Pandji: Antara Tur Dunia, Komedi Tunggal, dan Protes

Mengakhiri 'Juru Bicara World Tour' di 24 titik dan lima benua dengan gelegak tawa di Kota Kasablanka

Oleh
Pandji Pragiwaksono. Mohammad Zaki

"Sebenarnya nggak ada itu namanya radikalisme Islam atau radikalisme Kristen lah. Itu hanya penyebutan media aja. Yang ada itu orang radikal yang kebetulan Islam, atau kebetulan Kristen, Hindu. Jadi nggak ada itu radikalisme Islam. Islam itu menyerukan perdamaian kok. Semua agama itu mengajarkan perdamaian," celotehan komedian Pandji Pragiwaksono soal radikalisme agama itu pun sontak diganjar tepuk tangan sekitar 3.500 orang yang hadir di panggung terakhir Juru Bicara World Tour di Kota Kasablanka, Jakarta pada Sabtu (10/12) lalu.

Dalam celotehannya selama 2,5 jam di atas panggung The Kasablanka Hall, Pandji memang membawa tema-tema komedi yang serius, bahkan cenderung sensitif dan berpotensi memicu konflik. Tema-tema macam radikalisme, legalisasi ganja, legalisasi prostitusi, persoalan satwa, LGBT, penegakan HAM, rating televisi, ateisme, sampai sensor di pertelevisian, semuanya menjadi isu serius yang menjadi materi lelucon Pandji di 24 titik, lima benua di seluruh dunia. Saking serius dan sensitifnya, Pandji pun mengakui banyak pihak yang melakukan protes atas bahan-bahan leluconnya di atas panggung Juru Bicara World Tour ini.

"Seumur-umur bikin tur nggak ada yang sampai mau distop di tengah jalan, mau dilaporkan ke KPAI (Komisi Perlindungan Ank Indonesia), dan banyak lagi lah. Tapi nggak mungkin kayaknya kita mencoba mau bikin perubahan tanpa ada yang kegerahan," ungkap Pandji ketika Rolling Stone menemuinya di belakang panggung satu jam sebelum pertunjukan di mulai.

Protes-protes bernada sensitif itu dia dapatkan dari berbagai sumber. Mulai dari viral di Facebook, email, hingga pihak kepolisian yang ingin memberhentikan rombongan tur Pandji saat mereka singgah di Balikpapan akhir Oktober lalu.

"Ada Kapolres diundang untuk nonton, lalu (dia) tersinggung dengan beberapa jokes gue. Terus tadinya kami mau distop. Beruntung langsung dinego dengan EO (event organizer) nya. Duh, sulit," keluh Pandji yang malam itu kondisi suaranya mulai terdengar sengau akibat kelelahan akibat jadwal tur yang padat.

Juru Bicara World Tour sendiri dimulai pada 2 April 2016 di kota Shanghai, Tiongkok dan berakhir di Jakarta pada akhir pekan lalu. Ini adalah tur dunia komedi tunggal Pandji Pragiwaksono setelah dua tahun yang lalu menyelesaikan tur Mesakke Bangsaku di tujuh negara, empat benua.

Yang menjadikan ini berat dari tur sebelumnya, selain jumlah titik singgah yang bertambah, adalah umpan balik yang Pandji terima dari lelucon yang ia bawakan. Kurang lebih seperti yang ia gambarkan tadi: mulai dari protes di Facebook sampai tindakan penyetopan oleh kepolisian. Protes-protes tadi tidak semuanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri pun sempat ada yang kegerahan dengan materi lelucon Pandji soal radikalisme Islam.

"Waktu itu di Jerman, yang dipermasalahkan adalah soal Islam dan radikalisme. Kebetulan dia (yang protes) terganggu dengan bahasan itu. Dia menulis di Facebook dan kebetulan dia cukup berpengaruh dalam kalangan tertentu. Jadi viral lah akhirnya," jelas Pandji.

Konsep dari Juru Bicara World Tour memang berbeda dari konsep stand up comedy yang dia selalu bawakan. Jika biasanya Pandji banyak membawakan materi atas keresahan pribadinya, kini dia memosisikan diri sebagai juru bicara dari banyak pihak di Indonesia yang suara maupun protesnya jarang didengar.

Dalam membuat materi yang dibawakan dalam tur kali ini dia tidak sembarangan. Dia harus menghampiri satu persatu pihak-pihak yang suaranya jarang didengar, lalu melakukan riset selama hampir enam bulan lamanya untuk menjadikannya materi komedi tunggal (stand up comedy) yang layak dibawakan.

Sayangnya sejumlah isu segar yang terus berkembang selama sembilan bulan Pandji melakukan tur ini tak dimasukkan ke dalam materi.

"Karena buat gue, nggak gampang untuk sebuah kejadian bisa langsung masuk dalam materi gue. Yang sekarang aja nih, yang (akan) gue bawain itu ditulisnya enam bulan dari November 2015 sampai April 2016. Untungnya topik-topik yang ada di situ akan terjadi setiap tahun di dunia. Kayak radikalisme, pelanggaran HAM, masalah pembakaran hutan, sampai konten TV yang menyebalkan, permasalahan ini akan selalu terjadi tiap tahun," jelas aktor film Make Money ini.

Pun soal kontekstual yang berbeda-beda di tiap negara tempat Pandji mengadakan pertunjukan bukan menjadi masalah baginya. "Karena kan waktu gue tur, ada orang-orang setempat yang nonton. Beberapa orang bisa Bahasa Indonesia, beberapa nggak. Tapi ada yang nggak ngerti Bahasa Indonesia tapi tetap ketawa, kenapa? Karena kita mengalami hal yang sama. Radikalisme dia mengalami, konten TV jadi masalah semua orang," jelasnya lagi.

Setelah meyelesaikan dua setengah jam pertunjukan di atas panggung, Pandji memastikan malam itu adalah penampilan terakhirnya dalam setahun ke depan untuk sebuah tur komedi tunggal.

Menyelenggarakan dua kali tur dunia membuatnya ingin membagikan pengalaman tersebut kepada komika lainnya yang ingin mengadakan tur dunia.

"Rencananya tahun depan gue mau bantuin beberapa komika juga untuk tur ke luar negeri, nanti setelah selesai tur ini gue mau bantuin mereka, terutama soal sponsorship dan nyambungin ke panitia-panitia di luar negeri," ungkap Pandji.

Film adalah ambisi selanjutnya yang ingin dia kejar di tahun depan. Tidak hanya berperan sebagai aktor, tetapi juga menulis sebuah film adalah target selanjutnya yang harus dia kerjakan.

"Tapi benar, Raditya Dika, Ernest, Kemal (Pahlevi) yang bikin gue.. ck... gue tuh juga suka film dan gue seorang story teller. Terutama gue melihat Ernest, bagaimana dia bisa membuat film yang, bukan hanya bagus secara komersil tapi critically acclaimed ya, dapat banyak nominasi," imbuhnya.

"Untuk film pertama yang dia tulis terus bisa masuk nominasi, bisa bersaing dengan Gina S. Noer, Salman Aristo, itu kan... Oh, man! It sounds crazy! Dia bertarung di FFI lho. Untuk seseorang bisa deg-degan, gue menang nggak ya di FFI, its a privilege!" pungkas Pandji panjang lebar.

Editor's Pick

Add a Comment