Arturo Sandoval: "Dizzy Gillespie adalah Mentor dan Ayah Spiritual Saya"

Maestro terompet jazz asal Kuba ini sempat memuji musik Indonesia dan salah satu talenta terbaiknya, Joey Alexander

Oleh
Arturo Sandoval. Facebook/Arturo Sandoval Music

Berawal dari meminta pendapat Arturo Sandoval tentang Java Jazz 2017, namun setelah memperkenalkan diri, ia justru mengundang Rolling Stone untuk mengobrol di hotel tempat ia menginap. Akhirnya pada Sabtu (4/3) siang, Rolling Stone menghabiskan waktu hingga hampir satu jam lamanya berbincang dengan komposer, peniup terompet dan pianis jazz asal Kuba yang kisah hidupnya pernah diperankan oleh Andy Garcia dalam film drama produksi HBO yang berjudul For Love or Country: The Arturo Sandoval Story tersebut.

Arturo Sandoval pernah meraih 19 nominasi Grammy Awards dan 10 trofi di antaranya berhasil dibawa pulang olehnya. Masih ditambah lagi penghargaan 6 trofi dari Billboard Awards dan 1 trofi Emmy Awards. Sepertinya semua itu belum cukup menggambarkan pencapaian musisi yang dikenal sebagai musisi jazz ini, padahal ia juga jago memainkan dan mengomposisi musik klasik.

Mungkin yang paling membanggakan baginya, Presiden Barack Obama pada 2013 pernah menganugerahkan Arturo Sandoval dengan Presidential Medal of Freedom di Gedung Putih, Washington D.C. Ini merupakan penghargaan sipil tertinggi dari Presiden AS atas "sumbangsih, jasa-jasa tokoh tertentu pada keamanan atau kepentingan nasional Amerika Serikat, perdamaian dunia, budaya atau lainnya yang signifikan."

Arturo Sandoval saat menerima Presidential Medal of Freedom dari Presiden Barack Obama pada 20 November 2013. (Obama White House)

Lahir di kota kecil, Artemisa, dekat Havana, Kuba, pada 6 November 1941. Musik membawa Arturo Sandoval bepergian ke seluruh dunia, bertemu dengan berbagai bangsa dan bermain dengan musisi dari beragam latar belakang. Sejak usia dua belas tahun Sandoval mulai bermain terompet dengan musisi-musisi jalanan di Kuba. Pada 1982 ia sempat tur bareng dengan peniup terompet jazz legendaris Dizzy Gillespie yang kemudian menjadi sahabat sekaligus mentor bagi dirinya. Suatu ketika sedang tur bersama United Nations Orchestra di Roma, Italia, Sandoval sempat berkunjung ke Kedutaan AS di sana dan kemudian membelot dari Kuba. Ia resmi disumpah sebagai warga negara AS pada akhir 1998.

Siang itu Arturo Sandoval duduk di Cigar Lounge bersama istrinya yang cantik sekaligus manajernya. Rolling Stone disambut dengan ramah dan inilah kutipan obrolan dengan Arturo Sandoval, salah satu legenda musik Afro-Cuban Jazz dunia.

Bagaimana Anda menggambarkan Afro-Cuban berpadu dengan Bebop?
Nada-nada Bebop mengentak Anda dengan sangat kuat, sedangkan ritme Afro-Cuban akan mengajak Anda menari mengikuti irama. Anda harus mendengarkan musiknya dengan saksama atau Anda akan kehilangan banyak nada indah yang dimainkan, tapi biarkan musik tersebut membawa jiwa setiap pendengarnya untuk menikmati dan menari mengikuti ritme yang lincah. Bebop adalah musik yang sangat spesifik, demikian pula Afro-Cuban. Memadukan kedua jenis musik yang amat kuat dengan baik akan membuat musik yang dimainkan lebih kuat lagi merasuk ke pendengarnya.

Banyak yang menganggap jazz sebagai musik yang rumit, perlu konsentrasi untuk mendengarkannya dan itu membuat penonton musik jazz jadi terdiam dan tidak ekspresif, seperti halnya penonton di Indonesia. Bagaimana menurut Anda?

Tidak hanya terjadi di musik jazz. Itu juga tanggapan kebanyakan pendengar musik klasik. Seperti saya katakan tadi, memang penikmat musik jazz atau klasik harus berkonsentrasi dalam menikmati musik jazz ataupun klasik, tapi biarkan keindahan nada-nada yang dimainkan membawa Anda mengembara dalam keindahan. Biarkan jiwa dan tubuh Anda mengikuti irama.

