkan apa yang mereka lakukan di sini. Cara mereka menggabungkannya keren." Dan saya ingat bahwa rekaman mereka banyak mengubah kami. Membuat kami paham bahwa tak menjadi masalah memiliki dua solo dalam satu lagu, dan untuk bertukar alat dengan cepat. Jadi album itu telah memberi pengaruh besar bagi Avenged Sevenfold.

Helloween, ‘Keeper of the Seven Keys: Part II’ (1988)

Saya mendengar "I Want Out" di gerai tato di San Jose, AS. Saya datang ke beberapa toko rekaman di sana dan memilih Maiden dan memilih beberapa album power-metal Eropa yang berbeda dan mereka ada dalam sebuah kompilasi. Saya dengar lagu itu dan berpikir, "Tidak mungkin ada lagu serenyah, sebersih dan keren seperti ini." Saya mampir dan membeli Keeper of the Seven Keys Part I dan II secara bersamaan dan lagu-lagunya disusun dengan baik, mereka bisa jadi lagu pop.

Lalu Anda menemukan Michael Kiske yang pasti salah satu vokalis favorit saya sepanjang masa karena dia sangat lembut – sangat pelan dan jangkauan vokalnya tidak terkira. Rasanya seperti tak pernah bersusah payah menyanyikannya. Dia salah satu vokalis, yang menurut saya, masih dipandang sebelah mata karena orang jarang membicarakannya. Menurut saya, CD ini takkan pernah bisa Anda beli di gerai Best Buy selamanya. Saya harus memesannya lebih dulu. Akhirnya ini akan ada di iTunes sekarang. Tapi ini merupakan salah satu dari sekian album yang diciptakan lagunya dengan cemerlang. Sangat terasah. Mungkin mirip Iron Maiden versi pop.

Rekaman ini benar-benar membuat saya menyukai apa yang terdapat dalam sisi melodius musik metal. Anda tidak selalu harus menjadi sangar atau gelisah seperti Korn atau sinting seperti System. Ini lurus-lurus saja ke depan, temponya hampir seperti punk rock. Tapi ini sangat lembut dan penulisan lagunya menakjubkan bagi saya.

Anda bisa mendengar pengaruh rekaman itu pada "Beast and the Harlot." Terdapat beberapa lagu yang mendapat ide dari album ini di dalamnya, seperti, "OK, inilah sebuah permainan piano yang hebat di mana mereka telah melakukan perkembangan dan modulasi besar di sini. Lakukan itu!" Ini salah satu dari sejumlah rekaman yang hebat bagi saya semasa kecil, tapi ketika Anda memutarnya dalam mobil bersama orang lain, mereka seperti,"Apa ini? Siapa yang menyanyikannya?" Dan saya selalu berpikir ini menyenangkan.

Megadeth, ‘Countdown to Extinction’ (1992)

Saya ingat ketika mendengar radio KNAC memainkan "Sweating Bullets". Seakan Anda tidak tahu apa yang sedang menyengatmu. "Apa ini? Orang ini menarasikan hal ini dalam musik menyeramkan ini." Jadi saya keluar dan membeli Countdown to Extinction keesokan harinya.

Ini lucu. Saya menyimpan baju panjang tangan Pantera yang terdapat "Fucking Hostile" pada desainnya dan hal lainnya. Dan ayah saya datang, "Jangan dengarkan itu. Itu berkata "Fucking Hostile"". Dan aku seperti, "Bukan begitu. Ini Megadeth. Ayah harus mendengarkannya". Ia menjawab, "Saya akan mendengarnya. Jika terdapat makian, kamu tidak boleh mendengarkannya". "OK, baiklah." Keesokan harinya, ayah saya kembali dan berkata, "Album ini luar biasa." Dan kemudian ia mulai membeli album Megadeth. Itu sudah dibeli, bagus, vokal Dave Mustaine juga sangat seram dan rekamannya terdengar sangat terasah dan sempurna. Ini terdengar keren.

Seiring bertambahnya usia saya, saya mulai menyadari betapa luar biasanya Marty Friedman dalam rekaman itu. Tapi lagi-lagi, kembali pada penciptaan lagu dan saya hanya anak kecil yang berkata, "Ini nyambung dengan saya. Saya paham. Saya mengerti heavy-metal ini." Seluruh eranya membawa saya ke dalam. Terdapat banyak lagu hebat dan rekaman yang hebat ketika itu.

