Live Review: The Sigit dan Sigmun

Oleh
The Sigit. Rio Ardani

Persembahan gondrong berkualitas dari The Sigit dan Sigmun

Akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (24/3), bertempat di Maja House Bandung, The Sigit seharusnya dijadwalkan menggelar konser spesial demi merayakan satu dekade album debut mereka, Visible Idea of Perfection yang rencananya akan dirilis dalam format vinil awal bulan ini. Dalam konser tersebut the Sigit akan menampilkan seluruh lagu yang ada di dalam album pertama.

Tak lupa ada penampilan band cadas yang merupakan "junior" The Sigit di kota Kembang, Sigmun, yang turut didapuk sebagai band pembuka. Sayangnya, rencana itu sedikit meleset karena satu dan lain hal. "Nanti akan ada pesta perilisan vinil sendiri, bukan yang ini," jelas salah seorang sumber dari pihak manajemen.

Niat menjalankan perayaan sakral satu dekade album debut pun kandas malam itu. Lantas acara yang semula bernama Decade to Perfection pun berubah menjadi Gondrong Berkwalitas. Setelah berbicara dengan pihak penyelenggara, ternyata ada pergeseran jadwal untuk perayaan satu dekade itu.

Para personel The Sigit pun belum bisa memastikan kabar terkini tentang perubahan jadwal perayaan perilisan ini. "Belum tahu," ujar gitaris Farri Icksan sesaat sebelum naik ke atas panggung

Meski obyektif dan tanggal pertunjukan bergeser, ratusan Insurgent Army (sebutan untuk penggemar The Sigit) yang datang tetap bersuka cita malam itu. Seluruh lagu dalam Visible Idea of Perfection tetap dibawakan dan Sigmun pun tetap menjadi band pembuka.

Naik ke atas panggung sekitar pukul delapan malam, Sigmun langsung tampil beringas. Setelah intro pemanasan, Haikal Azizi cs membuka Gondrong Berkwalitas dengan nomor "Ozymandias" dan "In The Horizon" berturut-turut.

Tampil membawakan sembilan lagu, Sigmun sempat menyelipkan materi baru di tengah-tengah setlist. Nomor segar itu mereka beri judul "Behelith". Hingga akhirnya "Long Haul" pun dibawakan secara maksimal dan tanpa ampun di penghujung penampilan Sigmun.

Salah satu kesan berhasil diciptakan Sigmun tatkala sang vokalis, Haikal memakai rambut palsu panjang berwarna putih di sela-sela penampilan. Ini dia lakukan agar terlihat gondrong, menyesuaikan dengan tema acara "Gondrong Berkwalitas".

Tak lama giliran si empunya acara naik ke atas panggung. Rekti (vokal, gitar), Farri (gitar), Adit (bass), dan Acil (drum) tanpa basa-basi langsung membuka penampilan dengan nomor anthemic, "Black Amplifier." Raungan gitar melodius Farri dalam intro lagu ini pun langsung disambut puluhan Insurgent Army yang meringsek ke depan, bersiap melakukan stage dive.

Usai "Black Amplifier", nomor populer lainnya dari Visible Idea of Perfection, "New Generation" menjadi lagu selanjutnya yang membuat panggung Maja House semakin panas malam hari itu. "Kita akan membawakan lagu-lagu dari album pertama ya malam ini," ujar Rekti dari atas panggung meyakinkan massa mereka berpesta di panggung yang benar.

Wajar saja, meski tujuan acara bergeser namun The Sigit tetap memenuhi janji mereka untuk membawakan seluruh repertoar lama mereka dari album pertama. Bahkan sebagai bonus, di tengah-tengah setlist, beberapa lagu dari album mini mereka yang rilis pada 2004 turut dibawakan.

Sebut saja "Did I Ask Your Opinon" dan "Come Take It", secara mengejutkan membuat Insurgent army yang datang menjadi hanyut dalam koor massal nostalgia The Sigit era awal mula band asal Bandung ini muncul.

Lagu "Live in New York" bisa jadi pusat konsentrasi koor massal yang tercipta dalam setlist saat itu. Dibawakan dengan separuh akustik, penggebuk drum Acil maju meninggalkan set drum dan menghampiri Rekti, mengajak penonton bernyanyi bersama dengan lebih khusyuk.

Panggung The Sigit pun harus berakhir dengan dua lagu terakhir "Soul Sister" dan "No Hook", mengantar Insurgent Army pulang dengan puas. Tak banyak gimmick yang tercipta malam itu. Lagu per lagu terus dikebut Rekti cs tanpa banyak basa-basi yang cukup meninggalkan kesan. Hanya sebuah panggung The Sigit dengan setlist lagu-lagu lawas. Itu saja.

Editor's Pick

Add a Comment