Anda berkesempatan bermain dengan banyak raksasa musik, seperti Dizzy Gillespie, Frank Sinatra, Tony Bennet, Patti LaBelle, Paul Anka, Stan Getz. Bagaimana rasanya bermain dengan tokoh-tokoh seperti itu?
Ya, saya bermain solo di album terakhir dari Frank Sinatra. Dizzy, dia adalah mentor dan ayah spiritual bagi saya. Tentu luar biasa rasanya bermain dengan musisi yang menjadi idola saya dan telah meraih mencapaian seperti Dizzy. Saya bukan saja merasa amat terhormat bisa bermain dengan dia, saya berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan itu. Anda tidak akan melewatkan sedetikpun untuk menikmati dan belajar dari musisi yang sudah meraih pencapaian seperti itu.

Bagaimana dengan musisi generasi muda?
Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka amat luar biasa. Mungkin teknologi dan situasi yang berkembang dari waktu ke waktu membuat mereka bermain dengan amat luar biasa. Mereka bermain dengan kemampuan teknik bermain yang tidak pernah kami lihat dan alami dulu. Mereka mencapai kemampuan bermain yang tak terbayangkan. Beda era, beda pendekatan dalam permainan musik.

Ada pendapat bahwa tidak ada lagi komposisi dan permainan yang seperti dulu di era Dizzy, Miles, Charlie Parker, Monk. Bagaimana pendapat Anda?
Tentu tidak semua musisi muda seperti itu. Memang banyak yang tidak memainkan harmoni melodi seperti dulu. Mereka berkonsentrasi pada teknik permainan, lebih avant garde. Saya sendiri menyukai harmoni melodi yang cantik. Saya membuat komposisi trumpet concerto dengan harmoni melodi yang cantik. Saya mempertahankan itu, tidak peduli orang berpendapat apa. Saya selalu suka komposisi dan permainan yang melodious. Siapapun musisinya, kapan dan dimana dimainkan. Saya menikmatinya.

Tidak banyak yang mampu mencapai permainan yang telah Anda capai. Anda dikenal mahir dalam permainan terompet musik jazz dan klasik.
Ya, hanya sedikit yang bisa bermain terompet di musik jazz dan klasik. Wynton Marsalis adalah satu di antaranya. Perlu usaha, latihan dan kecintaan untuk dapat memainkan terompet di dua jenis musik itu. Saya selalu berlatih dengan keras untuk bisa mencapai permainan seperti sekarang. Demikian juga dalam membuat komposisi. Bedanya saya dengan Wynton, saya memadukan musik jazz ketika saya melakukan konser klasik. Band saya, dalam bentuk kuintet atau sekstet, memainkan bagian lain dari sebuah konser setelah orkestra klasik saya memainkan bagiannya. Ini menyenangkan dan memberi pengalaman berbeda bagi yang hadir.

Indonesia memiliki musik tradisi yang berbeda, bagaimana Anda menanggapi warna musik dari budaya yang berbeda?
Musik Indonesia sangat berbeda dari sisi gaya bermusik dan juga memiliki nada yang spesifik dan khas. Saya selalu terbuka dengan warna musik yang berbeda. Menyenangkan sekali mendengarkan musik rakyat dari bangsa yang berbeda. Itu memperkaya musik kita. Selalu menarik menambah isi dari sebuah komposisi dan aransemen.

Indonesia juga menghasilkan musisi belia seperti Joey Alexander...
Ah, ya… Anak itu dari sini ya.. Joey jenius. Permainannya sungguh matang dan luar biasa membuat banyak musisi jazz terkagum-kagum. Saya sedang merencanakan sebuah pertunjukan yang melibatkan Joey dan Jacob Collier di tahun depan. Jacob juga luar biasa. Musisi-musisi muda sekarang amat luar biasa.

"Joey (Alexander) jenius. Permainannya sungguh matang dan luar biasa membuat banyak musisi jazz terkagum-kagum. "

Anda juga banyak terlibat dalam pembuatan musik untuk film.
Benar. Saya senang membuat musik untuk film. Saya menaruh melodi yang cantik untuk film. Tugas saya sebagai musisi membuat film jadi lebih indah dan mampu menyampaikan pesannya.

Di usia yang mencapai 68 pada tahun ini, Arturo Sandoval terus aktif berkarya dan menyebarluaskan musiknya ke berbagai negara. Sedikitnya ada 29 album studio yang ia buat sebagai band leader dan puluhan album lain dimana ia terlibat menjadi pengisi album musisi lain. Itupun masih ditambah dengan musik film dan penampilannya di berbagai rekaman konser di DVD. Tidak terlihat ia akan mengurangi sedikit pun aktivitasnya dalam berkarya. (wnz)

Arturo Sandoval saat tampil di Java Jazz 2017 hari pertama. (Rasyid Baihaqi)

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Live Review: Mocca x Payung Teduh
  3. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  4. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment