Solois Folk, Deugalih, Meluncurkan Single tentang Kampung Halaman

"Di Kampungku" merupakan lagu yang bercerita kerinduan tanah kelahiran

Oleh
Deugalih. YouTube/Sorgemagz

Solois folk Deugalih meluncurkan single tentang kampung halaman, "Di Kampungku". Single ini merupakan lagu pembuka untuk album yang akan datang Tanahku Tidak Dijual. Lagu tersebut sudah bisa didengar di kanal YouTube Omuniuum.

Lagu "Di Kampungku" diciptakan Deugalih sekitar 2003. Berawal dari nongkrong di warung kopi dan lagu tercipta untuk menghibur teman-teman perantauan dari Medan. Suasana tongkrongan yang cair membuat lagu ini jadi semacam lagu tema setiap kali bercengkerama. "Selama nyanyi sama temen-temen itu, pasti di tengah gitar-gitaran mereka sumbang cerita dan banyak terjadi hal yang sama di setiap kali nangkring di warung kopi, teman-teman dari daerah mana pun pasti terpancing sumbang cerita mulai sekolah yang temboknya jamuran sampai cerita gagal kawin di kampung; lagu ini memang lucu," ujar Deugalih tentang inspirasinya.

Ketika lagu ini dibawa untuk direkam serius terjadilah penyesuaian. "Akhirnya dibuatlah liriknya menjadi pendek, agar bisa kasih ruang untuk orang-orang yang dengar lebih leluasa main-main dengan ingatannya," jelasnya.

Deugalih ialah Galih Su, vokalis dari Deugalih & Folks yang sempat merilis album Anak Sungai pada 2015. Jika bersama bandnya ia membahas tema air, di album solonya ia akan mengangkat tema tanah. Proses pembuatan album sudah berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya ia merangkum 14 lagu. Rekaman dilakukan dengan cara satu kali take di studio yang menghabiskan waktu hanya dua hari.

"Album Tanahku Tidak Dijual kontennya lagu-lagu yang terinspirasi dari sejarah perampasan tanah dari era kolonial hingga hari ini, lengkap beserta akibat yang ditimbulkan: urbanisasi, pekerja migran, masyarakat merasa kehilangan identitas, gap kelas, persepsi tentang kemajuan zaman, atas nama globalisasi dan banyak lagi," katanya mengenai inspirasi album. "Oleh sebabnya, semua lirik di album ini, dibuat menjadi pendek. Agar tidak menjadi album yang berat dan album yang penuh ceramah; tujuannya semua orang bisa menambahkan pengalaman sehari-harinya ketika mendengarkan album ini."

Galih sudah aktif di kancah folk sejak 2002 dengan mengorganisir acara kecil seperti RedNeck, Three Days Blues Plus, Uma Huma dan lain sebagainya. Kini ia mengajar di sebuah sekolah swasta di Yogyakarta sembari tetap memainkan musiknya. Sedangkan Deugalih & Folks sedang dalam proses rekaman album kedua.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Kuartet Rock Asal Bali, Zat Kimia, Luncurkan Album Perdana
  2. Synchronize Fest 2017: Merayakan Musik Indonesia dengan Segala Keunikannya
  3. Sandhy Sondoro Siap Gelar Tur Konser Perdana di Inggris Raya
  4. 10 Kolaborasi Seru yang Terjadi di Soundrenaline 2017
  5. Saksikan Trailer Film ‘Chrisye’ yang Menampilkan Vino G. Bastian

Add a Comment