Hammersonic Festival 2017

Oleh
Megadeth yang menjadi penampil pemungkas di gelaran Hammersonic Festival 2017. Indra Suhyar

Hari raya jamaah musik cadas yang semakin jahanam di tahun keenam

Tiga lelaki itu duduk di deret yang sama, keringat terlihat jelas membasahi wajah mereka. Di tengah perjalanan menuju kawasan Ancol tersebut, perbincangan seputar musik cadas dan grup pujaan mengalir deras tanpa halangan. Sejatinya, 7 Mei itu adalah pertemuan tatap muka perdana tiga pemuda asal Karawang ini, namun kecanggungan tak lagi menjadi sekat. Tujuan, kegemaran, serta perjuangan menunggu angkutan yang memboyong mereka ke wilayah Jakarta Utara sudah berhasil mencairkan kekakuan. Lima jam memang bukan waktu yang sebentar, apalagi tempat menunggu ketiganya jauh dari kata nyaman; sisi tol Jakarta – Cikampek, lengkap dengan debu dan hawa gersang yang aduhai.

"Saya kepingin nonton Earth Crisis," ujar Rian, satu dari tiga orang tersebut, yang bergabung dalam mobil tambahan dari salah satu kloter asal Bandung. Pada rombongan yang sama satu unit bus yang telah terisi penuh sudah lebih dulu melaju beberapa menit sebelumnya.

Perlu diakui bahwa sejak 2012, satu hari raya telah bertambah di kalender musik Indonesia. Mereka yang tanggung terjerat dalam ajaran musik keras mungkin menganggapnya sebagai salah satu yaum (hari) paling besar. Layaknya tanggal penting yang ada dalam tiap aliran, segelintir upaya tak biasa terkadang perlu dilakukan untuk dapat turut merasakan euforia. Maka anggap saja menunggu kendaraan nyaris seperempat hari hanyalah satu di antara sekian usaha. Jodi, salah satu lainnya dari tiga pemuda tersebut bahkan nekat mewanti-wanti atasannya agar tak absen dari hari raya bernama Hammersonic Festival ini. "Saya bilang ke bos saya, 'Aduh hampura (maaf) bos, kalo bisa jadwal (kerja) jangan ganti,'" ujarnya. Ia mengaku pekerjaannya di pabrik memiliki jadwal yang tentatif sehingga Minggu tak selalu bermakna hari santai baginya. Syukurnya ia sedang beruntung 7 Mei itu.

Fakta bahwa pengabdian diperlukan untuk bisa mengikuti hari raya musik cadas itu memang nyata. Selain dari komplotan asal Karawang itu, waktu, materi, hingga kenyataan bahwa festival berakhir pada Senin dini hari (karena tak semua orang bisa berleha-leha di hari Senin, bukan?) rela dilabrak ribuan individu lain demi menjadi salah satu di antara kerumunan. Toh, bagaimana pun, waktu akan kembali ada dan materi masih bisa dicari. Senin pun akan selalu datang di setiap pekan, sedangkan Hammersonic hanya terdapat satu kali di tiap tahunnya. Mempertaruhkan satu Senin rasanya bukan persoalan besar.

Di media sosial, istilah yang digunakan warganet untuk menjadi sinonim Hammersonic festival muncul bermacam-macam: "ibadah haji", "hari raya metal", "tanah suci" atau berbagai istilah lainnya. Apapun itu, pemaknaan Andyan Gorust akan hajatan ini rasanya cukup adil dan alasannya bisa diterima: "Hammersonic itu adalah festival impian untuk para metalhead. Sebelum ada festival ini, kami sedikit kesulitan untuk menyaksikan band-band idola dari luar negeri," ujar penggebuk drum unit death metal Hellcrust dalam sesi konferensi pers jauh hari sebelum gelaran ini dimulai.

Di gelarannya yang keenam, "festival impian" ini menggunakan Ecopark Ancol sebagai lokasi perayaan. Tempat yang sama juga digunakan untuk hajatan pada 2013 dan 2016. Kenyataan itu akan membuat tata lokasi yang salah dengan mudah dihindari. Tinggal memperbaiki atau mencontek dari gelaran yang sudah-sudah, niscaya perancangan yang keliru tidak akan terjadi. Opsi mengulang nampaknya dipilih karena ketika memasuki area festival tak ada perubahan berarti dari susunan tempat di tahun sebelumnya. Satu panggung dalam ruangan di Econvention (Soul of Steel Krisna Sadrach Stage), serta dua lain yang lebih besar di area terbuka Ocean Ecopark (Hammer Stage dan Sonic Stage). Sedikit perbedaan yang jelas terlihat hanyalah hilangnya panggung mikro Extreme Moshpit di edisi kali ini.

