10 Film Horor Internasional Terbaik 2016

Dari penyihir puritan sampai pembunuh berantai dan ikan hiu predator - pilihan kami untuk film-film horor paling menakutkan dan menyeramkan tahun ini

Salah satu adegan pada film 'The Witch'. (Universal Pictures)

Dalam hal teror yang tak tanggung-tanggung, sulit utuk mengalahkan fakta bahwa banyak orang terbangun pada 9 November lalu untuk menghadapi kenyataan bahwa mimpi buruk yang mereka alami bukan sebuah skenario imajiner.

Tapi bukan berarti film-film horor tidak dapat memberikan realitas yang sama mengerikannya walaupun sekarang dunia nyata tak kalah menakutkannya. Dari film-film mainstream yang tak disangka bagus sampai antologi "mumblegore" yang solid, studi karakter pembunuh berantai sampai hiu buas, cerita hantu Gothic sampai ketakutan puritan, film horor tampil menakutkan pada 2016. Kami memilih sepuluh film terbaik dari yang genre ini dapat tawarkan dalam 12 bulan belakangan - film-film yang masih membuat kepala pusing dan perut kami mual.

(Catatan: Green Room mempunyai elemen film horor tapi tidak serta merta menjadi film horor, lebih seperti thriller pengepungan yang hebat berisikan anak-anak skinhead dan senjata api. Hanya itulah alasan film ini tak ada dalam daftar.)

1) 'The Witch'

Pengubah bentuk, pembunuh bayi, predator hutan yang berkomune dengan sang Iblis - karakter utama dari dongeng perkampungan Puritan oleh Robert Eggers adalah penyihir wanita yang sangat jahat. Dan ketika monster ini mulai menancapkan kukunya pada sebuah keluarga New England di abad ke-17 yang dijauhi oleh tetangga mereka yang ultra-religius, rasanya tidak seperti katarsis pembalasan bagi dunia lama pemuja Alkitab dan lebih seperti serangan setan pada orang-orang yang mencoba menjadi baik dalam hidup dan memberi cinta di dalam dunia yang tak kenal ampun. Bintang Anya Taylor-Joy menjadi penerus tradisi 'final girls" yang dihuni oleh Jamie-Lee Curtis dan Heather Langenkamp; dikutuk oleh keluarganya untuk kriminalitas yang tak dilakukannya, ia tak diberikan pilihan kecuali menumpahkan banyak darah dan menjadi mimpi buruk Amerika yang aneh. Ini adalah horor dari lingkaran perlakuan kejam yang tak terhindarkan. Ini adalah horor di mana gagak mematuk tubuh-tubuh kaku dan kambing paling jahat dalam film mungkin bertanya pada para gadis muda, "Apakah kamu mau hidup dengan nikmat?" Ini adalah horor pada kemampuan terbaiknya. STC

2) 'Don't Breathe'

Remaja. Pembunuh psikopat. Rumah terkunci. Tambahkan kejutan gila pada akhir film, lalu aduk dengan baik dan sajikan bumbu pembantaian liberal. Tak ada yang dapat mengalahkan kemampuan pembuatan film dengan gaya lama yang baik, dan karya kedua dari Fede Alvarez (Evil Dead) menggunakan semua bakatnya dan kekhasan genre untuk meneror Anda dengan efisiensi yang tajam. Ketimbang memilih jump-scare murahan untuk penontonnya, ia lebih memilih untuk memberikan ancaman dengan halus - dan membiarkan penonton ketakutan sendiri dengan antisipasi yang menegangkan. Juga: selamat, Stephen Lang, yang masuk ke dalam kuil para penjahat horor-modern. Anda pantas mendapatkannya. CB

3) 'The Eyes of My Mother'

Panggilan untuk para monster: Dalam debut cantik dari penulis/sutradara/penyunting Nicolas Pesce, seorang gadis yang mudah dipengaruhi berubah menjadi pembunuh berantai yang menggelisahkan melalui serangkaian kejadian dan didikan aneh. Fransisca (diperankan pendatang baru Kika Magalhaes) adalah seorang perempuan muda penyendiri yang tinggal di rumah terkucilkan dan mencari teman main - dimulai dari orang yang membunuh ibunya dengan menyiksanya pelan-pelan di lumbungnya. Diceritakan dalam tiga bagian dan difillmkan dalam hitam putih yang lezat, studi karakter ini bisa disandingkan dengan Psycho dan The Texas Chainsaw Massacre dalam penyampaian penggambaran kehidupan sehari-hari iblis yang tinggal di dalam komunitas yang tenang. Pita suara terputus, mata ditarik keluar dari soket, tapi apa yang paling mengerikan adalah kebutuhan kita yang mendalam untuk menciptakan keluarga samawa, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan orang lain. TG

4) 'The Invitation'

Dalam sebuah acara makan malam yang formal di Hollywood Hills, seorang pria (Logan Marshall-Green) mulai percaya bahwa sang tuan rumah - mantan istrinya (Tammy Blanchard) dan suami barunya (Michiel Huisman) - punya agenda mencurigakan untuk para tamunya. Dengan lamban film yang menyindir budaya New Age Angeleno ini menyingkap dirinya melalui rangkaian permainan kecil yang sakit dan penyiksaan psikologis, masing-masing menghasilkan ketidaknyamanan kolektif dan paranoia. Di tahun di mana banyak film berbicara tentang perceraian orang tua yang menghasilkan kehilangan, sutradara Karyn Kusama (Girlfight) memberikan alegori tajam tentang kekuatan pengabaian dan penggunaan duka sebagai senjata. ST

5) '10 Cloverfield Lane'

