Krakatau: Kembali Satu, Hasilkan Album Baru

Puluhan tahun berpisah sekaligus tetap bersama, Krakatau Reunion kini menuliskan babak baru

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 143 Maret 2017. Bayu Adhitya

Saat itu belum pukul 10 pagi di akhir Januari lalu di Kemang, Jakarta. Tim Rolling Stone Indonesia baru saja sampai di sebuah studio pemotretan, dan ternyata pemain keyboard Dwiki Dharmawan sudah lebih dulu sampai. Bersama-sama kami menaiki tangga menuju studio, dan tak berapa lama satu persatu para anggota Krakatau Reunion juga tiba. Suasana di studio dengan cepat menjadi hangat. Pemain keyboard Indra Lesmana terlihat sigap membawa setrika mungil, supaya pakaiannya mulus rapi. Pra Budidharma sang pemain bas dan gitaris Donny Suhendra dalam balutan jas mematut diri di depan cermin. Drummer Gilang Ramadhan datang dengan wajah berseri-seri dan menawarkan kudapan tape dalam kantong plastik. Vokalis Trie Utami datang terakhir, siap dengan riasan wajah dan rambut yang sudah ditata.

Suasana terasa hangat karena mereka sering melibatkan guyon di setiap kesempatan, saling "mencela" dengan penuh cinta. Trie gemar meledek Pra, Pra dijuluki bos bank karena pembawaannya, sementara Gilang rajin melempar lelucon lengkap dengan gerakan-gerakan tangan konyol. Adanya piano di dekat studio membuat Indra dan Dwiki bergantian memainkannya, dan ini berarti hiburan dadakan sekaligus kelas wahid bagi tim Rolling Stone.

Pemotretan di daerah Kemang pada hari itu dilanjutkan dengan makan siang tak jauh dari situ, di Waroeng Solo di Jalan Madrasah. Berkelompok di satu meja panjang, keenam anggota Krakatau Reunion bersama tim manajemen yang terdiri atas Rully Fabrian, Agi Anggadharma, dan Donny Hardono (disebut "kuncen" oleh Trie) tampak guyub bersama hidangan gado-gado, ikan goreng, nasi liwet, dan wedang uwuh. Di sela-sela berbagi sambal dan kerupuk, wawancara berlangsung seru dan mendalam.

Selama puluhan tahun keenam maestro ini memang tidak bermain bersama dengan nama Krakatau, tapi di antara mereka tetap ada jalinan. "Sebetulnya Krakatau itu nggak pernah bubar," kata Pra. "Masing-masing personelnya masih bermain dengan satu sama lain, misalnya saya dengan Dwiki, Donny dengan Gilang. Kami mempertahankan silaturahmi dalam bermusik."

"Kami sudah sangat dekat, sudah seperti saudara bertahun-tahun," sambung Donny. "Mungkin itu pula yang memberikan salah satu keuntungan bagi kami sehingga tidak sulit untuk blend. Kami saling mengenal keinginan dan cara main. Bagi kami, musik itu seperti bergaul, hidup, bicara, jadi chemistry itu juga yang membuat kami nggak asing. Sangat hangat, seperti dalam lingkungan keluarga sendiri."

Gilang meneruskan, "Membicarakan soal musik itu nggak terputus." Dwiki juga urun suara, "Kalau saya dengan Pra dalam dua hari belum telepon itu rasanya aneh. Dalam tiga hari belum chatting, rasanya aneh", yang langsung disambung dengan seruan "Awww" ramai-ramai.

Mengutip perkataan Gilang, mungkin hubungan itulah yang membuat mereka bersemangat untuk membuat musik. Membuat warna Krakatau tetap tidak hilang setelah puluhan tahun mereka bermusik. Bermula dari Java Jazz Festival 2014, Krakatau Reunion berhimpun. Respons yang hangat dari para penggemar berlanjut dengan para anggotanya berkumpul kembali. Saat itu terungkap bahwa ternyata masih ada semangat dan keinginan untuk membuat karya baru.

Gilang ingat sebelum tampil pun rasa semangat itu sudah tumbuh. Sudah cukup lama juga mereka menyimpan perasaan ingin tampil bersama lagi, yang terhalang oleh waktu dan kesibukan masing-masing. Bagi Dwiki yang sudah lama tidak memainkan repertoar lama Krakatau, ia mengaku canggung. Selama beberapa tahun ia merasa masih harus menyesuaikan diri, terutama karena pada saat itu frekuensi tampil Krakatau Reunion tidak sesering sekarang. Namun memainkan lagu-lagu baru yang dibuat pada tahun lalu dikombinasikan dengan lagu-lagu lama dalam satu konser membuatnya sadar bahwa ternyata tetap ada banyak kesamaan gaya. "Dulu saat rekaman antara tahun 1985 dan 1988 saya banyak menggunakan keyboard dengan sound yang pada zamannya saat itu. Kini diadaptasi ke era sekarang yang lebih canggih, dan unik juga. Menantang bagi saya," katanya.