Gelanggang di Econvention diberi titel Soul of Steel Krisna Sadrach Stage pada tahun ini untuk menghormati mendiang Krisna J. Sadrach, sosok penting di kancah musik cadas nasional bersama bandnya Sucker Head sekaligus salah satu penggagas Hammersonic Festival, telah berpulang Agustus tahun lalu. Di arena ini, karena sesuatu dan lain hal, acara berjalan terlambat sekitar satu jam lamanya. Unit black metal atmospheric Vallendusk masih menggeber lagu terakhir ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Di jadwal yang sudah tercantum sebelumnya, kuartet underrated asal Jakarta yang namanya harum di jagat maya internasional ini seharusnya sudah selesai sejak pukul dua siang.

Di waktu yang bersamaan, salah satu altar utama, Hammer Stage, sedang dihuni Burgerkill yang membuka aksi dengan "Darah Hitam Kebencian", dilanjutkan dengan beberapa lagu andalan seperti "Penjara Batin", "Atur Aku" serta interpretasi ulang "Air Mata Api" milik Iwan Fals. Menjadikan repertoar dari kuintet yang sedang merampungkan album kelimanya ini tak jauh berlainan dengan panggung lain mereka, termasuk di hajatan Hammersonic 2016 lalu. Namun jika menilik orang yang berada di balik set drum pada aksi kelima Burgerkill sepanjang penyelenggaraan Hammersonic ini, penampakan yang berbeda tentu akan terlihat.

"Senang sekali kami udah jadi homeband-nya Hammersonic. Cuma alfa satu event ya, jadi selama Hammersonic kami selalu manggung (dan) cuma alfa-nya satu event. Jadi senang sekali Hammersonic udah jadi bagian kami," canda Vicky dari atas panggung.

Tapi mau bagaimana lagi, Burgerkill memang menjadi salah satu entitas yang berdiri di garda depan kancah musik metal tanah air. Walaupun jamaknya penampilan mereka di Hammersonic membuat pertunjukan sore itu tak terlampau langka, Burgerkill tetap lah Burgerkill; Tampil secara bengis dan berapi-api, disokong dengan sistem suara yang empuk di telinga.

Aksi dari Ebenz Burgerkill di ajang Hammersonic 2017 (Foto: Indra Suhyar)

Selanjutnya, gilliran unit metalcore asal Australia, Northlane yang memaksimalkan 30 menit dengan memainkan tujuh lagu. Membuka dengan "Paragon" dan ditutup dengan "Obelisk", memberi sentuhan musik keras yang lebih manis dari penampil sebelumnya, tak lupa ditambahi bumbu berupa breakdown di beberapa tempat untuk mereka yang sudah berdiri di depan Sonic Stage.

Waktu menunjukan pukul empat sore dan cuaca yang menyelimuti begitu cerahnya. Sangat-sangat benderang sehingga rasa air mineral dingin jadi terasa sangat mewah dibuatnya. Di Hammer Stage band I See Stars yang menahbiskan diri sebagai grup electronic hardcore music (EHM) sedang mendapatkan 30 menitnya. Kehadirannya menggeser sebagian massa yang sebelumnya berada di sebelah kanan untuk berpindah ke panggung di sisi kiri. Kawula berisikan wajah-wajah generasi Y dan Z seolah telah terpilah untuk mengisi "lantai dansa".

Melalui musik dan penampilannya, unit ini menggabungkan sentuhan elektronika dengan hentakan cadas yang muncul sesekali, disokong dengan aksi vokalis Devin Oliver yang sesekali meminta penonton memberikan acungan meloic (salam dua jari), dan di lain kesempatan meminta hadirin mengayunkan tangan secara vertikal. Menggabungkan apa yang biasa terlihat di konser musik cadas dan gelaran pesta EDM. Sebuah aksi yang seolah menunjukan apa itu EHM.

