Honne

Duo electronic soul asal Inggris berbagi tentang konser pertama mereka di Jakarta yang heboh hingga obsesi mereka terhadap Radiohead

Oleh
Honne Putri Indah Macharani

Ballroom Kuningan City, Jakarta Selatan mendadak menjadi penuh sesak Sabtu (11/3) lalu. Lebih dari tiga ribu pasang mata berkumpul dan bernyanyi bersama di dalamnya. Puncaknya, jelas terjadi saat gelaran bertajuk 7th Music Gallery Festival ini ditutup dengan penampilan duo elektronik soul asal Inggris bernama Honne.

"You"re so hot, Jakarta," ucap pemain synth, James Hatcher berulang kali sepanjang membawakan empat belas lagu. Penampilan James bersama sang vokalis, Andy Clutterbuck malam itu memang hangat. Selain hangat dalam artian sebenarnya, karena kehadiran lautan manusia yang menghabiskan oksigen dalam ruangan, Honne cukup berkompeten membangun kehangatan dengan ribuan penonton.

Sesekali Andy, yang malam itu tampil bergitar mengenakan kemeja lengan pendek hitam bermotif polkadot, turun dari panggung menghampiri barikade guna memeluk seorang penonton di barisan terdepan. Sorakan iri disertai tawa bahagia jelas terpancar dari penonton lainnya.

Honne baru pertama kali tampil di Jakarta, Indonesia. Namun, baik Andy maupun James tak pernah menyangka sambutan penonton ibukota kelewat meriah bagi mereka. "Ini di luar ekspektasi kami, salah satu yang terbesar," ujar James saat sesi wawancara.

Meski baru terbentuk pada 2014 dan hanya menelurkan lima album mini plus satu album penuh , Honne ternyata cukup populer di kawasan Asia Tenggara. Selain di Indonesia, pertunjukan mereka juga berstatus sold out di Thailand pada tur Asia Tenggara mereka Maret ini.

Ketika album debut Warm On A Cold Night rilis Juli 2016 lalu via Atlantic Records, nama mereka juga langsung melejit di puncak tangga lagu iTunes di Indonesia. Sementara, untuk skala dunia beberapa festival musik besar seperti Coachella dan Summersonic Festival siap menjadi santapan mereka tahun ini.

Sehari setelah penampilan mereka di 7th Music Gallery, Rolling Stone berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan keduanya. Meski terlihat lelah, duo Andy dan James tak segan berbagi cerita tentang pertunjukan di Jakarta, bagaimana mereka bisa dikenal, hingga obsesi mereka terhadap Radiohead.

Pertunjukan semalam penuh sekali. Apa tanggapan kalian?
James (J) : Ya, mereka semua bernyanyi sangat kencang.
Andy (A) : Menakjubkan. Yang jelas, yang (bernyanyi) paling kencang (diantara konser-konser kami lainnya)

Apa kalian mengira penontonnya bakal segila tadi malam?
A : Sebelum konser kami selalu terhubung dengan para penggemar kami. Ketika mereka berkicau sesuatu di Twitter atau melalui aplikasi pesan, seperti Facebook, Anda tidak akan pernah tahu berapa jumlah pasti dari orang-orang ini, paling tidak hanya dapat mengira dari mereka yang merespons balik (di sosial media). Ya, kami pikir jumlahnya benar-benar besar. Tapi mungkin tidak sedahsyat tadi malam (tertawa).

Apa penonton semalam adalah yang paling banyak diantara konser-konser kalian lainnya?
J : Salah satu yang terbesar. Kami juga sempat mendapatkan beberapa konser dengan penonton sebanyak itu sebelumnya. Salah satunya mungkin ketika di Albania.
A : Saat itu hingga dua puluh ribu orang.
J : Ya, dan pastinya itu menjadi yang paling besar hingga kini. Menyenangkan rasanya ketika kamu dapat berterima kasih kepada orang banyak dan itulah yang kami rasakan semalam.
A : Semalam rasanya seperti konser intim yang sangat besar.

Mana yang lebih memuaskan? Bermain dalam sebuah festival musik berskala besar atau konser intim?
A : Saya rasa yang seperti semalam itu sangat memuaskan, sebagaimana terjadi, dan masih intim (tertawa).

Bagaimana rasanya, ketika kalian memulai karier bermusik melalui Soundcloud lalu mengetahui penggemar kalian di Asia, seperti di Indonesia misalnya, tahu lagu-lagu kalian dan dapat menyanyikannya bersama, juga jumlah penonton yang sebanyak semalam. Apa rasanya?