Bagi Trie, saat ia pertama menyanyikan lagu-lagu Krakatau lama rasanya seperti membawakan ulang lagu orang lain. "Rasanya seperti "Ini lagu siapa ya? Kok seperti pernah dengar lagu ini, oh lagunya Krakatau"," katanya sambil tertawa. Indra mengiyakan dan menyatakan mereka menyimak lagi rekaman-rekaman zaman dulu sambil mencoba mengikuti permainannya.

"Lama bagi saya untuk bisa masuk ke wilayah tensi lagu-lagu itu," kata Trie lagi. Bukan persoalan lagu, tapi apa yang diminta dari lagu itu, kalau menurut Trie. "Tensi yang ketika berenam itu sudah jadi, dan itu akan jadi tensi yang diharapkan. Dimainkan oleh orang lain lagunya akan tetap jadi dan berbunyi, tapi tensi itu kan hanya dimiliki oleh kami berenam. Tensi itulah yang dituju."

Saat memulai rekaman untuk Chapter One, Trie mengaku saat itu ia tidak punya ekspektasi terlalu tinggi. "Rekaman bareng itu membuka banyak sekali file ke belakang," katanya. "Bahwa ternyata walau kami nggak main berenam banyak hal yang kami lakukan bersama. Dan itu adalah nilai. Kalau seandainya kami di umur sebegini belum menemukan nilai itu, mustahil kami bisa berkarya bersama-sama lagi tanpa ekspektasi apa pun atas karya itu sendiri. Itu yang sebetulnya memberi nilai lebihuntuk Krakatau Reunion kali ini."

Krakatau awalnya adalah Pra, Dwiki, Donny, dan Budhy Haryono di tahun 1985. Seluruhnya dianggap sebagai bibit-bibit muda berbakat maupun pemain yang sudah cukup dikenal di seputar Bandung. Mengikuti kontes Light Music Contest di 1985, mereka menjadi juara pertama. Dari situ nama Krakatau mulai diperhatikan, terutama karena musik fusion seperti yang dimainkan band Casiopea, sedang gurih-gurihnya dinikmati pendengar musik Indonesia saat itu. Sempat dikirim ke Jepang oleh Yamaha untuk sebuah eksibisi, begitu pulang ke Indonesia nama mereka semakin naik.

Pada 1986 Krakatau memiliki formasi baru: Pra, Dwiki, Donny ditambah Gilang yang menggantikan Budhy, serta Indra dan Trie (yang saat itu berumur 18 tahun) masuk ke dalam grup. Satu tahun kemudian grup ini merilis album pertama, First Album, dengan hit "Gemilang". Dari album kedua, Second Album (1988), lahir hit "La Samba Primadonna". Tingkat penjualan album yang tergolong baik dan warna musik yang diminati saat itu membuat Krakatau dianggap sebagai salah satu alasan mengapa musik jazz dan fusion semakin naik daun. Dalam saat yang bersamaan muncullah band-band fusion antara lain seperti Karimata, Emerald, Halmahera, atau Bhaskara Band.

Berbeda dengan band-band lain pada saat itu, Krakatau selalu berhasil menyelipkan warna pop yang mudah "mencengkeram" telinga dengan iringan fusion. Mungkin ini juga kenapa mereka bisa cepat diterima pendengar musik, walau di atas panggung mereka juga gemar mencampurkan rock ke dalam musiknya. Bersama dengan album Kembali Satu (1990) yang juga terjual laris, saat itu beberapa anggota mulai dikenal maju dengan masing-masing grup yang berbeda, atau Trie yang mulai dikenal sebagai vokalis solo.

Dua tahun kemudian muncul Krakatau dengan formasi Dwiki, Pra, dan Trie bersama Budhy Haryono, menghasilkan album Let There Be Life (1992). Dwiki dan Pra kemudian menjalankan Krakatau dengan arahan world music, melahirkan antara lain album Mystical Mist (1994) dan Magical Match (2000) sampai 2 Worlds (2006). Sementara itu Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan beberapa kali tergabung dalam beberapa grup yang sama, seperti Adegan sampai duo Indra Gilang yang melahirkan album Selamat Tinggal di 1997. Indra, Gilang, dan Donny juga membentuk grup Java Jazz bersama pemain bas Mates dan (kini almarhum) peniup saksofon Embong Rahardjo. Selain bersama Dwiki, Pra juga membentuk trio Kayon bersama Indra dan Gilang. Bersama Gilang, keduanya juga aktif menjalankan Gilang Ramadhan Studio Band.

Maka begitulah sebenar-benarnya mereka memang tak pernah terpisah. Walau tidak dengan mengusung nama Krakatau, di antara mereka selalu ada yang mengikat dan bermain musik bersama terus menjaga hubungan baik itu. Mungkin ini yang bisa menjelaskan kenapa ketika akhirnya formasi era 1986 ini bermusik kembali, api itu menyala-nyala.