Selesai dengan aksi yang penuh dengan sentuhan masa kini, pertunjukan kembali berlangsung dengan kilas balik ke bebunyian purba di Sonic Stage. Kali ini giliran Entombed A.D., mahkluk reinkarnasi dari pensiunan death metal asal Swedia, Entombed, yang tampil di panggung. Tak seperti aksi-aksi sebelumnya dengan jumlah penonton yang tak terlampau lenggang atau pun padat, kali ini penumpukan massa terjadi di depan Sonic Stage. Sekelompok hadirin di barisan depan tak lupa mengibarkan bendera Swedia yang merupakan negeri asal kuintet ini.

Sistem tata suara terdengar tak begitu mantap di awal pertunjukan ketika "Midas in Reverse" dipilih sebagai mukadimah. Tapi bagaimana pun speaker berbunyi, para pecandu moshing tetap akan melepas dahaga dengan apa yang dihasilkan Entombed A.D.. Tempo kencang yang dihadirkan sejak pembuka mensukseskan munculnya moshpit sejak menit awal. Jika diamati, sejak aksi dimulai lagu dari Entombed (tanpa A.D.) menguasai susunan lagu, tentu saja nomor legendaris "Wolverine Blues" dan "Left Hand Path" tak tertinggal.

Semakin lama aksi ini tambah menyenangkan karena sistem tata suara terus membaik, hal itu belum ditambah aksi Lars Göran Petrov yang tahu cara berinteraksi dan bercanda. Di usia kepala empatnya ia tetap bergerak lincah dari kiri ke kanan serta menaiki mezanin yang hanya ada di Sonic Stage, nampaknya death n" roll menjaganya tetap muda. Keriaan itu sedikit luntur ketika repertoar berada di penghujung dan satu-dua tetes mulai turun dari gumpalan abu di atas Ecopark. Namun hari itu takdir terlalu baik dan hujan tidak benar-benar terjadi.

Entombed A.D. yang sukses membuat moshpit bergerak liar. (Foto: Indra Suhyar)


Sementara panggung Hammer dan Sonic sedang menikmati waktu jeda. Arena Krisna Sadrach Stage tengah dikuasai satu-satunya personel Putrid Pile yang kala itu mengenakan kaus Jasad. Dengan gitar dan bantuan drum machine, one man project ini tetap tampil rapat, trengginas, dan menjanjikan berkat sistem tata suara yang juga terdengar sedap di ruang Econvention.

Pasca proyek satu orang tersebut, tradisi yang dimulai sejak tahun lalu menjadi kelanjutan di Krisna Sadrach Stage. Sebuah ajang penghargaan musik keras dengan tajuk Hammersonic Metal Awards yang di tahun ini hanya memberikan plakat untuk lima kategori. Kategori Soul of Steel Award (Band pendatang baru terbaik) didapatkan HURT"EM, kategori Breakthrough of the Year dimenangkan Siksakubur, kategori Best Album of the Year disematkan kepada III milik Rajasinga, kategori Best Metal Performance (Band aksi panggung terbaik) diraih Rollfast sedangkan Lifetime Achievement Award diberikan kepada Krisna J. Sadrach.

Momen penting terjadi setelah penghargaan tersebut karena dedengkot thrash metal asal Jakarta, Sucker Head, melangsungkan penampilan untuk menutup 28 tahun karier mereka. Di hari dan ajang yang sama pula mereka merilis album terbaru sekaligus terakhir dengan tajuk Simphoni Kehidupan yang direkam sebelum mendiang Krisna Sadrach berpulang.

Kaus Sepultura, jeans robek, serta bass Fender Precision milik Almarhum ikut menemani aksi grup yang di hari terakhirnya beranggotakan Nano Rooseno, Bakkar Bufthaim dan Medy Rocker ini. Untuk mewakili Krisna, tugas besar dibebankan kepada Roy Jeconiah (eks vokalis Boomerang) yang mendapat peran untuk mengisi vokal serta Daeng Oktav dari Edane yang membantu memainkan bass. Pekerjaan untuk menggantikan Krisna tak membuat mereka beku malam itu, keduanya tampil energik dan luwes di panggung bersejarah tersebut. Roy terlihat kharismatik sementara Daeng tampak eksentrik dengan bass berbentuk kapak ala Gene Simmons.

