David Fricke Mengenang Chester Bennington

Bahkan di ketenarannya, penyanyi brilian ini berusaha mengalahkan iblis dalam dirinya

Oleh
Chester Bennington. Stefan Brending

Banyak penghormatan terjadi di Harlem Apollo Theater, Kamis (20/7) lalu, selama penampilan maraton Guns N" Roses di sana yang disiarkan langsung di Sirius XM Radio. Di akhir bagian kedua dari konser tiga jam tersebut, Axl Rose tampak tergesa-gesa keluar panggung, meninggalkan sorotan lampu pada gitaris Slash dan Richard Fortus serta duet instrumental mereka pada lagu Pink Floyd rilisan 1975, "Wish You Were Here." Saat Rose kembali, ia duduk di depan piano dan memimpin band membawakan elegi tanpa kata lagu "Layla" dari Derek and the Dominos.

Rose tidak berkomentar di antara dan setelahnya, mengajak Guns N" Roses memainkan "November Rain" milik mereka sendiri. Itu adalah sebuah transisi yang pas: "Love is always coming and love is always going," Rose bernyanyi, "and no one's really sure who's lettin' go today." Lalu GN"R mengingatkan betapa hebatnya mereka sebagai sebuah band cover, memainkan lagu "Black Hole Sun" milik Soundgarden untuk mengenang Chriss Cornell, yang meninggal bunuh diri pada Mei lalu.

GN"R mengakhiri malam itu dengan "Knockin" on Heaven"s Door" milik Bob Dylan dalam versi mereka sendiri. Akan tetapi, saat Slash dan Fortus, dalam encore, membuka "Patience" dengan tambahan nomor "Mellisa" milik Gregg Allman, sulit untuk tidak mengenang banyaknya kehilangan figur-figur rock tahun ini –dan satu hantu yang baru baru saja bergabung.

Pukul 9 hari itu di Los Angeles, AS –hanya berselang dua bulan setelah kematian Cornell –Chris Bennington, vokalis dari band metal alternatif, Linkin Park ditemukan tewas di rumahnya sendiri, diduga ia bunuh diri. Usianya 41 tahun.

Saya bertemu Bennington pada awal 2002, saat pergi ke L.A. untuk menulis fitur tentang Linkin Park bagi Rolling Stone, debut mereka dalam sampul majalah ini. Saat itu, Linkin Park –Bennington, rapper Mike Shinoda, gitaris Brad Delson, drummer Rob Bourdon, bassis David "Phoenix" Farrell, dan DJ Joseph Hahn –adalah salah satu band rock terbesar di dunia. Album pertama mereka, Hybrid Theory –yang dirilis tahun 2000 dan hal langka pada saat itu –sudah terjual 6 juta kopi di AS dan lebih dari 11 juta kopi di seluruh dunia. Dan Linkin Park akan kembali tur, setelah lebih dari satu tahun di jalan.

Saat itu, bahkan saat latihan, mereka masih bermain seperti sebuah band dengan segala macam pembuktian. Bennington yang masuk terakhir ke band, pindah dari Phoenix pada 1999 saat yang lain menamai band mereka Xero, memenuhi undangan dari manajemen mereka. Mereka tampil sebanyak 42 kali dalam showcase untuk beberapa label rekaman, Bennington bilang pada saya dalam wawancara itu, dan "ditolak oleh semua." Akan tetapi, saya menyadari salah satu dari hubungan yang membuat mereka bertahan dari penolakan tersebut dan membuat Linkin Park bertahan utuh selama 15 tahun –berhasil dan berevolusi dalam karya mereka seperti kolaborasi dengan Jay-Z pada 2004, Collision Course, dan Minute to Midnight dari 2007 dibuat dengan bantuan produser Rick Rubin.

Wawancara saya dengan Bennington bertempat di sebuah restoran di Santa Monica; istri pertamanya, Samantha ikut bergabung dengan kami. Itu bertepatan dengan sebuah perayaan juga. Dua minggu sebelumnya, pada 2 Januari 2002, sang vokalis tersebut telah berhenti minum. Pasangan itu merayakan lembaran baru vokalis tersebut dengan air mineral. Akan tetapi, bicara soal adiksi sebelumnya –kokain dan methamphetamine saat remaja; kecanduan alkohol yang membutakan –mereka adalah bayangan permanen, pelajaran sehari-hari tentang penghargaan atas hidup.

"Mudah untuk terjebak di sana –"diriku yang malang,""kata Bennington. Ia juga mengutip "Crawling" dari (Hybrid Theory) sebagai "lagu tentang menerima tanggung jawab atas perbuatanmu. saya tidak mengatakan '–mu' untuk segala hal. Ini tentang bagaimana 'saya' menjadi alasan mengapa saya merasa seperti ini."

Membaca cerita itu lagi, setelah ditemukannya mayat Bennington dan setelah penampilan Guns N" Roses, saya teringat kegelisahan terkait apa yang saya lakukan sebagai wartawan. Saya menulis tentang musik dan para musisi untuk, kuharap, anak cucu mereka nantinya. Saya sangat bergantung pada kenyataan –apa yang orang percaya, tentang karya dan diri mereka, saat kami berbicara. Dan saya telah belajar itu dengan cara yang sulit berulang kali –mulai dari Kurt Cobain, Scott Weiland, dan Chris Cornell di antara yang lainnya.

Saya tidak berusaha kembali kepada kenyataan itu, tentang musik dan hidup pada 2002, bersama Bennington. Ia sangat terbuka tentang usahanya melawan penyalahgunaan obat di berbagai media dan situs-situs lainnya. Akan tetapi, potongan Rolling Stone 2002 itu adalah satu-satunya wawancara mendalam saya dengannya dan satu-satunya bagian hidup saya tentang Linkin Park. Saya tetap menjadi pendengar dan penasaran. Bennington adalah penyanyi yang hebat dengan kemampuan berubah-ubah. Ia memiliki kekuatan terhadap melodi dengan rentang vokalnya: keganasan yang buas dan meledak-ledak; geraman yang rendah dan mendidih; tantangan bergaya hip-hop; introspeksi yang kasar dan menyedihkan. Saya pikir album mini rilisan 2013-nya setelah menggantikan Weiland untuk Stone Temple Pilots, High Rises, adalah sebuah persinggungan yang menjanjikan, sebuah kesempatan bagi Bennington untuk mengikat vokalnya dalam lagu heavy rock yang klasik. STP malah berduka lagi atas kepergian frontman mereka lainnya; Linkin Park kehilangan vokalis dan lebih dari itu; dan saya menulis tentang musisi lain yang memilih untuk pergi, terlalu cepat tanpa peringatan.

Di Apollo, Guns N" Roses menyisipkan cover lain dalam encore, single The Who rilisan 1970, "The Seeker." Mereka memainkan lagu itu seperti sebuah perkelahian yang tak dapat dihindari. Akant tetapi, setelah keluarnya berita tentang Bennington, saya terus merinding setiap kali Rose menyanyikan potongan terakhir di bagian chorus: "I won't get to get what I'm after/Til the day I die." Kembali ke Mei, setelah tragedi bunuh dirinya Chris Cornell, Bennington kemudian mengunggah sebuah catatan di media sosial, "Saya tak bisa membayangkan dunia tanpamu di dalamnya," tulisnya. "Saya berdoa agar Anda menemukan kedamaian di dunia selanjutnya."

Sekarang giliran para pencari (The Seeker) lainnya. (aby/wnz)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017
  4. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Add a Comment