Surat Terbuka untuk Komikus Ardian Syaf

Baru-baru ini, dunia komik dihebohkan oleh penyusupan pesan-pesan anti-Ahok dalam 'X-Men: Gold #1' oleh mantan komikus Marvel Ardian Syaf. Berikut adalah surat terbuka penulis pada sang komikus yang dikenalnya

Oleh
Ardian Syaf. ardiansyaf.com

Mas Ardian Syaf,

Saya menulis ini tidak dengan benci atau dendam. Mas Ardian sempat bilang waktu itu di Facebook, walaupun sudah dihapus, bahwa Mas pun tidak ada niatan untuk menyebarluaskan kebencian, dan siapapun yang mengenal Mas pasti tahu itu.

Mungkin Mas ingat bahwa saya termasuk salah seorang yang sempat mengenal Mas. Memang saya cuma sempat mengenal Mas sebentar, dan itupun sudah lebih dari sepuluh tahun lalu. Tapi kesan yang saya dapatkan waktu itu memang amat jauh dari kata-kata benci maupun dendam. Mas A'an—sebagaimana saya dulu menyapa Mas—rela mengajar komik pada komunitas saya dan terus mendukung karier komik saya, bahkan mengajak saya main ke studio Mas sewaktu masih di Malang dulu. Mas A'an bahkan menyempatkan diri untuk mengantarkan saya, masih kuliah semester awal waktu itu, pulang dengan motor. Mas masih ingat? Mas adalah salah satu orang yang paling ramah yang saya kenal.

Saya mengatakan ini agar Mas bisa sepenuhnya percaya bahwa kritik saya terhadap Mas A'an berikut sama sekali tidak didasari benci maupun dendam. Saya punya banyak hutang budi terhadap Mas. Kritik ini justru berasal dari rasa tanggung jawab saya sebagai komikus profesional yang kariernya pernah didukung dan dibantu secara langsung oleh Mas sepuluh tahun lalu, sewaktu saya sama sekali bukan siapa-siapa.

Pertama-tama, saya akan katakan sejujurnya bahwa, terlepas dari kritik-kritik yang sering saya lontarkan pada beberapa kebijakan beliau, saya cenderung mendukung Ahok sebagai pemimpin. Semua yang pernah membaca karya saya akan tahu bahwa pandangan politik saya seratus delapan puluh derajat dengan Mas. Namun perbedaan pendapat politik itu biasa, dan saya tidak ingin kita jadi saling benci dan mengata-ngatai karena itu.

Pun akan saya ungkapkan langsung di sini bahwa tindakan menyusupkan pesan-pesan simbolis pada komik itu sama sekali bukan hal yang baru. Pembajakan media semacam itu, entah karena alasan politis atau sekadar iseng belaka, merupakan praktek yang relatif umum di dunia komik dan animasi, terlepas dari perdebatan etis yang menyertainya. Tulisan ini bukan untuk membahas hakiki tindakan tersebut. Toh sewaktu Mas menyusupkan poster Jokowi di komik Batman dulu, kami semua tersenyum simpul.

Saya sedikit kesal, tentunya, bahwa media yang dibajak adalah bagian dari waralaba X-Men. Sebagaimana sudah sering dibahas, X-Men merupakan komik yang sedari awal memperjuangkan kebhinekaan dan inklusivitas kaum minoritas, termasuk Yahudi dan Kristiani. Tapi, sejengkel-jengkelnya saya, lagi-lagi saya terpaksa mengakui bahwa praktek pembajakan media yang paling efisien dalam membuat sensasi adalah penyusupan pesan-pesan di media yang memuat ideologi berkebalikan—contoh mudahnya adalah banyaknya rumor tentang pesan-pesan seksual di kartun anak-anak buatan Disney.

Mungkin suatu kesengajaan Mas Ardian menistakan X-Men. Itu wajar. Jika Mas merasa kitab suci Mas dinistakan, maka apalah penistaan sebuah waralaba komik dibandingkan Quran? Jika Mas dipecat namun Ahok masih tetap jadi gubernur, mungkin itu justru akan jadi poin kuat yang lebih meyakinkan Mas akan ketidakadilan perlakuan masyarakat terhadap Islam, bukan? Mungkin Mas A'an justru jadi bisa lebih gencar lagi dalam perjuangan politis dengan hal ini.

Namun di sini saya akan menyanggah Mas. Mungkin Mas Ardian merasa telah memperjuangkan Islam dengan tindakan ini, tapi di sini saya hendak berargumen bahwa tindakan Mas jauh lebih menyakitkan bagi Islam ketimbang siapapun. Lebih tepatnya, tindakan Mas menyakiti komikus-komikus muda Muslim yang ingin berkarier seperti Mas.

Begini maksud saya. Mas pasti sudah tahu bahwa posisi Islam di mata dunia bukanlah sesuatu yang baik dan stabil. Citra Islam di mata dunia setiap hari dipertaruhkan oleh banyak pihak, mulai dari ISIS hingga kaum Islam progresif yang mendukung imam wanita dan homoseksualitas. Kita belum tahu siapa yang akan menang. Yang jelas, cibiran akan Islam sebagai agama yang primitif, rasis, seksis, dan sebagainya sudah sangat kental. Banyak saudara-saudara kita yang beragama Islam didiskriminasi di daerah-daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim.