Sial sekali, aksi yang patut dikenang tersebut berdurasi tak lebih lama dari tiga lagu plus satu tayangan video. Jika suatu saat Sucker Head tak pernah benar-benar kembali ke atas panggung, perlu diingat kalau tiga lagu terakhir yang dibawakan band ini secara langsung adalah "Depresi Mania", "Simphoni Kehidupan" dan "Neraka Jahanam" milik Duo Kribo. Jangan pernah lupakan pula wasiat yang diamanatkan berkali-kali sejak entitas ini mewakili Krisna untuk menerima plakat Lifetime Achievement Award beberapa puluh menit sebelumnya: "Jadikan musik metal tuan rumah di negeri sendiri!"

Sucker Head yang hari itu dibantu oleh Roy Jeconiah dan Daeng Oktav (Foto: Indra Suhyar)

Pasca band yang melangsungkan panggung terakhirnya turun, giliran komplotan yang menjajaki panggung perdananya berunjuk gigi. Tak cukup jelas apakah di kemudian hari all star dalam kolektif bernama Hammersonic United ini akan berlanjut, yang jelas tim berisikan Daniel Mardhany (Deadsquad), Rissa (Aftercoma), Pipink (Straightout), Adam (Koil) dan Andyan Gorust (Hellcrust) ini membawakan "Paranoid" milik Black Sabbath, "Last Caress" dari The Misfits serta "Breed" kepunyaan Nirvana dengan cara yang lebih brutal dan rapat. Ebenz dari Burgerkill berperan menjadi sosok di belakang panggung karena ia berperan sebagai music director dari band cover penuh nama besar ini. Dengan kredibilitas personel plus repertoar berisi lagu legendaris yang telah banyak dikenal, tak sulit untuk terbiasa dan terbakar dengan persatuan pemusik ini. Wajar ketika hal teknis bukan lagi jadi masalah.

Masih di panggung yang sama, giliran Seringai yang tetap tak kehilangan daya tariknya tampil di hadapan publik Hammersonic. Meski jumlah panggung mereka di Jakarta banyaknya luar biasa, Arian, Ricky, Sammy dan Khemod tetap mampu menarik massa hari itu. Bertolak dari "Akselerasi Maksimum", melaju hingga "Dilarang di Bandung", nomor baru bertajuk "Persetan" pun tak luput dari tarikan.

Dalam penampilan penutup di Krisna Sadrach Stage itu, beberapa orang penonton membuat dirinya terangkat ke udara, diikuti oleh beberapa buaya, hiu dan lumba-lumba yang ikut serta. Satwa-satwa yang disebut hanya berupa balon gas, tentu saja. Namun justru di situ lah yang membuat momen itu menjadi menyenangkan. "Kalian ini anak metal, pakai baju hitam-hitam, dikasih balon senangnya luar biasa," tutur Arian penuh canda.

Seringai, serigala, dan balon udara. Kurang lebih dengan cara seperti itulah Krisna Sadrach Stage ditutup.

Komplotan Serigala Militia di panggung Seringai (Foto: Indra Suhyar)

Berpindah ke dua panggung aktif yang masih tersisa, Hammer Stage sedang menampilkan The Black Dahlia Murder yang berada di penghujung set. Trevor Strnad dan kawan-kawan tetap mampu membuat lingkaran pesta meski hari itu bukan penampilan pertama mereka di Indonesia. Rentetan drum yang cepat dan rapat ditambah gempuran riff gitar yang terdengar rumit menjadi penyebab yang wajar untuk hadirnya moshpit yang brutal. Karya terkini hingga tembang lawas semacam "What a Horrible Night to Have a Curse", "Nocturnal" hingga "Statutory Ape" tak lepas dari jangkauan.

Tak memberi ampun pada puluhan ribu tamu yang hadir malam itu, Revision Live langsung menempatkan Abbath sebagai pengisi selanjutnya, melanjutkan maraton musik cadas dengan rona yang lebih hitam. Lengkap dengan kostum tempur dan wajah yang dibalur corpse paint. Kehadirannya melanjutkan tradisi kontingen besar asal Norwegia yang selalu dihadirkan ke ajang cadas bergengsi di Asia Tenggara ini, setelah sejak dua tahun lalu secara berurutan Mayhem dan Gorgoroth mewakili negeri black metal di Semenanjung Skandinavia tersebut.

Walau saat itu lebih banyak terlihat penyimak, penonton yang berlaku brutal atau mengibarkan bendera Norwegia masih tetap dapat terlihat sepanjang band berpersonelkan dua ini merajai daratan Ecopark. Membawakan "To War!" "Winter Bane" dan "Ashes of the Damned" dari album perdana yang didapuk Rolling Stone sebagai salah satu dari 20 album metal terbaik di tahun 2016, juga beberapa lagu dari Immortal seperti "Nebular Ravens Winter" dan "One by One" yang menutup panggung pertama mereka di Jakarta.