A : Menakjubkan. Sungguh. Kami rasa kami patut bersyukur dapat diterima di sini hanya dari musik yang tadinya hanya dibagi-bagikan secara cuma-cuma. Mungkin jika kita menoleh ke beberapa tahun lalu, beberapa orang akan merasa sangat kesal ketika albumnya diunduh secara ilegal dan tidak menghasilkan uang. Namun bagi kami itu justru membantu untuk mencapai pendengar kami. Karena orang bisa mencoba mendengarkan musik kami sebelum membelinya

Jadi itu alasan kalian membutuhkan waktu hingga lima album mini, sampai akhirnya bisa merilis album penuh perdana?
J : Kami ingin memiliki pendengar kami dulu sebelum merilis album penuh debut. Kami tidak ingin menciptakan semua lagu, lalu kami gembar-gemborkan, tapi tidak ada yang mendengarnya. Mungkin ini terdengar tricky, tapi saya rasa ini relevan. Jadi ketika kami merencanakan sebuah album, hal yang kami mulai pikirkan tinggal bagaimana merencanakan lagu-lagu dan mengonsep albumnya saja. Materi-materi baru mungkin saja berasal dari beberapa materi mentah yang mungkin sudah ada di internet, dan kami tinggal merilisnya dalam bentuk album.

Jadi, bisa dibilang kalian seperti mengukur dulu seberapa besar pendengar kalian?
J : Ya, semacam membangun penggemar dulu (tertawa).
A : Mungkin jika kami mengeluarkan album terlebih dulu, ketika dua tahun lalu saat kami tidak benar-benar memperkenalkan diri ke publik, itu bisa saja menjadi hal tidak menyenangkan. Jadi, kami memilih agar orang tahu kami sedikit demi sedikit dengan mendengarkan dulu beragam karya kami. Jika waktunya sudah tepat maka kami mulai memperkenalkan sisi yang berbeda dari kami.

Tentang nama kalian, Honne, dalam bahasa Jepang bermakna "niat yang murni". Jadi apa niat kalian ketika membuat lagu-lagu menggunakan nama Honne?
J : Kami sudah membuat lima hingga enam lagu sebelum nama Honne ditemukan. Menurut kami nama itu sangat merefleksikan apa yang telah kami buat sejauh itu. Ketika karya-karya itu sudah terkumpul dalam sebuah album, terdengar sangat jujur tentang kehidupan dan apa yang terjadi pada orang-orang di sekitar kami. Yah, jadi sebut saja ini bagian dari romantika musik yang jujur.

Jika dibandingkan dengan materi-materi lama kalian di album mini sebelumnya, apa di album debut ini kalian merasa musik Honne telah menemukan cetak birunya? Bagaimana kalian menjelaskan musik kalian saat ini?
A : Saya rasa "Warm On A Cold Night" adalah lagu pertama yang pernah kami rilis. Ketika kami membuat lagu ini, kami merasa lagu ini hampir mewakili cetak biru musik kami. Ia telah merangkum apa yang kami rasakan soal sekitar kami.

Lalu menyebutnya sebagai elektronic soul ?
J : Ya.
A : Salah satunya bisa disebut itu.

Apa yang membuat Honne dan budaya Jepang begitu dekat?
A : Itu dimulai dari saya. Pacar saya dan banyak dari teman-teman saya selalu terkagum-kagum akan hal itu, sehingga akhirnya saya pun ikut tertarik. Jadi kami memulainya dengan berlibur ke sana, sangat-sangat menyenangkan, berbeda dari Inggris, negara asal kami. Sangat sentimentil dan menakjubkan di saat yang bersamaan. Sekarang, James pun menyukainya.
J : Ya

Terakhir, kalian berdua sangat menyukai Radiohead. Apakah itu yang mempertemukan kalian?
A : Ya, kami berdua bertemu karena sama-sama terobsesi dengan mereka. Tepatnya di pertemuan pertama kami.

Album mana yang menjadi favorit kalian?
J : In Rainbows.
A : Juga album solo Thom Yorke, The Eraser juga tidak kalah. Saya rasa mereka adalah contoh hebat dari band yang memiliki karier bermusik yang baik. Merek selalu menantang diri mereka untuk berubah di setiap album.

Editor's Pick

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Kisah di Balik Tur Konser Keliling Dunia Raksasa Metallica
  3. Saksikan Video Musik Terbaru Monita Tahalea, “Hai”
  4. Album Debut Eleventwelfth Dirilis Ulang di Jepang
  5. Grup Folk Rock asal Bandung, Rusa Militan, Merilis Album Perdana

Add a Comment