Live Review: Sisir Tanah - Peluncuran Album ‘Woh’

Oleh
Sisir Tanah. Aditya Adam

Sebuah konser musik puitis dan humanis

Apa lagi yang masih bisa dikejar di gelombang musik folk tanah air tatkala Semakbelukar sudah sukses meremajakan musik Melayu, Silampukau menunjukan olah diksi sekelas pandai sastra, dan Payung Teduh telah membawanya ke pesta-pesta kawinan?

Dalam laju kembang yang seakan sudah mencapai segala rupanya, Bagus Dwi Danto di balik nama panggung Sisir Tanah malah baru mulai menyapa pasar musik dengan merilis album perdana. Hebatnya, ia tidak terlihat terlambat.

Sisir Tanah sejatinya telah malang melintang, setidaknya sedari tujuh tahun lalu dari gebyar panggung seni, acara kampus sederhana, ataupun pengiring kegiatan-kegiatan aktivisme yang rentan dilabrak pihak-pihak represif juga taipan-taipan tanah. Seperti lirik di "Lagu Pejalan": "Kita berjalan saja masih terus berjalan. Meski pun kita tak tahu berapa jauh jalan ini nanti". Sisir Tanah hanya mencoba mengalir anteng dalam kiprah musikalnya. Anda tidak bisa berharap banyak bahwa ia akan melakukan langkah karier selazimnya yang diambil musikus di zaman ini. Keterlambatannya membuat akun Instagram—usai tujuh tahun tanpa media sosial—misalnya, jelas bukan karena sosoknya tidak laku. Padatnya penonton di IFI LIP malam itu ialah bukti kecil bahwa perilisan albumnya merupakan sebuah penantian yang lama terpendam, acap terluap dengan ekspresi kata "Akhirnya!".

Yogyakarta menjadi kota pamungkas, tempat meletakkan letih yang terakhir dalam rangkaian tur album Woh. Nuansa kepulangan ke kampung halaman hanya salah satu bagian emosional di konser malam itu. Sebelumnya, Fajar Merah sudah lebih dulu mengundang afeksi penonton lewat gubahan melodius dari puisi-puisi Wiji Thukul, terutama "Bunga dan Tembok" yang membuat adegan terakhir salah satu film lokal terbaik di tahun ini, Istirahatlah Kata-Kata kian meletup-letup. Fajar Merah memang kerap berkolaborasi atau tampil di acara yang sama dengan Sisir Tanah, sehingga dinamika emosi yang terbangun olehnya sudah sangat familier.

Beda lagi dengan Ananda Badudu yang malam itu mengalami demam panggung. Cukup jelas dari baris depan penonton untuk melihat tangan kirinya gemetaran ketika membentuk formasi kunci gitar. Ia sampai meminta waktu untuk melakukan senam jari yang sepertinya tak terlalu membantu. Namun, karena agaknya penonton dari awal tidak mengharapkan kesempurnaan teknis, kekikukannya ini tanpa sengaja justru menjadi hiburan tersendiri. Ini pertanda bahwa mungkin masih butuh penantian lebih bagi penggemar Banda Neira untuk kesiapan karya-karya baru Ananda Badudu.

Tanpa asap panggung yang menyembur lebat, atraksi visual, aksi teatrikal, atau gimmick apapun, Bagus Dwi Danto muncul menenteng gitar dengan rambut tergerai. "Lagu Baik" dimainkan seorang diri. Tak ada yang menarik dari kocokan gitarnya, melainkan apa yang terucap dari bibirnya: "Seumpama sedih, hidup memang tugas manusia / Dan jangan ada: benar tak akan pernah ada tempat yang sungguh merdeka." Ruang napas seakan menyempit ketika mendengar ia melagukan chorus: "Panjang umur keberanian mati kau ketidakadilan dan penindasan." Barang hanya sekian detik, Sisir Tanah sepertinya mampu membuat pendengarnya malu menyimpan ketakutan untuk melakukan perubahan.