Kostum dan corpse paint yang mengerikan tak membuat Abbath melupakan unsur humor dalam penampilannya. Sesekali ia menyapa dengan cara yang jenaka sehingga penonton tertawa. Celah dari divisi tata suara yang terdengar di beberapa lagu awal jadi terlupakan berkatnya. Sejumlah video wawancara memang kerap menampakan Abbath sebagai sosok yang humoris, bahkan seorang warganet menyebutnya sebagai Robbin Williams di ranah black metal. Ketika penampilan mereka berakhir. Selintas terbersit pikiran kalau berbagai orang dengan sosok yang menyeramkan memang memiliki perilaku yang konyol. Penampakan tak selamanya mencerminkan perangai.

Abbath Doom Occulta, sosok yang tetap tak kehilangan selera humor meski terbalut kostum panggung yang seram (Foto: Indra Suhyar)

Ketika berada di area sekitar panggung hingga FOH, semakin malam wilayah ini semakin sulit untuk digunakan berlalu lalang. Perbedaan antara tempat tidur, kursi, dan area festival tak lagi ada. Semua hadirin menggunakan rumput Ocean Ecopark untuk menonton, berduduk-duduk, hingga tidur melepas lelah. Pergerakan harus lebih awas jika tak ingin menginjak bagian tubuh penonton lain.

Di panggung, dengan berakhirnya penampilan Abbath, otomatis hanya tinggal Tarja yang tersisa sebelum suguhan menu utama tersedia. Perwakilan dari ranah symphonic metal ini menjadi aksi paling akhir di Hammer Stage, menggabungkan suara sopran yang tinggi dengan bebunyian instrumen yang menghentak. Aksinya bak dua sisi koin karena di satu waktu Tarja yang mengenakan kostum hitam bisa terlihat anggun layaknya diva pop dunia, di kesempatan lain ia menunjukan wajah bengis sambil mengacungkan meloic, penataan cahaya yang mewah menambah kesan besarnya.

Namun sebaik apa pun tata cahaya dan suara yang dihadirkan, fakta kalau mereka yang menonton Tarja jauh lebih sedikit dari mereka yang menunggu di depan panggung Megadeth tak dapat dielakkan. Beberapa penonton yang sudah tak sabar bahkan mengumpat usil, "Udah, Udah. Waktunya udah habis,".

Ketika harus menanti sesuatu yang sangat ditunggu, waktu biasanya memang terasa lebih lama. Namun ucapan tersebut patut disayangkan karena Tarja pun tak tampil buruk malam itu. Malahan tata suara dan cahaya yang tersaji cukup memanjakan. Tak jarang ia menyapa dalam bahasa Indonesia. "Selamat malam, saya senang berada di sini," ujarnya di suatu kesempatan.

Dave Mustaine dalam lawatan ketiga ke Indonesia bersama Megadeth (Foto: Indra Suhyar)

"We are so excited to be coming back to Indonesia on May 7th," jelas Dave Mustaine dalam video teaser jelang kedatangan Megadeth untuk kali ketiga ke Indonesia. Walau bukan yang perdana, jelas penampilan dari salah satu dari empat besar thrash metal dunia ini tak bisa dilewatkan begitu saja, terlebih Hammersonic 2017 jadi panggung pertama di Indonesia selepas mereka mendapat trofi Grammy perdananya Februari lalu.

Setelah lebih dari empat bulan sejak pertama kali diumumkan pada akhir Desember tahun lalu, 7 Mei itu akhirnya tiba. Waktu di mana Dave Mustaine, David Ellefson, Kiko Loureiro dan Dirk Verbeuren tampil di hadapan publik Indonesia. Dave sendiri membawa dua harapan untuk konser di Indonesia kali ini; nomor satu berupa kehadiran Presiden Jokowi sedangkan satu yang lainnya adalah tentang tak hadirnyanya badai yang turun saat Megadeth melakukan sound check sehari sebelumnya. Permintaan ganda ini terkabul setengahnya karena walaupun langit sedang berbaik hati sepanjang Hammersonic, Joko Widodo tak bisa hadir di malam itu.

