Dunkirk

Oleh
Salah satu adegan di film 'Dunkirk'. Warner Bros. Picture

Berada dalam perang di waktu yang terasa nyata

Ini adalah eranya hiburan intens. Tengok saja film-film blockbuster yang merajai bioskop: entah itu film pahlawan super atau film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, semuanya berisik dan meminta perhatian lebih pada penontonnya. Dunkirk adalah salah satu yang mengikuti jejaknya dengan pembeda sentuhan puitis ala Nolan dan teknik tinggi.

Murninya Dunkirk adalah sebuah pengalaman sinema yang membawa penontonnya tepat ke jantung perang, di tengah orang-orang yang menanti takdir ketika terperangkap di sebuah pantai. Untuk membawanya terasa nyata kekuatan teknis menjadi kunci utama. Scoring, penyuntingan, dan sinematografi dimaksimalkan untuk menjelaskan bagaimana ketidakpastian adalah musuh utama di kala perang.

Scoring Hanz Zimmer memerangkap penonton di kursinya. Ketika adegan seru, bombardirnya memompa adrenalin. Ketika tenang ia menyayat bagai penjagal mengasah pisaunya bersiap memberikan vonis pada targetnya. Meskipun memenuhi tujuannya untuk mendorong alam bawah sadar menuju jurang, sesungguhnya saya penasaran untuk melihat apakah semua adegan tetap terasa penting jika scoring dipreteli hingga tiada.

Penyuntingan Lee Smith adalah bagian teknis yang paling menarik untuk dibahas. Christopher Nolan yang menulis film ini hanya dalam 76 lembar skenario dengan pengisahan non-linear memilih suntingan sebagai prajurit terdepannya. Penyuntingan yang tumpang tindih berpindah dari kurun waktu satu ke lainnya dapat membingungkan, namun jika Anda mau berkonsentrasi di setiap adegan maka bisa segera sadar kalau ini adalah strategi Nolan untuk memainkan emosi. Lihat saja bagaimana Anda dipaksa datang berulang kali ke satu kejadian yang sama, tapi dengan mata yang berbeda. Karena sudah mengetahui apa yang akan terjadi, ketika kejadian tersebut datang lagi Anda dibawa ke level pemahaman yang lain. Pilihannya dua: lebih menyeramkan atau justru lebih waspada.

Di saat film beristirahat (dan ini jarang), Hoyte Von Hoytema mengarahkan kamera dengan puitis untuk menangkap suasana klaustrofobik perang. Kamera 70 MM menghadirkan pinggir pantai selayaknya ladang pembantaian, laut luas yang bisu sebagai kuburan, angkasa biru menjadi arena pertempuran. Ketika kamera 65 MM berfokus pada karakternya, wajah-wajah sunyi diperlihatkan seperti calon mayat yang tinggal menunggu malaikat maut.

Jangan berharap kedalaman emosi dari film ini, karena bukan itulah inti dari filmnya. Kosong? Tergantung bagaimana Anda melihatnya. Meskipun tak banyak adu urat antara aktornya, film ini memainkan emosi dengan kadar yang berbeda. Anda tetap dibawa peduli pada karakternya karena mereka terlihat nyata: punya waktu sedikit dan diintai maut yang tak henti dan tak bisa ditebak dari mana.

Jika harus menggampangkan, film ini sebenarnya dapat diibaratkan seperti sandbox besar tempat Nolan memuaskan diri bermain-main. Jika Anda pernah bermain perang-perangan maka Anda sadar bahwa aksilah yang penting. Nolan memilih mengenyahkan semua hal-hal yang dirasa bisa mengganggu konsentrasi: kehadiran musuh yang jarang, politik pemerintah yang hanya sesekali dan itu pun lewat telepon, atau fakta-fakta perang yang lebih detail. Bagi para ahli sejarah, pilihan ini terasa salah. Tapi jika melihat tujuannya sebagai rollercoaster–dan tak lebih dari itu–film ini dapat membawa perasaan teraduk, muntah, dan membuat Anda menginginkannya lagi.

Editor's Pick

Add a Comment