Musik Bagus Day

Titik temu dalam membangun ekosistem musik yang terhubung serta membangun apresiasi, informasi, dan menjadi market place yang sehat bagi insan musik tanah air

Oleh
Glenn Fredly. dok. Glenn Fredly

"Politik berubah, ilmu pengetahuan berubah, hanya musik dan cinta yang tidak berubah." Penggalan dialog Jaya dan Lastri dari film Surat dari Praha karya Angga Dwimas Sasongko mungkin terdengar agak klise dan terkesan berlebihan. Namun pada kenyataannya dari musik telah lahir begitu banyak karya lagu yang mempengaruhi peradaban manusia. Lewat kecintaan manusia pada musik maka sebuah karya menjadi abadi melebihi kreator dan zamannya.

Di era teknologi digital hari ini, "keabadian" musik jadi pertanyaan, khususnya di Indonesia. Bukan hanya dampak dari pembajakan terhadap karya musik, namun juga perjalanan musik sebagai ekosistem dan profesi, musik sebagai sejarah, musik sebagai pendidikan, dan musik sebagai industri. Masih banyak lagi pertanyaan tentang "keabadian" musik di Indonesia. Data empirik dari Kementerian Pariwisata beberapa tahun lalu menunjukkan bagaimana kontribusi musik bagi negara hanya di bawah satu persen. Ini tentu bukan data yang menggembirakan bagi para musisi. Sebagai pelaku, saya mendambakan perkembangan musik industri yang berkelanjutan dan terhubung serta kolaboratif dari penikmat musik, musisi, label, pembuat kebijakan, dan swasta serta dunia pendidikan dalam sebuah ekosistem musik. Berangkat dari pemikiran itu, saya dibantu oleh penggiat musik tanah air Intan dan Aria berpikir untuk mewujudkan sebuah hajatan yang bernama #MusikBagus Day.

#MusikBagus Day adalah sebuah langkah kecil untuk pemikiran besar ke depan yang berangkat dari kesadaran kolektif antara musisi, penggiat musik, dan penyedia tempat; dalam hal ini Cilandak Town Square yang terletak di Jakarta Selatan dan mau menjadi wadah bagi para pelaku untuk menggelar acara bulanan berupa workshop, records store, dan show case. Harapan kami adalah pertemuan para penikmat musik di ruang publik ini menjadi nyata dalam membangun ekosistem yang terhubung serta membangun apresiasi, informasi, dan menjadi market place yang sehat bagi insan musik tanah air.

Bagus itu relatif tapi saya percaya bagus punya standar kualitas dan visi misi yang baik. Setelah dimulai di awal Desember 2016, acara sebulan sekali #MusikBagus Day dimulai dengan program workshop yang dibuat di beberapa restoran atau kafe di Cilandak Town Square. Di situ setiap musisi berbagi dengan followers-nya, mulai dari Barry Likumahuwa, Joey, Gerald Situmorang, Rayendra Sunito, Harry Anggoman, Tiwi Hakuhachi, Saykoji, sampai moderator musik Widyasena hadir.

Di pasar musik, ada 30 penjual vinyl, CD, kaset, merchandise, buku, dan instrumen musik buatan lokal. Juga ada live music interactive dari musisi yang dikurasi oleh tim #MusikBagus Day. Musisi yang hadir kebanyakan memang musisi yang jarang kita temukan di layar televisi hari ini. Di episode kedua di Januari 2017, program yang sama hadir, yaitu workshop, pasar musik sampai ke panggung musik serta tambahan memberikan ruang untuk teman-teman dari Institut Musik Jalanan dalam mewujudkan perpustakaan musik mereka. Semangat musik untuk berbagi kebaikan di #MB day ini akan selalu menjadi agenda utama di setiap episode mendatang sebagai tanggung jawab sosial.

Di tengah kegaduhan Jakarta dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, #MusikBagus Day kembali di awal Febuari 2017. Volume 3 hadir dengan konten yang makin berwarna dalam workshop musik, music market, live performance dari musisi lintas-genre, juga kolaborasi dengan Java Jazz Festival serta pemberian tribute untuk almarhum Riza Arshad, musisi jazz yang telah berkontribusi pada perkembangan musik ini di tanah air.

#MusikBagus Day berikutnya akan digelar pada 9 Maret 2017 dan tanpa disengaja bertepatan dengan Hari Musik Nasional serta hari lahir WR Soepratman. #MusikBagus Day kali ini menghadirkan workshop Kata Pahlawan dan akan mengangkat tokoh Jenderal Hoegeng yang sangat dikenal sebagai penggiat dan pencinta musik Hawaiian. Beliau pernah menyebutkan musik yang dia mainkan sebagai irama lautan teduh. Profil dan mimpi beliau akan dikupas dalam kolaborasi antara desain grafis dengan musisi.

Musik sebagai sebuah entitas aset dalam industri kreatif hari ini harus dirawat, dimulai dengan membangun kesadaran bersama untuk menjadikan musik bukan hanya bagian dari gaya hidup tapi juga berkontribusi dalam membangun memajukan bangsa. Semoga perjalanan #Musikbagus Day yang telah membangun komitmen kerja sama dengan Cilandak Town Square menjadi inspirasi baru bagi pencinta musik dan para penikmatnya

Saya teringat pada kutipan kata-kata Pramudya Ananta Toer, "Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan." Musik telah memberi warna pada kehidupan, musik menjadi tempat untuk menemukan kembali gagasan yang terlewat, terutama gagasan tentang persatuan dan merawat harapan baik lewat hasil karya serta menghargai setiap potensi yang dimiliki tanah air dalam dunia musik. Selamat menikmati #MusikBagus Day di Hari Musik nanti. Salam #MusikBagus.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. Inilah Para Pemenang AMI Awards 2017
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment