Live Review: Volcom: Road to Cakrawala Jakarta

Oleh
Sebuah penayangan film dokumenter perdana berjudul Raba Cakrawala dipadati pengunjung di Skatepark Ruang Terpadu Ramah Anak (RPTRA), Kalijodo, Jakarta Utara Sabtu, 8 Juli 2017. Bani Hakiki

“Kita dapat dukungan, otomatis pemerintah juga udah melihat kesempatan anak skateboard tuh ada. Mungkin aka nada Sanggoe lain berikutnya,” tegas Ricky Volcom.

Salah satu merek perlengkapan skateboard ternama Volcom Indonesia baru saja meluncurkan penayangan perdana film Raba Cakrawala karya Hasbi Sipahutar pada Sabtu (8/7) lalu. Penayangan tersebut berlangsung di sebuah Skate Park yang berletak di Ruang Terpadu Ramah Anak (RPTRA), Kalijodo, Jakarta Utara.

Acara tersebut terbungkus dalam satu rangkaian bertajuk Volcom: Road to Cakrawala. Selain agenda utama penayangan film, terdapat beberapa rangkaian acara lain, yaitu penampilan musik yang dibintangi Billfold, Saint Loco, Gugun Blues Shelter, dan So What. Tapi sebelum para band yang tampil melancangkan tabuhan drum dan distorsi, seluruh pengunjung yang hadir diajak secara acak untuk ikut meramaikan acara dengan mengikuti beberapa perlombaan kecil best trick permainan skateboard.

Dimulai sejak pukul empat sore, antusiasme pengunjung terlihat tidak kalah dengan teriknya matahari yang tanpa segan menyoroti lokasi tersebut. Setiap peserta mulai berunjuk kebolehannya, hanya satu orang dengan gaya terbaik yang diangkat sebagai pemenang dari masing-masing lomba. Sengitnya adu trick berjalan dengan sportif dan lancar tanpa ada peserta yang cedera meski beberapa harus jatuh bangun demi jadi yang terbaik.

Setelah perlombaan selesai beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang, pun masing-masing pemenang lomba mendapatkan hadiah yang dipersembahkan oleh pengusung acara ini. "Saya asli dari Lampung, udah sekitar enam tahun main skate, senang bisa menang," ujar Fiqi Rizki salah satu pemenang best trick.

Sekitar pukul tujuh malam, acara kembali dimulai dan pengunjung yang sebelumnya beristirahat kembali berkerumun di sekitar panggung yang berada tepat di samping Skate Park. Kali ini, pengunjung langsung disambut oleh penampilan band pertama yang ditunggangi DJ Tius dari Saint Loco di bagian drum, So What dengan ketukan musik rock kontemporernya. Para pengunjung ikut serta terhentak dan mulai berdansa ala rock mengikuti irama permainan musik yang bersemangat.

Namun, sorak sorai penonton sempat dihentikan sesaat karena terjadi pertikaian kecil yang terjadi di antara penonton pada sela lagu ketiga. Anindimas (vocal) pun ikut mengajak para penonton untuk lebih tenang dari atas panggung.

Setelah pertikaian berhasil diredam oleh petugas keamanan, So What kembali melancangkan permainannya hingga lagu terakhir. Para personel pun turun dari panggung dan seluruh pengunjung langsung diarahkan menuju layar yang berada di kanan hadapan panggung untuk menyaksikan penayangan film Raba Cakrawala.

Sebuah film persembahan Volcom Indonesia yang dikemas dengan gaya dokumenter ini menceritakan dan menggambarkan perjalanan duo atlet skateboard Indonesia yang memanjakan kaki di Negeri Paman Sam. Raba Cakrawala dibintangi oleh Mario Palandeng dan Sanggoe Dharma Tanjung.

"Dua-duanya rider¬-nya Volcom, Mario sama Sanggoe mulai dari umum 9-10 tahunan," tutur Koordinator Brand Marketing Volcom Ricky Kosasih. "Kali ini, kita (Volcom) memilih Kalijodo karena jelas ini pusat kota, satu-satunya tempat skateboard yang didukung pemerintah, dan kami lihat ini adalah kesempatan. Kita dapat dukungan, otomatis pemerintah juga udah melihat kesempatan anak skateboard tuh ada. Mungkin akan ada Sanggoe lain berikutnya," tambahnya.

