Soundwaves: David Foster dan 'Kelas Menengah' di Yogyakarta

"Strategi bersinergi dengan musik sesungguhnya menjadi cara paling simpel untuk mendatangkan investor"

Oleh
Anas Syahrul Alimi. Dok. Anas Syahrul Alimi

Idealnya, musik bisa menjadi alat pemersatu. Melalui musik, resonansi sebuah identitas kelompok bisa dihadirkan. Identitas para penikmat musik itu biasanya selalu berkaitan dengan corak atau aliran musik yang menjadi pilihannya. Ketika publik Yogyakarta mengharu biru menyambut sebuah tontonan musik jazz maka di situ sudah mulai terlihat bahwa proses pembauran atau asimilasi dengan budaya lokal sedang bergerak menuju sebuah titik baru.

Fenomena menuju titik baru itu sesungguhnya sudah mulai tampak dalam beberapa tahun belakangan di Yogyakarta. Musik jazz yang sebenarnya bukan akar budaya Jawa ternyata mampu menyedot perhatian kaum urban di Kota Gudeg ini. Setidaknya itu terlihat dari dua kali penyelenggaraan Prambanan Jazz di Yogyakarta yang digelar setiap Agustus. Festival ini telah memperlihatkan bahwa musik jazz tak hanya menjadi kebanggaan identitas kelompok yang ada di Jakarta. Tapi musik jazz yang 'dijual' pada Prambanan Jazz Festival ini telah memberikan sebuah potret bahwa pergeseran identitas mulai berjalan di level lokal.

Pergeseran itu semakin jelas terlihat ketika belum lama ini Yogyakarta menyuguhkan sebuah konser yang menampilkan musisi dunia. Penampilan David Foster di Yogyakarta telah memperlihatkan eksistensi kelompok identitas dengan setelan jas hingga gaun panjang yang disirami beragam aroma parfum mahal. Pergerakan kelompok identitas ini juga melaju secara agresif. Sebagai promotor musik yang mendatangkan David Foster, saya mendapatkan berkah dengan ludesnya tiket satu bulan menjelang konser. Tiket pertunjukan berbanderol mulai dari 350 ribu hingga Rp 7,5 juta rupiah itu telah menegaskan lahirnya identitas penikmat musik baru di Yogyakarta.

Dengan apresiasi yang baik itu, setidaknya hal ini menjadi sebuah peluang besar bagi pengelola otoritas lokal. Andai pengelolaan konser yang menampilkan musisi mancanegara itu berlangsung secara terjadwal dan terorganisasi secara baik, bukankah hal itu menjadi peluang untuk mempercepat laju pertumbuhan perekonomian lokal?

Asumsi tersebut sesungguhnya tidak mengada-ada. Hadirnya konser atau festival musik bertaraf internasional itu tentunya akan memberikan pemasukan devisa bagi pemerintah daerah. Dari mana devisa itu berasal? Dari hasil pengamatan selama ini, konser-konser yang menampilkan musisi mancanegara berkualitas tentunya akan bisa mengundang para wisatawan domestik maupun mancanegara. Dari sanalah celah dana-dana itu bisa mengucur ke daerah. Mulai dari tempat penginapan, kuliner, penjualan merchandise lokal, hingga kunjungan ke sejumlah tempat destinasi wisata.

Hal penting lainnya adalah penyelenggaraan konser musisi berkualitas dari pentas mancanegara menjadi cara untuk melakukan branding daerah ke pentas nasional maupun dunia. Bayangkan ketika David Foster, Kenny G, Rick Price, Boyz II Men, Sarah Brightman, dan beberapa musisi asing lainnya mengabarkan bahwa Yogyakarta adalah tempat yang indah dan aman, bukankah itu sebuah bentuk promosi positif bagi pemerintah daerah?

Inilah peluang yang sepatutnya dikelola secara baik oleh pemegang otoritas di daerah. Strategi bersinergi dengan musik sesungguhnya menjadi cara paling simpel untuk mendatangkan investor maupun peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah. Sayangnya hingga kini peluang itu baru dilakukan secara swadaya oleh pihak-pihak swasta. Peran pemerintah justru terlihat masih sangat minim. Padahal cara paling sederhana yang bisa dilakukan pemerintah daerah adalah dengan memberikan sejumlah kemudahan kepada para penyelenggara konser di daerah itu, seperti kemudahan pemberian perizinan, biaya sewa venue, hingga pajak porporasi terhadap tiket pertunjukan.

Jadi ketika kelompok "kelas wangi" itu mulai tampak jelas eksistensinya di pentas lokal serta pemerintah daerah juga semakin sigap membaca peluang yang ada, laju perubahan sosial itu akan bisa pula bergerak semakin cepat menuju titik baru. Sebagaimana sosilog Samuel Koenig menjelaskan bahwa perubahan-perubahan sosial tercipta dari adanya modifikasi-modifikasi dalam pola-pola kehidupan manusia. Dan modifikasi itu sesungguhnya bisa pula distimulasi melalui musik.

Percepatan perubahan itu selaras pula dengan pemikiran Erich Fromm, seorang psikoanalis dari Jerman. Dalam menunjukkan eksistensinya, manusia memiliki kecenderungan untuk mengaktualisasikan kesejatian dirinya. Dalam modus ini, terjadi proses untuk "menjadi" seseorang yang beridentitas atas nama gengsi. Fenomena itulah yang kini tersaji dari Yogyakarta. Sebuah gengsi yang telah menyatukan anak negeri dari pentas lokal dalam menikmati pertunjukan musik berkualitas.

Penulis adalah promotor musik, penggagas Prambanan Jazz Festival, dan CEO Rajawali Indonesia Communication

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. 10 Film Indonesia Terbaik 2016
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  5. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"

Add a Comment