Produser J.J. Abrams berhasil melakukan trik P.T. Barnum yang mustahil: Seperti yang dilakukan di film sebelumnya di tahun 2008, Cloverfield, dongeng tentang monster yang bersembunyi di luar dan dalam muncul tiba-tiba, diselimuti gembar-gembor misterius dengan nama yang seakan-akan siap jadi waralaba . Tapi bagi mereka yang mengharapkan invasi alien dengan kamera bergoyang yang dilakukan film sebelumnya malah disajikan bait-and-switch yang bagus. Film ini tetap menyajikan aura akhir dunia yang sama dalam kisah seorang paranoid (John Goodman) yang menahan dua orang asing (Mary Elizabeth Winstead dan John Gallagher Jr.) di bunker bawah tanahnya, menjaga mereka dari ancaman yang tidak diketahui. Tapi 10 Cloverfield Lane lebih memilih memainkan tensi dalam pertanyaan apakah dia memang gila atau tidak sebelum mencapai keputusan dengan empati. ST

6) 'I Am the Pretty Thing That Lives Inside the House'

Sedikit film baru yang dapat memberikan kenikmatan yang sama seperti film-film tentang rumah berhantu di masa lampau ketimbang sajian menyeramkan satu ini. Jauh dari sociopath ala Lecter yang dia mainkan di Luther, Ruth Wilson di sini berperan sebagai suster yang ditugaskan untuk menjaga seorang penulis horor yang kini pensiun (Paula Prentiss, dalam penampilan yang jarang) sampai ia wafat. Kematian datang merayap, tapi ketakutan datang sejak awal, ketika salah satu kreasi pasiennya keluar dari halaman novel. Rumah yang tidak dimiliki oleh salah seorang penghuninya - mereka 'menyewa' tempat itu, seperti juga kabut hitam yang hinggap di dinding-dinding. ST

7) 'Evolution'

Perempuan dewasa dan anak-anak belum cukup umur adalah beberapa warga di sebuah komunitas dekat pantai yang terkucil. Jadi apa yang terjadi ketika para anak muda mulai menua dan menjadi ancaman bagi keseimbangan yang terencana? Jawabannya adalah sesuatu yang berhubungan dengan pembedahan paksa, bintang laut dan ritual tengah malam yang misterius, tapi Lucile Hadzihalilovic tak tertarik untuk menyelesaikan misteri yang ia buat. Ia malah memilih untuk memfokuskan pada perumpaan yang tidak nyaman dan manipulasi aura untuk membuat kulitmu merinding. Sebuah arthouse body horror yang pantas ditonton. CB

8) 'Southbound'

Koleksi lima dongeng dari sisi tergelap ini - berpusat pada para karakter yang berjalan di tandusnya jalan tol Amerika - bukan hanya memberikan kesegaran dalam film tentang monster, teror kult-religi, fenomena supernatural, dunia medis dan thriller penyerbuan rumah. Film ini juga menentang kemungkinan dengan menghasilkan antologi yang tak seperti kebanyakan dan punya warna yang konsisten, lengkap dengan bantuan dari jagoan indie horor Larry Fessenden sebagai DJ radio. Disunting dengan cara yang baru, film horor yang memuaskan ini menggabungkan humor dan ketakutan dalam dosis yang sama, ditambah lagi penampilan yang baik dan bahkan scoring yang bagus. Tapi di segmen di mana seorang pria mesti menyelamatkan gadis yang ia tak sengaja tabrak menjadi salah satu adegan terbaik tahun ini. LK

9) 'The Shallows'

Sutradara asal Spanyol Jaume Collet-Serra (Orphan) mengadirkan sebuah horor di mana surga berubah menjadi sebuah tempat pertarungan untuk bertahan hidup. Seorang anak kuliah kedokteran yang tak lulus Nancy (diperankan dengan meyakinkan oleh Blake Lively) terbang ke Mexico dalam pencarian sebuah pulau rahasia yang pernah dikunjungi ibunya. Setelah sebuah sore magis yang diisi dengan berselancar, ia diserang oleh seekor hiu putih besar dan terdampar di lepas pantai sendirian, dengan luka di tubuhnya dan tanpa jalan keluar. Walaupun punya akhir yang cheesy, film ini tetap menyajikan ketegangan, predator yang menarik, perempuan melawan alam, belum lagi tampilan laut yang indah (kebanyakan blue-screen). LK

10) 'The Love Witch'

Dalam tampilan technicolor yang menakjubkan, seorang penyihir seksi (Samantha Robinson) membuat ramuan di mana dia bisa menjerat laki-laki dengan seks yang magis. Anna Biller membuat sebuah throw back dengan warna yang sempurna entah bagaimana berhasil menjadi sesuatu yang lebih dari picisan dan mengarahkan horor pagan dengan sensibilitas feminis modern. Sebagian pemujaan untuk Hammer dan sisanya reklamasi XX-rage, film subsersif ini bisa menyembunyikan kepintaran di balik gaya Grindhouse masa lalu oleh Grand Guignol. Dan akhir film yang hampir bisu membuat film ini makin lengkap. CB



Related

Most Viewed

  1. Seni Musik Keras di Rock In Borneo 2017
  2. Maliq & D’Essentials, The Sigit, Stars and Rabbit Siap Ramaikan Pizza e Birra Oktobeerfeast, Jakarta
  3. Film 'Turah' Dipilih untuk Mewakili Indonesia pada Oscars 2018
  4. Konferensi Musik Indonesia, Archipelago Festival, Siap Diselenggarakan Oktober Mendatang
  5. 10 Kolaborasi Seru yang Terjadi di Soundrenaline 2017

Editor's Pick

Add a Comment