Album Chapter One yang dirilis pada Desember 2016 memuat 10 lagu baru dan satu lagu lama ("Seraut Wajah") yang diaransemen ulang. Untuk membuatnya, seluruh anggota memutuskan untuk menjalani karantina di Bali selama tujuh hari. Penulisan dan rekaman dilakukan di tiga tempat, yaitu Tanjung Benoa, studio Indra di Sanur, dan studio Trie di Batubulan Gianyar. Masa karantina itu menghasilkan delapan lagu, dan dinilai cukup efektif sampai-sampai mereka akan menjalani metode serupa untuk album berikutnya. "Ini akan kami rapatkan setelah ini juga," kata Indra dalam wawancara. "Mungkin akan bergeser sedikit ke Lombok, ha-ha-ha."

Single pertama "Aku Kamu Kita" dari Chapter One terdengar sangat khas Krakatau, imbang antara fusion dan pop yang membuatnya ramah untuk pendengar baru. Melodi yang menanjak dan tak biasa di ujung refrain seperti menandakan bahwa inilah Krakatau yang dikenal selalu menghadirkan lagu-lagu "sulit". "Cermin Hati" langsung dibuka dengan rangkaian melodi yang mengusik, seperti memang ditulis untuk vokalis sekaliber Trie. "Hanya Dapat Melihat" meneruskan gelora mereka soal menulis tentang kepedulian mereka akan alam dan lingkungan. Lagu instrumental "Moon Stone" menjadi bukti permainan ajaib dan menawan para personal Krakatau.

Lirik kebanyakan ditulis oleh Pra dan Trie, yang memang sedari dulu mendapat porsi itu. Pra ingat bahwa di era "80-an ia sering bolak-balik Jakarta-Bandung naik kereta api. Deru roda kereta di atas rel yang konstan kemudian keluar dalam bentuk kata-kata. Dari situ ia juga berkolaborasi dengan Trie.

"Di masa-masa awal Krakatau, Pra ini tukang bikin judul lagu instrumental," kenang Dwiki. Pra mengaku ia senang menulis dan gemar membaca puisi serta novel. Ia menyebut penulis favoritnya adalah Daisaku Ikeda. Ia juga berkata di album pertama ia banyak dibantu Mira Lesmana soal menulis lirik.

"Memang perlu waktu untuk mencari lirik bahasa Indonesia yang tidak vulgar, seperti "Aku cinta kamu"," kata Gilang. "Tantangan bagi kami adalah membuat bahsa Indonesia yang elegan tapi mudah dicerna." Pra menyetujui perkataan Gilang, dan menyebutkan, "Kami menghindar [dari] yang norak-norak. Bagaimana harus menyinggung tentang sesuatu tanpa membuat orang tersinggung. Yang sulit adalah kata-kata ini jangan sampai terdengar janggal. Seperti berbicara sehari-hari tapi disesuaikan dengan melodi. Menulis lirik selalu sulit. Lirik lahir dari kegelisahan, dan kalau tidak ditulis dia bisa hilang. Jadi [kami] harus rajin menulis."

Bagi Trie, apa yang ada di album Chapter One merupakan kue bersama. "Satu bawa gula, satu bawa tepung terigu, telur, masing-masing membawa materi mentahnya sendiri. Ketika sudah jadi, tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan bahwa itu kue saya. Nggak ada lagi yang bisa memisahkan gula dari kue yang sudah jadi. Semuanya menjadi satu nilai bersama," katanya.

"Untuk saya pribadi, ketika kami rekaman di Bali saya baru merasakan bahwa I"m serving my friends," lanjut Trie. Saat para personel bangun tidur, Trie membuatkan minum. Saat makan ia melayani dan kemudian mencuci piring. "Nilai human ini yang barangkali menjadi modal paling besar sebetulnya untuk Krakatau Reunion. Modal besar itulah yang kami bawa di dalam album Chapter One," terangnya.

Persoalan teknis adalah hal lain lagi, pekerjaan rumah bagi Trie di awalnya. "Dulu saya menyanyikan itu saat umur 18. Sekarang, setelah berlalu 30 tahun, saya harus menyanyi di kunci yang sama dengan tensi yang sama," ujarnya. Tapi ia merasakan sendiri bagaimana teman-teman di Krakatau memberinya dorongan yang diperlukan.

"Jujurnya, tidak ada lagu Krakatau yang mudah. Saya dibiasakan oleh teman-teman dari awal untuk selalu menaklukkan hal-hal semacam itu. Semuanya terjal, dengan tensi yang tinggi. Tapi karena saya suka menaklukkan yang susah-susah, maka memang seperti berjodoh. Seperti pendaki gunung, kalau belum sampai puncaknya bagaimana caranya saya harus cari jalan. Dan itu terjadi lagi setelah 25 tahun. Setelah selesai dari Krakatau sepanjang karier saya tidak pernah lagi menemukan tantangan seperti ini. Ketika balik lagi dengan Krakatau, saya harus mengejar lagi baris yang tinggi itu," jelas Trie.

Ini membuat ia mencari jawaban pertanyaannya sendiri, apakah ia bisa melakukannya.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 143 Maret 2017.

Editor's Pick

Add a Comment