Duo skateboarders ini merupakan atlet asal Indonesia pertama yang diundang dalam gelaran Street League Skateboarding (SLS) di Amerika Serikat. Mario dan Sanggoe masuk dalam kelas amatir gelaran kompetisi bergengsi Damn Am 2016 di Costa Mesa, Los Angeles, Amerika Serikat dan menghabiskan sisa perjalanannya di skatecamp ternama Woodward Pennsylvania.

Raba Cakrawala akan melakukan tur penayangan di tiga kota selanjunya di Indonesia, yaitu Padang, Yogyakarta, dan Bali.
Setelah menyambut dengan meriah dan selesai menonton film bersama, mereka kembali berpaling ke arah panggung musik dan bersiap memanjakan mata dan telinga bersama Gugun Blues Shelter.

Penonton kembali padat seperti pada penampilan band sebelumnya, namun kali ini mereka disuguhi alunan blues yang lebih santai. Para penikmati musik ini seakan terhipnotis oleh permainan sang pentolan Gugun dengan keciamikannya mengolah setiap senar yang ia petik di atas panggung. Hamparan distorsi lembut Gugun Blues Shelter membuat para penonton terlihat sumringah dan menikmatinya.

Namun, Gugun dan kawan-kawan seakan tidak ingin kalah dalam memanaskan suasana. Penonton diajak berjingkak di atas lantai dansa seketika Gugun Blues Shelter membawa lagu berjudul "Mobil Butut" dan "Soul On Fire".

Tanpa menunggu tensi turun pada malam itu, Saint Loco dengan sigap menggantikan Gugun dan kawan-kawan di atas panggung dan DJ Tius langsung menyambar telinga penonton dengan kegesitannya dalam memainkan turntable.

Joe seketika memberikan sinyal kepada penonton untuk membuat area moshpit semakin liar dan membentuk wall of death seketika tabuhan drum mulai bergemuruh bersama hantaman distorsi gitar. Tapi lagi-lagi permainan Saint Loco sempat dihentikan sesaat setelah lagu ke dua karena adanya kerusuhan di moshpit. Kelompok musik metal rap tersebut lanjut dengan lagu yang lebih santai "Fallin"" untuk sedikit mendinginkan suasana. Begitu juga dengan "Kedamaian" yang mengajak penonton ikut bernyanyi bersama.

Sebagai penutup di ujung penampilannya, Saint Loco membawakan lagu hits andalannya, "Terapi Energi" yang membuat atmosfer gelaran tersebut kembali memanas. Band yang mengaku siap meluncurkan albumnya tahun depan ini memuji keberlangsungan acara tersebut. "Gua tinggal di Jakarta dan gua tahu tempat ini seperti apa, gua amazed. Acara ini konsep yang ditawarkannya berbeda," ujar sang bassist Gilbert.

Setelah penampilan Saint Loco, Mario Palandeng dan Sanggoe Dharma naik ke atas panggung untuk membagikan beberapa merchandise Volcom dan papan skate dari Motion.

Pengujung acara di tutup oleh penampilan band hardcore asal Bandung, Billfold. Band yang paling ditunggu oleh para pengunjung ketika itu tampil dengan sangat lepas. Gania (vokalis) seringkali mengajak penggemarnya bernyanyi, bahkan beberapa kali ia hingga rela kehilangan mic-nya terbawa para penggemar yang saling berebut.

Pada penampilan Billfold pun terjadi beberapa pertikaian antarpenonton namun tidak begitu berarti. Namun, saking banyaknya penggemar hadir dan pagar pembatas yang sangat dekat dengan panggung membuat petugas keamanan agak kuwalahan menjaga luapan emosi para pedansa moshpit.

Hentakan musik hardcore punk yang dibumbui beberapa ketukan beatdown ala Billfold membuat dua hingga 3 pusaran di tengah kerumunan penonton. Pun lengkingan vocal khas Gania berhasil memabukkan gairah penonton.

Uniknya, Gania dan kawan-kawan membolehkan para penonton yang berusaha naik ke atas panggung untuk melakukan crowd surfing meskipun kontras dengan keinginan para petugas keamanan. Billfold tampil dengan totalitas tinggi dan begitu dekat dengan penggemarnya. Hal tersebut disampaikan secara langsung oleh sang vokalis kepada para penggemarnya ketika kelompok musik tersebut membawakan "Sama".

Pada kesempatan itu, Billfold membawakan sederet lagu hitsnya lainnya seperti "Sebenarnya Fana", "Bisa" dan sukses menjadi band pemungkas yang ganas.

Editor's Pick

Add a Comment