Dunia, Menuju Kebangkitan Metal Progresif

Trio djent instrumental berpotensi tinggi asal Depok ini baru saja meluncurkan album mini bertajuk 'Semesta Fana'

Oleh
(Kiri - kanan) Dunia: Wisnu Ikhsantama Wicaksana, Yutsi Surya Pratama, dan Joshua Deacon. Indra Suhyar

Sebelum tampil di atas panggung, Yutsi terlihat sibuk mengutak-atik gitarnya, berbeda dengan Redhy yang sudah bisa bersenda gurau dengan MC acara. Di belakang, Joshua membawa tambahan floor tom dan cymbal ke atas panggung dibantu Tama yang sudah selesai mengatur suara bass-nya. Keempat pemuda berpakaian serba hitam ini menyiapkan segala halnya demi tampil maksimal di panggung perdananya. Mereka adalah Dunia, band pendatang baru yang memainkan sub-genre metal progresif.

Dunia mendapatkan panggung pertamanya di acara SAE Fest pada awal Februari lalu di SAE Institute, Pasar Minggu, Jakarta. Pasalnya mereka selama setahun penuh sibuk menyelesaikan album mini perdananya yang bertajuk Semesta Fana. Mini album ini berisi lima lagu yang dikerjakan dengan ketat oleh Yutsi Surya Pratama sebagai gitaris, Joshua Deacon sebagai penggebuk drum, serta dibantu Wisnu Ikhsantama Wicaksana dalam mengerjakan proses mixing dan mastering –juga mengisi suara bass. Saat tampil langsung, Dunia dibantu Rhedy Mahendra sebagai gitaris tamu.

Kepada Rolling Stone, Yutsi menceritakan band ini diberi nama Dunia karena biasanya nama-nama band metal progresif itu seputar planet-planet dan biasanya band luar negeri menggunakan bahasa Inggris. Nama Dunia diambil dari bahasa Indonesia karena sederhana dan ingin mencitrakan diri ke luar negeri sejak awal. "Biasanya orang luar negeri itu nama bandnya pakai bahasa Inggris jadi terlalu umum, makanya kita pakai bahasa Indonesia, Dunia," tuturnya.

Dunia merupakan band asal Depok yang digagas oleh Yutsi. Setelah berganti-ganti personel, akhirnya Yutsi bertemu dengan Joshua di kampus yang sama dengannya. "Kami mulai coba jamming lagu-lagu metal. Setelah itu mulai garap lagu, jadilah lagu "Ignition 1.6" di tahun 2015. Setelah itu lagunya kami masukkan ke kompilasi Indonesian Djentlemen. Dari situ kami kenal banyak teman di satu skena yang sama," ujar Yutsi mengisahkan terbentuknya band mereka.

"Awal tahun 2015 kami sudah bikin satu lagu "Ignition 1.6", lalu setahun jeda sambil bikin-bikin lagu juga. Kemudian mulai lagi awal 2016 dan sudah jadi tiga lagu. Setelah itu pertengahan sampai akhir tahun 2016 kami rekaman di studio," ujar Yutsi menceritakan proses pengerjaan album mini Semesta Fana yang sudah bisa didengarkan versi digitalnya via Bandcamp dan layanan streaming music lainnya sejak awal Januari 2017.

"Setelah lulus kuliah, baru kami mulai proses rekaman. Kami bikin album mini ini susah dan lama banget karena dicicil juga ngerjainnya. Karena materi lagu-lagunya diusahakan jangan sama dengan band lain. Kami coba cari orisinalitas kami sendiri. Mumpung nganggur juga hahaha," Ujar Yutsi dan Joshua sambil tertawa mengingat masa-masa rekaman tahun lalu.

Semesta Fana merupakan album mini yang berisi lima lagu instrumental. Kelima lagunya diawali dari "Evolvians", "The Wanderers", "Traverse The White Light", "Be, and It Is, dan diakhiri "Ignition 1.6". Album ini merupakan langkah awal Dunia menapaki perjalanan di kancah musik metal yang lebih progresif di Indonesia. Khususnya lagi, Dunia memainkan jenis musik metal progresif yang bergaya khas djent seperti Periphery ataupun TesseracT.