Intro "Prince of Darkness" menandai munculnya empat pria ini. Riuh penonton terjadi dan ketika layar di panggung menampilkan ledakan, "Hangar 18" membuka kunjungan ketiga Megadeth ke Indonesia. Entah berapa tangan yang terangkat, baik mengacungkan meloic atau merekam melalui gawai. Output suara yang keluar sudah padu sejak dari awal, aspek visual yang nampak tiga layar panggung menambahkan kesan kalau kasta band ini di kancah metal dunia berada pada lapisan teratas.

Selanjutnya "Wake Up Dead", "In My Darkest Hour", "The Threat Is Real", "Conquer or Die!" "Lying in State", "Sweating Bullets", hingga "Trust" mengalir begitu saja tanpa jeda interaksi yang begitu berarti. Baru sebelum "She-Wolf", Dave Mustaine sedikit berbicara mengenai lagu, suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding saat ia menyanyi.

Kombinasi antara energi jamaah yang sudah terkuras sejak siang plus barisan hadirin yang mengabdikan kehadirannya untuk merekam lewat gawai membuat reaksi di area penonton tidak begitu berarti. Aksi mengaggumkan dengan output yang rapi dari kuartet di atas panggung pun tak cukup membuat deretan penonton berapi-api.

"Are you guys okay?" Ujar Dave Mustaine selepas membawakan "À Tout le Monde". Selang beberapa detik penonton yang mengiyakan pun segera tahu kalau pertanyaan tersebut hanyalah pancingan. "Cause you're very quite," sentil mantan personel Metallica itu. "Sssst.... don't say anything, we're in a heavy metal concert," tambahnya sarkastis, membuat penonton yang tersindir semakin meringis.

"This is a song from "Rust in Peace", maybe this could wake you up," ucapnya lagi sebelum memainkan "Tornado of Souls". Ledekan plus ritme lagu yang kencang membuahkan reaksi. Penonton yang ingin menunjukkan kalau mereka baik-baik saja mulai paham cara menjadi spektator yang antusias. Kaki-kaki di area festival itu akhirnya tergerak untuk melompat kala yang satu itu berkumandang. Lagu dari album teranyar yang membuat Megadeth memenangkan piala Grammy pertama, "Dystopia", melaju setelahnya. Tak lama kemudian Ocean Ecopark mundur ke masa lalu melalui "Symphony of Destruction" sebelum akhirnya lampu panggung dimatikan.

Saat sinar sorot muncul, giliran David Ellefson maju ke depan dan memegang kendali, dengan gerakan meminta penonton melakukan tepukan tangan sambil sedikit berbasa-basi: "Are you still with us Jakarta? Let's singing" ujarnya. Bass line legendaris yang membuka "Peace Sells" pun dimainkan. Ajakan Ellefson kepada penonton cukup sukses karena di bagian chorus spektator selalu ikut bernyanyi. Jelang part solo yang cepat di akhir lagu, Vic Rattlehead ikut mengisi panggung dan membuat hiruk-pikuk semakin menjadi seru.

Setelah lagu itu, Megadeth turun dan seperti yang mudah ditebak, kembali naik ke panggung untuk sesi encore. Untuk menuntaskan panggung ketiga di Indonesia, mega hit "Holy Wars… The Punishment Due" dipilih sebagai epilog. Mendengarkan Mustaine menyenandungkan lagu itu terasa lebih menyenangkan ketika sadar bahwa sepotong lirik dari karya ini terasa sangat relevan untuk dinyanyikan di Jakarta belakangan ini: "Brother Will Kill Brother, Spilling Blood Across the Land, Killing for Religion, Something I Don"t Understand."

Setelah dipikir-pikir, seharusnya hal ini menyedihkan karena 27 tahun setelah lagu ini dirilis, isu tersebut masih bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari. Sialan memang.

Dave Mustaine dan Kiko Loureiro dari Megadeth selaku aksi pemungkas di Hammersonic 2017 (Foto: Indra Suhyar)

Dengan ditutup grup sekaliber Megadeth, perlu diakui kalau Hammersonic tetap menjaga gengsinya sebagai salah satu hajat musik cadas terbesar se-Asia Tenggara. Urusan kepuasan ataupun perbandingan dengan gelaran tahun-tahun sebelumnya, biarkan tiap-tiap kepala hadirin yang menilai. "(Saya) puas sih. Apalagi dari tadi ngobrol sama orang lain juga, line up tahun ini lebih bagus," ucap Jodi yang mengaku sudah meninggalkan venue sebelum Megadeth tampil.

Hal yang sedikit berbeda dinyatakan oleh Djunizar Ega, salah seorang petinggi jasa rock shuttle yang sejak tahun 2012 mengatur rombongan metalhead asal Kota Kembang yang akan berangkat ke Hammersonic. "Sekarang termasuk ramai juga sebenarnya kalau dibanding tahun kemarin, cuman antusiasme orang-orangnya nampak biasa," jelasnya. Dari pengamatannya, gelaran tahun 2015 adalah yang terbaik secara kuantitas maupun euforia.

Ketika melongok ke akun media sosial resmi Hammersonic, beberapa kesan berbeda pun terlihat. Berbagai kritik maupun sisa-sisa kepuasan banyak dilampiaskan melalui dunia maya. Misalnya saja dari salah satu hadirin asal luar pulau Jawa yang mengaku rela datang demi Megadeth. "Thanks Hammersonicfest buat tahun ini. Pecah…. Gue fans Megadeth, sangat-sangat puas dengan penampilan mereka dan dengan panitia Hammersonic, top dah. Kalo bukan karena pesona Megadeth dan hebohnya nama festival Hammersonic, gak akan gue jauh-jauh dari Kaltim (Kalimantan Timur) datang ke Jakarta. Sukses terus untuk Hammersonic di tahun-tahun yang akan datang," ujar Imam Hidayat melalui kolom komentar di akun Instagram resmi Hammersonic.

"Awesome show - it was my second time flying in from Manila, Philippines to experience Hammersonic! Abbath, Megadeth, Tarja, Entombed A.D., Krisiun, Nervochaos, Desecravity and Killharmonic were the highlights for me," ujar Christian Joseph Yulo Deles, salah seorang penonton Hammersonic 2017 asal Manila, Filipina.

Agak heran juga melihat pengabdian orang lain yang rela terbang jauh ke Jakarta demi sebuah euforia. Namun jika menilik beragam hal mulai dari hadirnya penonton paruh baya hingga generasi Z. Dari pengisi yang baru mencicipi panggung perdana hingga mereka yang sudah kelima. Dari penampil asal Eropa Utara hingga Palangkaraya. Dari yang hendak membuka jalan sampai yang menutup karir. Dari yang belum memiliki album hingga yang pernah mendapat penghargaan Grammy. Juga dari nama manis semisal I See Stars hingga yang busuk semacam Putrid Pile. Beragam perbedaan yang berhasil dirangkum dalam satu hari tersebut menjadikan hajat ini begitu sakral.

Setelah dipikir-pikir lagi, terbang jauh untuk merayakan 'hari raya' ini jadi terlihat wajar-wajar saja.

[Diperbarui! Kamis, 25 Mei 2017, 11:19 WIB] Ralat! Sebelumnya pada paragraf ketujuh tertulis: Di arena ini, terlambatnya keberlangsungan acara terjadi karena unit black metal atmospheric Vallendusk masih menggeber lagu terakhir ketika waktu sudah melebihi pukul 3 sore. Di jadwal yang sudah tercantum sebelumnya, kuartet underrated asal Jakarta yang namanya harum di jagat maya internasional ini seharusnya sudah selesai sejak pukul dua siang.

Berikut respons dari pihak band Vallendusk yang disampaikan kepada redaksi: "Kami selaku pihak yang disebutkan di atas oleh penulis merasa keberatan atas tulisan yang secara eksplisit menuduh secara sepihak bahwa kami adalah penyebab keterlambatan rundown acara. Hal tersebut sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Keterlambatan rundown pada Krisna Sadrach Stage sudah terjadi sebelum Vallendusk naik ke atas panggung, sehingga kami pun on stage mengikuti arahan dari LO serta waktu yang ditentukan oleh panitia. Kami pun mengerti kondisi yang terjadi sehingga kami hanya membawakan dua lagu yang jika dihitung dari loading alat ke stage sampai kami selesai, tidak lebih dari 30 menit."

Semoga ralat yang telah dilakukan dan klarifikasi pihak band telah menuntaskan kekeliruan yang ditulis oleh penulis sebelumnya. Atas nama redaksi RollingStone.coid kami menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan dan ketidaknyamanan terkait resensi pertujukan ini kepada pihak band Vallendusk. Terima kasih.

Editor's Pick

Add a Comment