Malam itu Bagus Dwi Danto mengenakan flanel hijau menyerupai ilustrasi karikatur Sisir Tanah yang ditampilkan di poster-posternya: sosok bergitar berdiri tegap dengan dedaunan yang menjulur keluar dari lehernya yang tanpa kepala. Kurang lebih begitulah imaji yang keluar dari sosok Danto dalam performanya, kokoh memancang bermasa-masa menjadi saksi ketidakadilan dan penindasan. Set sederhana garapan Risky Sasono berupa bohlam-bohlam yang tergantung laksana serpihan cahaya di antara balutan kegelapan. Selaras dengan lirik-lirik Sisir Tanah, kita diharapkan untuk terus menanam harapan, meski di tanah gersang.

Usai masih seorang diri membawakan "Lagu Romantis", repertoar berikutnya dibawakan dalam format band, termasuk "Jika Mungkin", "Lagu Hidup", "Lagu Lelah" sampai "Lagu Bahagia" dengan aransemen paling riang dan optimis yang dirilis sebagai single pertama. Di sela-selanya, Danto bercerita ihwal lawatan panjangnya menelusuri 17 kota rangkaian tur, termasuk perihal gitar pinjaman dari Endah N Resha yang digunakannya malam itu.

Pengalaman estetis paling intens di malam itu disuguhkan lewat "Konservasi Konflik", nomor berdurasi belasan menit yang menghadirkan atmosfir magis dari alat musik India berupa sitar dan tanpura. Mengingat lagu ini dulunya hampir selalu dibawakan dengan kocokan gitar kopong saja, boleh dibilang aransemen ini adalah jelajah musikal terjauh di seantero lagu-lagu Sisir Tanah. Memekatkan unsur khayali dalam lirik berupa kolase kata di lagu tersebut yang silang sengketa, tubruk menubruk, melantur-lantur, tapi bernas bukan main. Larik "Tuan dan nyonya belajar logika sudah sampai mana?" selalu menjadi klimaks sekalian pintu keluar pendengar karena Sisir Tanah menawarkan keberpihakan dalam keabsurdannya.

Selain mempertemukan kembali musik folk dan musik protes akar rumput, Sisir Tanah juga menawarkan gaya lirik yang puitis namun bersahaja. Jika folk adalah tentang sesuatu yang transparan, apa adanya, steril dari pengemasan berlebih, maka Sisir Tanah adalah contoh idealnya. Itulah kenapa mendengar Sisir Tanah tidak seperti mendengar musikus berorasi, meski tujuannya bisa bersinggungan. Rapalan lirik-liriknya terdengar meluncur bebas dari pikiran dan pengalaman, begitu juga musiknya, bukan dari kebutuhan podium yang didesain sedemikian rupa.

Sayangnya, ini yang kemudian tereduksi oleh konsep penampilan yang lebih "terkemas" dibanding sebelumnya di penampilan malam itu. Format band sebagai pilihannya di sebagian materi album Woh masih bisa ditoleransi dalam tingkat tertentu, namun ternyata lebih mengganggu ketika dinikmati secara visual. Momen-momen sepi yang kontemplatif untuk dinikmati dengan kebulatan hati di antara bebunyian gitar yang lamat-lamat itu sulit ditemukan. Format solo di dua lagu pertama naga-naganya masih merupakan tatanan terbaik bagi Sisir Tanah untuk menyampaikan renungan-renungan khidmatnya.

Setidaknya, kembali ke format solo adalah bagaimana konser ini ditutup. Sesuai tajuknya, "Lagu Wajib" dituntut untuk dibawakan dan menghasilkan sing along. Penutupnya adalah "Lagu Istri" yang tidak termuat dalam album, melainkan memang sengaja diciptakan untuk istri Danto yang hadir malam itu. "Lagu untuk istriku dan semua istri di dunia," tukasnya.
Ada persembahan untuk istri, penampil lain yang grogi, dan banyak lagu yang mengingatkan bahwa tanah adalah kebutuhan dasar manusia yang wajib mati-matian dipertahankan. Konser malam itu adalah sebuah pentas yang merayakan kenyataan bahwa meski hampir seluruh jengkal waktu adalah tentang industri dan kapital, ternyata masih ada sejenak bagi kita untuk menjadi manusia seutuhnya.

Editor's Pick

Add a Comment