Untuk pemberian judul lagu, hampir semua judul lagu dibuat oleh Yutsi kecuali "Traverse The White Light" oleh Joshua. "Judul itu gue buat karena gue suka main game yang judulnya Dark Souls. Jadi di game itu ada segmen "Traverse The White Light", sebelum lawan bosnya kita harus melewati segmen ini. Soalnya lagu ini juga perjuangan banget sih [tertawa]," ujar Joshua sambil tertawa. Yutsi menambahkan bahwa pemberian judul lagu biasanya mengikuti suasana lagunya.

"Selain memang sulit mengerjakan materinya, kami juga sering merevisi tiap lagu-lagunya, itu yang bikin lama," ujar Joshua. Tama –panggilan Wisnu Ikhsantama Wicaksana– menambahkan bahwa kendala saat rekaman Semesta Fana disebabkan tidak adanya produser, yang membuat tidak ada batasan kapan selesai. "Suara drum untuk satu mini album itu sudah direkam tapi diulang lagi dari awal," tambah Tama yang mengikuti proses rekaman Dunia dari awal.

Dalam proses pengerjaan mini albumnya, Dunia juga mengikutsertakan gitaris asal Jepang, Soichiro Mizuno dalam lagu "The Wanderers" dan Jeremiah Sormin sebagai pemain saksofon dalam lagu "Ignition 1.6". "Dulu sempat kaget juga waktu dengar TesseracT, metal kok ada suara saksofon. Karena di lagu "Ignition 1.6" akhirnya agak kosong kalau nggak diisi, jadi kami cari suara saksofon. Ternyata Joshua ada teman, pemain saksofon [Jeremiah Sormin]. Sebenarnya dia belum pernah main saksofon di metal. Ya sudah kami ajak saja," ujar Yutsi.

"Awalnya gue kenal dia [Soichiro] di Soundcloud. Dia mainnya keren banget. Sebenarnya dia belum terkenal juga di Jepang tapi dia termasuk anggota di Takenawa Intrigue, pergerakan gitaris-gitaris modern metal Jepang. Soichiro tuh salah satu gitaris yang punya karakter kuat. Kemudian gue kenalan lalu mengajaknya mengisi solo," ujar Yutsi menceritakan awal kolaborasinya dengan Soichiru Mizuno.

Sebelum memutuskan bermain dengan konsep instrumental, Yutsi dan kawan-kawan sempat mencoba memasukkan suara vokal dalam lagu-lagunya. "Dulu pernah coba sama Yudhi Pramadiansyah. Awalnya kami sering cover lagu-lagu anime versi metal djent gitu, ya sudah gue ajak dia buat Dunia tapi ternyata dia kurang cocok untuk menyanyikan lagu metal." Bahkan Dunia sempat merekam suara vokalnya untuk salah satu lagu yang ada di Semesta Fana.

Sementara itu Dunia juga sempat lolos menjadi salah satu finalis dalam kontes Digilive Band Fest 2016 yang dinilai oleh Endah (Endah & Rhesa), Buluk (Superglad), Andre Tiranda (Siksakubur), serta perwakilan Digilive dan Guitar Freaks Jakarta. Sepuluh finalis termasuk Dunia diberi hadiah live video dari Digilive.

Editor's Pick

Most Viewed

  1. 8 Lagu Cover Akustik Chris Cornell Paling Berkesan
  2. Dialog Santai Komunisme dalam Peluncuran Album Debut Jason Ranti
  3. Ini Band-band Thrash Metal Favorit James Hetfield Di Luar 'Big Four'
  4. JKT48 Meluncurkan Setlist Terbaru ‘Sekarang Sedang Jatuh Cinta’
  5. Rich Chigga, GTA, dan Anna Melengkapi Jajaran Penampil Ultra Singapura 2017

Add a Comment