At the Gates, 'Slaughter of the Soul' (1995)

Saya akan pergi ke toko Bionic Records setiap hari sepulang sekolah. Dan ada seorang pria bernama Mike, dan dia hanya akan menyetel musik death metal, thrash metal, black metal di toko saat dia bekerja. Dia mengenalkan saya dengan In Flames. Dia mengenalkan pada Dark Trainquillity.

Suatu hari dia mengenalkan saya dengan At the Gates. Sewaktu masuk, saya bilang, "Apa ini?" Karena saya juga benar-benar suka punk rock. Saya cocok dengan kecepatan dan keganasan musik seperti itu. Saya berkata, "Baiklah, setiap lagu tidak bisa seperti itu, maksud saya itu tidak masuk akal." Dan dia seperti, "Tidak, coba simak Slaughter of the Soul. Ini CDnya. Anda akan berterima kasih pada saya nanti."

Saya kemudian masuk ke mobil dan mendengarkan, saat itu suasananya seperti wajah Anda baru saja dihajar batu bata berulang kali. Tidak hanya itu, riffnya bagus, penulisan lagunya juga bagus, rekamannya terdengar bagus. Saat itu terasa ada momen lembut, tapi ketika balik lagi, album tersebut akan menendang perut Anda lagi. Jadi bagi saya, rekaman itu mengubah segalanya karena saya menyadari ternyata ada band di luar sana yang membuat album dengan lebih berat, lebih kuat, dan lebih baik daripada yang lainnya, tapi juga menulis lagu-lagu bagus sekaligus juga sangat melodius.

Saya telah mendengarkan banyak sekali black metal, menurut saya, riffnya tidak semuanya bagus, tapi dengan At the Gates, saya malah meninggalkan album ini selama setahun di mobil saya, dan saya akan memamerkannya kepada setiap orang yang saya temui. Saya kira kami menggunakan banyak elemen musik mereka di Avenged, di mana hanya ada satu-dua pukulan thrash. Itu yang besar untukku.

Kami akhirnya benar-benar bermain sepanggung dengan mereka di Belgia saat mereka melakukan konser reuni. Saya membayangkan mereka pasti bagai orang gila tergila sepanjang masa, namun lucunya ternyata mereka hanya sekumpulan pria biasa-biasa saja di atas panggung, tapi sangar... Saya sempat bilang, "Wow, ini gila, Bung, kalian ternyata sama saja seperti saya, Bung."

Dream Theater, 'Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory' (1999)

Ini adalah album Dream Theater pertama yang saya benar-benar dengarkan. Saya ingat pernah berada di Warped Tour pada 2004, dan mendiang The Rev drummer Avenged Sevenfold saat itu sedang memutarnya di van kami. Kami memiliki pemutar CD baru dan dia memutar album ini saat harus menyetir, dan saya ingat mengambil CD itu, merebut Walkman dan duduk di belakang van hanya untuk menyimak album tersebut secara mendalam.

Saya suka ceritanya. Saya menyukai segala hal tentang Dream Theater pada rekaman itu. Kemudian saya kembali dan sekarang saya sangat mengenal keseluruhan diskografi mereka, tapi rekaman itu mengubah segalanya bagi saya karena ini adalah pertama kalinya saya benar-benar mendengar sebuah cerita di sebuah album. Saya bahkan saat itu belum sempat mendengarkan Operation: Mindcrime.

Ini adalah album konsep pertama yang benar-benar saya simak, dan ini membuat saya memikirkan hal-hal yang berbeda. Menurut saya album itu digarap dengan sangat baik dengan ciri khas progresifnya, dan melodinya brilian. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar diperkenalkan dengan John Petrucci dan permainan gitarnya, yang saya rasakan, meskipun dia adalah salah satu pemain gitar yang paling dihormati namun kerap dipandang sebelah mata, karena saya merasa dia tidak hanya secara teknis brilian, tapi dia selalu emosional saat memainkan nada-nada yang tepat. Rekaman ini menunjukkan kepada saya bahwa Anda bisa menceritakan sebuah cerita besar dengan heavy metal. Anda bisa mendapatkan banyak hal mendengar CD itu dan tidak selalu sederhana dan mudah untuk dimengerti. Anda bisa membuat petualangan dari semua itu. Dan benar-benar membuka mata saya akan semua di dalamnya.



Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017
  4. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Editor's Pick

Add a Comment