Saya tekankan sekali lagi, karena inilah poin pentingnya: Orang-orang beragama Islam banyak yang menderita, diperlakukan berbeda dan penuh curiga, hanya karena mereka beragama Islam.

Maka, saat Mas bertindak sebagaimana yang Mas lakukan di komik X-Men: Gold tersebut, Mas tidak bisa berkelit bahwa Mas bertindak atas nama pribadi. Mas mungkin bukan satu-satunya komikus Muslim yang pernah bekerja di Marvel atau DC. Tapi Mas adalah salah satu komikus Muslim Indonesia yang menyandang gelar tersebut, dan salah satu yang paling terkenal. Mau tidak mau, Mas mewakili nama seluruh komikus Indonesia Muslim di mata dunia.

Inilah sebabnya kami marah, Mas. Kami terkejut bahwa orang yang mewakili kami ternyata bertindak setolol ini. Kami tidak ingin nama kami sebagai kaum muda kreatif dari Indonesia, khususnya komikus yang beragama Islam, dicap bodoh di mata dunia. Meskipun kasus-kasus lain belum ada yang muncul ke permukaan, saya yakin kasus ini banyak menyebabkan komikus dipersulit di industri komik di Amerika hanya karena dia beragama Islam dan merupakan penduduk Indonesia.

"Saya yakin kasus ini banyak menyebabkan komikus dipersulit di industri komik di Amerika hanya karena dia beragama Islam dan merupakan penduduk Indonesia."

Setelah 9/11, hampir seluruh Muslim yang naik pesawat dicurigai di Amerika. Itu sudah enam belas tahun lalu, tapi dampaknya masih ada sampai sekarang. Ini memang dinamika politik identitas. Kami kecewa bahwa Mas yang telah selama itu melanglang buana di dunia komik Amerika—yang, perlu dicatat, merupakan salah satu industri yang paling peduli dengan isu-isu ini—tidak menyadari hal sesederhana ini. Itu tindakan bebal, Mas.

Memang banyak orang, termasuk saya sendiri, memiliki ideologi yang berseberangan dengan Mas. Namun jika Mas Ardian mengira bahwa seluruh kritik terhadap Mas sekadar disebabkan oleh ketidaksetujuan akan pemikiran politik Anda, Mas salah besar. Sebagai komikus sekaliber Mas, dengan posisi yang hanya merupakan mimpi di awang-awang bagi kebanyakan komikus muda, Mas seharusnya mengerti bahwa Mas mengemban tanggung jawab mewakili kami semua dalam karier Mas di mata dunia.

Ini bukan masalah politik lagi, Mas. Ini masalah budaya global, masalah identitas, masalah stereotipe dan diskriminasi. Masalah bagaimana komikus Muslim dari Indonesia akan dipandang oleh dunia. Masalah siapa yang akan lebih dicurigai menyembunyikan teror di balik goresan pena mereka sebelum diperbolehkan naik pesawat bernama industri komik internasional.

Ini dampaknya luas, Mas. Bukan cuma Mas Ardian saja yang kehilangan reputasi dan pekerjaan. Banyak komikus lain yang juga akan terciprati tinta cap idiot yang kini melekat dengan identitas Mas A'an.

Maka dari itu juga kami kecewa bahwa penyesalan Mas seolah setengah hati, khususnya setelah menghapus beberapa status permintaan maaf di media sosial Mas. Seolah-olah Mas Ardian malah berdiri dengan bangga, mengemban konsekuensi setelah melakukan semacam jihad. Lagi-lagi, mungkin ini sekadar salah penilaian, tapi itulah yang terlihat dengan kebebalan semacam ini.

Sebetulnya apa yang ingin Mas capai? Siapa yang ingin Mas kritisi? Apa benar bahwa Mas patut melukai kesempatan karier komikus Muslim Indonesia sebegini luasnya, hanya karena terbawa suasana demonstrasi? Bengis sekali kalau iya. Namun, kecuali Mas sudah berubah drastis selama sepuluh tahun ini, saya akan berbaik sangka dan menyimpulkan bahwa ini lebih merupakan konsekuensi yang sekadar tidak terpikirkan saja saat menggoreskan pena waktu itu. Kebodohan lebih mudah diampuni daripada kebengisan, Mas, dan saya lebih suka mengampuni daripada mendendam.

Saya hanya berharap Mas Ardian Syaf sadar bahwa dampak tindakan Mas dari segi dinamika budaya jauh lebih besar dibandingkan friksi ideologi sesaat akibat gairah demo semata. Kita semua sekarang jadi perlu menegaskan ke publik luar negeri bahwa komikus Muslim Indonesia pun memiliki pandangan bermacam-macam. Tidak semuanya cukup bodoh untuk bunuh diri karier dengan menyusupkan pesan-pesan politik Islam konservatif semacam ini dalam waralaba yang mempromosikan ideologi kebhinekaan.

Politik identitas memang rumit, Mas. Tapi semoga dengan ini kita semua bisa belajar bahwa kita semua punya tanggung jawab untuk tidak menampilkan diri seperti manusia tolol, karena kita sebagai kaum minoritas di dunia akan selalu mengemban identitas bersama.

Salam hangat dari komikus yang dulu pernah Mas A'an bimbing. Omong-omong, helm motor Mas masih saya simpan.

Penulis adalah seorang esais dan penulis komik. Studionya, NaoBun Project, sebuah studio komik yang memperjuangkan pendidikan nilai-nilai progresif.

Editor's Pick

Add a Comment