Live Review: Rock in Celebes 2016

Oleh
Revenge the Fate saat tampil di Rock in Celebes 2016. Ifan Adhitya

Festival di Makassar ini punya penonton terliar. Mulai dari memanjat pohon sampai saling bertubrukan tanpa rasa sakit.

Tiga personel Rollfast sedang berada di depan barikade menyaksikan Stepforward menggilas panggung. Bertempat di lapangan parkir Trans Studio Makassar, band yang kembali meramaikan panggung ini menjadi salah satu aksi yang bermain di Rock in Celebes 2016. Bukannya fokus pada penampilan salah satu dedengkot hardcore di Indonesia tersebut, sesekali mereka juga terkesima menyaksikan penonton yang tak henti-hentinya berusaha naik ke barikade untuk lalu melakukan crowdsurfing.

Kebanyakan aksi crowdsurfing ini berakhir gagal karena orang-orang memilih untuk headbanging atau saling bertubrukan ketimbang mengangkat orang lain. Tapi justru kekuatan fisik anak-anak Makassar lah yang memukau, mereka seperti tak punya rasa lelah atau kenal rasa perih. Mereka langsung bangkit setiap kali terbanting keras. Satu orang malah naik ke atas pohon, lalu mengguncangnya seperti orang kesurupan, ketika terjatuh dari pohon setinggi dua meter dengan punggung menghantam tanah dia tak sempat meringis melainkan langsung berlari ke arah circle pit.

Mungkin berdansa secara brutal di sebuah festival musik rock adalah sesuatu yang biasa saja. Semuanya punya hal tersebut. Namun kegilaan tanpa beban ini lah yang menjadikan Rock in Celebes sebuah ajang yang asyik diikuti. Selama dua hari, warga Makassar juga massa dari sekitar Sulawesi memutuskan untuk bersenang-senang, meski berarti harus terkuras energinya.

Kalau banyak festival besar hanya ramai ketika headliner main. Tidak bagi penonton Rock in Celebes yang selalu ekspresif bahkan sedari penampil pertama. Mereka menunjukkan apresiasi berlebih kepada band-band asli Sulawesi seperti Freezer, The Gameover, Frontside sampai Dead of Destiny. Begitu pun band-band luar kota yang disambut dengan meriah seperti Revenge the Fate, Pee Wee Gaskins, The SIGIT, Kelompok Penerbang Roket sampai Seringai. Mereka juga tak peduli batas genre, sehabis moshing bersama Down For Live dan Navicula, mereka santai saja bergoyang mengikuti alunan nada reggae campur ska dari Shaggy Dog.

Selama dua hari, 20-21 November Rock In Celebes mengundang band dari berbagai belahan Indonesia. Suasana luar ruangan Makassar yang untungnya tidak hujan cukup membangun suasana yang menyenangkan. Lapangan parkir Trans Studio Makassar sebenarnya tidak terlalu besar namun cukup menampung sepuluh ribu penonton yang antusias.

Hari pertama dan hari kedua dimulai agak terlambat. Para band pembuka baru mulai main sore hari, tapi bukan karena kendala yang tidak diinginkan melainkan menunggu penonton. Band-band Makassar yang bertugas sebagai tuan rumah menyambut dengan lagu-lagu yang menghentak. Dengan dua panggung yaitu AMVibe Stage dan Go Ahead Stage, para penampil ini menjadi pemanasan yang pas.

Keterlambatan di awal acara sebenarnya agak mengganggu keasikan, karena banyak penampil di malam hari yang rela waktu set-nya terpotong. Tapi meskipun banyak penampil harus tampil singkat, produksi yang bagus membuat semuanya terlupakan. Selain itu pergantian antar kedua panggung yang mulus menjadi nilai plus. Seperti yang dibahas di awal tulisan, penonton asik menghabiskan tenaganya untuk berpesta. Tanpa jeda. Semua orang bernyanyi dan berdansa ketika The SIGIT menutup hari pertama, hal itu pun terjadi ketika Seringai didaulat sebagai penutup di hari kedua.

Ajang yang sudah berlangsung sejak 2010 ini memang merupakan festival yang penting di pulau Sulawesi. Di sini band-band dari Jawa bertemu dengan band-band dari Sulawesi. Penonton dari berbagai suku dipersilakan datang menghapus dinding perbedaan. Bercengkrama dengan teman atau menggila di depan panggung. Bebas saja. Ketika berakhir, rasanya seperti tak mau usai.

Sampai jumpa di Rock in Celebes tahun berikutnya!

Editor's Pick

Add a Comment